Indonesia di aku

13 Agu, 2009

Indonesia…

Kadang aku tidak habis pikir mengapa aku ada disini, di negara ini,,, bisa merasa sial, mengapa tidak aku lahir di Amerika saja, atau Negara kaya lainnya, dimana aku bisa merasakan glamor dan megahnya gemerlap lampu dimalam hari, merasakan sorotan dunia, mengekspos luas negeriku, setiap orang menggunakan bahasa negaraku, termasuk mendapatkan hasil yang banyak di google ketika mengetikan nama negaraku di mesin pencari itu.

Atau mengapa tidak saja aku lahir di Negara miskin semacam Zimbabwe, atau merasakan kerasnya Negara semacam irak, mungkin aku bisa menjadi pejuang disana, mungkin juga aku bisa tertindas tergilas terlibas oleh Negara macam Amerika, lalu membencinya dan mengebomnya, merasakan bagaimana negaraku diceriterakan oleh media sana, kali ini tentang naasnya.

Mungkin terlalu bodoh mempertanyakannya, di Indonesia ya di Indonesia saja, tak usah mikir keliling dunia, aku sedang tidak mau main monopoli, hanya ingin sedikit ber-kontemplasi. Lalu tiba-tiba aku menjadi dua, ada aku dan ada aku Lalu jika kutanya padaku,

bangga lu jadi warga di negeri Indonesiamu?

Aku menjawab bangga!

Naif! Takdir saja bisa kamu berkata,

Aku menjawab tidak!

Apa mau kau bangga? Gegana yang bekerja mencoba berkata bom dimana-mana?

Memang mungkin bom dimana-mana karena mereka tau ini surga dunia, mereka iri dan ingin mengebiri

Ah, naif! Bisa kau bangga sama orangnya yang di kursi sana yang tertawa gembira diatas luka mengaga negerinya?

Heh! Kata siapa mereka wakilku? Aku tak merasa, mereka yang hanya berbicara untuk perutnya, tak ada hubungannya dengan saya, pernah kau mendengar sejarah Indonesia terjajah? Sekarang mereka kembali, hanya mereka menjajah tidak dengan bendera 3 warna itu, tidak lagi bendera matahari, kali ini seperti kuda Trojan, kali ini kudanya mengunggang orang, sialnya mereka menggunakan bendera merah putih, jadi kita buta siapa mereka, benderanya saja sama. Sepertinya mereka juga menunggangi bendera-bendera lain yang ikut mengeruk kerut wajah kriput Negara ini dan membuatnya carut marut, bisa-bisanya emas dijual seharga kapas di barat sana dan dikuras habis. Atau bakul yang dijual ke negara lain lalu mereka membual merasa unggul, padahal mereka terpukul, memukul bakul sendiri.

Hahahaha, buka mata nyalakan kotak berkaca berantena, kamu bisa mengaca mereka, mereka yang berkata “aku saja membawa Indonesia!”, mereka berebut menuntut kursi urut satu, sambil menyikut, lalu dimana banggamu?

Ahahaha, kamu tertawa aku tertawa, jadi mereka berparodi, tidak kah kamu sadar, mereka kabaret, kaya burung perkutut ribut, padahal tidak bisa mengatasi perut! ya, mungkin tertawa bisa membuat sengsara menjadi bahagia, jadi tertawa saja…. Ahahahahaha….

Hanya pandainya anda bicara, apalagi mau kau bela? Extrimisnya? Frontalisnya?

Kau pendainya mencari perkara. Orang – orang tidak sabaran itu ingin menyelesaikan dengan caranya sendiri, aku tidak tau, niat mereka, tapi cara mereka salah, sok gagah padahal mereka gundah. Seharusnya energi mereka di lipat ganda dan berbalik marka kearah mereka teroris yang lebih sadis lebih bengis dengan dalih kapitalis, tidak dengan cara sadis, tapi lebih logis realistis jenius dan manis

Ah, aneh kau, seaneh Negara nyeleneh ini

Kau bilang aneh aku bilang unik, mana yang lebih unik dari suku beribu di pangku satu ibu? Atau Negara yang mampu tetap bertumpu di hampas krisis sadis yang katanya krisis ekonomi, kamu liat di Negara sana, mereka terlunta kita biasa. Suatu ketika om berceritera, Negara ini selayak truk, besar berjalan pelan tapi langkahnya tidak terhenti sekalipun pohon mati menghalangi, tidak seperti sedan sok beken berjalan kencang tertabrak terbang kena pembatas jalan.

Sok baik kau! Apa kau tidak tau lagi apa itu buruk? Buta kau?

Kau timpalkan sejuta bualan buruk, aku balas dengan semilyar kabar baik, Indonesia ini baik,

Banggamu wagu? Apa itu? Apanya malumu?

Banggaku karena aku, aku untuk indonesiaku, Malu-ku karena aku tau, karena aku tau maka aku malu, bukannya tidak punya malu, tapi malu aku karena aku tau dan malu aku buat aku maju, maju biar tidak malu

dan asal kamu tau, mengapa aku, kamu aku disini, karena kamu tau Indonesia ini lagi malu, kalau kamu malu, kembalikan Indonesia satu, yang tau yang bersatu. Simpan pikiran negatifmu ini jadi ilmu dan buat jadi positifmu, simpan energi dan taji mu untuk Indonesia nomer siji, kamu ada disini untuk membuat Indonesiamu indonesiaku jadi nomer satu

Diam kau, beliau umurnya tambah satu, simpan malumu, iya aku tau kamu malu karena tau, tapi aku tau kamu bangganya nomer satu. Untukku, ada satu yakin aku, ada satu adegan dalam hidupku seperti begini:

Kek, kek, Tanyanya kepadaku, coba kakek cerita dong, memang Indonesia pernah tidak nomer satu? kok bisa sih Indonesia pernah terpuruk, cerita dong kek,

Lalu aku menjawab: iya cucuku, Indonesia PERNAH (eng: was) miskin terpuruk, ketika itu………………………. (dan cerita berlanjut di cucu lucuku yang menikmati indonesiaku yang nomer satu)

Iklan

se-oplah koran…

05 Agu, 2008

siang ini matahari begitu teri, membakar kulitku… dunia semakin panas saja batinku. kulihat disana ada seoplah koran, sudah lama aku tidak membaca koran, pekerjaanku begitu menyita waktuku, sebutlah aku orang sibuk, sebutlah aku orang yang menghargai waktu. aku ingin tau, apa yang terjadi pada dunia sekarang ini, apa yang terjadi pada dunia ini… kuambil koran itu, kubukanya halaman demi halaman.

dahiku berkrenyit, selama itukah aku tidak membaca koran? beritanya  begitu berbeda dengan kenyataan yang aku alami, jauh dari berita buruk, tidak ulasan negatif terhadap issue lokal, semuanya begitu damai… halaman pertama kuamati, aiiih…! aku terkejut.. mata uang rupiah menguat sebulan ini? hampir sama dengan dollar Singapore? wow…! hebat sekali menteri ekonomi kita, hebat hebat… aku terkagum-kagum membaca artikel itu, puas kemudian aku membuka halaman selanjutnya.. wow! kita kembali merebut Piala Thomas & Uber!!! hebat sekali atlit kita, akhirnya kita berhasil merebut piala itu…! meski bukan atlit, aku rindu akan piala itu… ah, senang sekali membaca kabar ini.. hey hey…! ekspor beras kita meningkat? wah hebat sekali ini,  ekspor palawija juga?!?! wah  setengah tidak percaya aku membacanya.. bagus bagu… senang aku membacanya, wah!  ternyata koran itu menulis “seiring dengan meningkatnya expor beras, Swasembada pangan ditingkatkan” wah.. ibuku akan senang membaca berita ini… semua bagaikan mimpi  saja… ah, ternyata saya rabun informasi sudah begitu lama… bagaimana bisa aku ketinggalan semua informasi ini? ah.. bodoh sekali aku…

kubuka lagi halaman berikutnya, iklan dimana-mana, tapi kali ini terasa berbeda, iklan-iklan ini  tidak seperti biasanya, iklan-iklan yang biasa kubaca selalu menonjolkan kelebihan-nya sendiri, bahkan  tidak sedikit yang menjelekkan produk pesaingnya… tapi iklan ini cukup informatif, dan wajar tidak berlebihan. bagus-bagus.. kini mereka sadar akan etika Iklan, dipojokan halaman aku  lihat jadwal televisi, aih-aih.. kemana saluran-saluran televisi yang tidak berguna itu? kok tidak ada? apa sudah bangkrut? kok saluran televisinya yang tertera disini begitu sedikit? ah, peduli setan, kulihat jadwal susunan  acaranya… bagus bagus… meski saluran TV-nya sedikit, tapi muatannya bermanfaat, terbaca dari judulnya, sepertinya begitu edukatif, syukurlah departemen informasi sudah bisa menyaring tayangan TV di negara ini, kini hilang sudah saluran televisi bejat yang merusak moral bangsa ini, bagus kalau begitu…

hey hey…! siswa kita berprestasi di Luar Negeri sana, bahkan untuk masalah pendidikan aku baca, negeri luar lebih senang bellajar disini, mereka lebih memilih kuliah di negeri ini.. bagus bagus, sistem pendidikan kita lebih baik lagi, sektor bisnispun kubaca lebih baik, tidak seperti selama ini yang aku dengar, dikoran ini semuanya begitu berjalan dengan lancar, syukurlah.. negara ini menjadi lebih baik sekarang. hey! harga bahan bakar minyak kok turun sekarang? menjadi murah sekali… harga bahan pokok juga begitu, kok jadi murah sekali… wah, berita baik ini, keluargaku dirumah pasti senang membacaranya.. tapi-tapi tunggu… kemana berita itu? mana berita korupsi, berita pemerkosaan, berita  kriminal, biasanya tidak usah aku cari, berita itu muncul lebih dahulu menarik perhatian mataku untuk aku baca sebelum membaca berita lainnya, aku susah payah mencari baru ketemu satu? ah  sudahlah, sudah bagus banyak berita baik di koran ini, untuk apa habis pikir dengan berita buruk…

ah… seperti mimpi aku membaca oplah koran ini, puas aku membacanya, negara ini lebih baik ternyata, aku jadi menyesal selama ini rabun informasi… tak terasa banyak waktu aku habiskan untuk membaca se-oplah koran ini, hingga teriakan Jarwo, kakakku mengagetkanku

“Woy Jo…! ngapain kamu jongkok lama baca koran disitu?!?! Cepetan cari barang berharga di tumpukan sampah ini!! sekalian koran yang kamu baca itu, mungkin bisa dijual! dikilo-in!!” Jarwo mendekatiku dan berkata  lagi “heh! darimana kamu dapat koran lama ini? koran tahun 90-an masih kamu baca juga? sudah gila kamu yah!. lekas cari sampah-sampah yang masih bisa dijual, lalu lekas pulang, hari sudah sore ini, Ibu bisa marah kalau sampah yang kita pungut sedikit dan ga berharga”.

aku membaca dalam hati, seakan mengeja tanggal terbut koran tersebut “4 November 1993” sial! aku mengumpat dalam hati… kulipat koran itu rapih, kutaruh dalam tas yang kukaitkan dalam gerobak sampahku, aku berlalu mengikuti langkah Jarwo yang meninggalkanku, Koran itu tidak akan kujual, kusimpan sebagai kenang-kenangan, sebagai harapan agar negaraku kembali jaya, kembali ditakuti…

*apa yang lebih baik dari negara ini sekarang?


promosi negeri orang

02 Agu, 2008

saya bukan orang yang hobi ke mall, juga bukan orang yang belanja di Mall kecuali CareFour buat kulakan bahan2 DeZone..

cuman kemarin saya nyari game UNO, katanya di Lavender JavaMall ada yang jua, ya udah saya kesana, mampir juga ke Hypermart sekalian buat liat2 harga membandingkan dengan harga di Carefour, ternyata masih murah di carefour, hehehe…

keluar dari HyperMart, aku mau ke lantai atas ke toko aksesoris lavender, ditengah Hall JavaMall, tempat biasanya dijadikan display buat pameran mobil sampe komputer saya lihat ada stand besar bertuliskan diatasnya “Uniquely Singapore” mereka mempromosikan negara Singapore dan seperti apa standnya, disana mereka mendisplay maket kota singapore, mempamerkan daerah2 seperti orchard road dsb, mengiming-imingi pengunjung dengan kehingar bingaran Negeri Singapore, yang meramaikan stand itu bisa ditebak, orang2 borjuis, necis, dompet mereka hanya bersisi beberapa lembar cash namun puluhan Credit Card terselip di dompet mereka, atau diselipkan ke dompet khusus. orang2 kecil yang lewat mungkin akan mengira “wah, produk apa ini, Hanphone baru merek Singapore, Travel Agent, atau apa ini?”

promosi negeri orang

promosi negeri orang

yang menjaga stand tersebut orang Lokal, mungkin EO yang dibayar untuk mempersiapkan dan mengatur acara dan stand ini, aku tidak akan menuduh mereka penghianat negara, dan aku tidak meragukan nasionalisme mereka, anak bangsa yang mempromosikan keindahan negeri tetangganya, tidak… itu mungkin hanya mekansime Ekonomi, dimana ada peluang berkerja pada Pihak Pemerintah negara lain untuk mempromosikan negaranya.. tidak munafik, kalau saya yang ditawari jadi EO untuk membuat Stand mempromosikan Negara lain mungkin saya berpikir 2 kali untuk tidak menerima tawaran itu, meski jiwa nasionalis saya tentu tidak semudah itu berkata “ya”..

bagaimanapun saya menilai pemerintah kita kecolongan dalam hal ini, saya tidak menyalahkkan pemerintah, tidak, mungkin itu hanya konsekuensi dari kita yang memilih orang2 yang tidak mencintai negara ini untuk mengatur negara ini, atau mungkin itu hanya apesnya kita, karena tidak ada pilihan yang lebih baik.. balik lagi, Pemerintah kecolongan.. punya potensi wisata yang bagus kok tidak di promosikan, punya Kota Lama, area konservasi tata kota kolonial kok tidak dikembangkan, punya Lawang Sewun peninggalan kolonial kok dijadikan tempat uji nyali, punya Zamrud kok tidak di gosok dan dipromosikan..

hanya orang bodoh yang berani melepaskan barang bagus yang didapatnya, meski itu merampok, itulah alasan Belanda mempertahankan Negara ini mati-matian melebihi tanah asalnya, itulah mengapa Belanda tidak melepaskan Negara ini selama 350 tahun, 350 tahun… tidak terbayangkan, ada generasi dimana dia lahir dalam keadaan terjajah dan mati juga dalam keadaan terjajah.. Negara lain menyadari Keindahan Negara ini, Negara lain menginginkan Negaranya berada di posisi ini, dengan kondisi geografis dan kekayaan alam seindah ini, namun rupanya kita belum cukup mengerti untuk menyadari keindahan negara kita sendiri, kita belum cukup menang untuk membiarkan rakyat kita menikmati keindahan alam negara lain dibanding meng-eksplorasi keindahan negeri sendiri, belum cukup cerdik untuk melihat ini sebagai peluang untuk menghasilkan devisa negara..

Pemerintah Singapore juga tidak salah mempromosikan Negaranya, bukankah itu wajar bangga terhadap negeri sendiri, saking bangganya hingga berkoar2 ke negeri lain untuk mengumbar keindahan negerinya, untuk mampir sejenak barang menghabiskan 5000-10000 Dollar di Negara mereka dan meningkatkan sektor pariwisata negaranya, wajar bukan? tapi mungkin kita masih belum cukup bangga untuk mengumbar keindahan negeri kita, untuk mengajak orang menghadiri negeri ini… atau mungkin kita masih malu mengajak orang mampir ke negeri ini? seperti saya yang malu untuk mengajak teman ke kostan saya karena berantakan tidak karuan?

ada yang mau mampir ke Singapore? coba  baca promosi ini, mungkin tertarik:

sipo

sipo

kalau mau temen2 di Semarang mungkin bisa mampir ke JavaMall untuk melihat stand mereka, tertarik, dan menghabiskan uang disana…

ah… tidak papa.. memberi rezeki ke negeri orang itu juga pahala kan? meski kita masih punya banyak hutang.. tapi ah,, tidak papa… kita kan negara dermawan yang terus menyumbangkan kekayaan kita ke negeri lain tanpa kadang tidak memperhatikan kondisi negara sendiri…


merampok bangsa sendiri…

01 Agu, 2008

obrolan malam itu terasa sangat penting, kita seperti orang penting atau mungkin pening yang mencoba berpikir tentang perekonomian negara ini, dari pembicaraan tai sapi bullshit mengenai bisnis pulsa, eh, kok ndilalah merambah ke keuangan makro di negara ini:

teman: Den, bisnis apa ya yang enak di Indonesia ini? keputusan kita untuk invest di pulsa sudah tepat belum ya?

Denny: paling enak berbisnis dari apa yang kita sukai dan kita senang melakukannya mas

teman: ah itu kan kamu, yang terlalu idealis, kayak DeZone ini, seidealis namanya, kalo mau bisnis bener2 yang penting perputaran uangnya bisa lancar dan aman

Denny: hehehehe, pulsa sudah cukup bagus kok, asal dilakoni bener2 aja mas…

teman: bener2, semoga bisnis ini bisa lancar deh den, bisnis ini bisa meningkatkan perekonomian kita, dan juga meningkatkan perekonomian semarang dan juga Indonesia tho?

aku terdiam, meski hanya sebentar tapi cukup untuk menimbulkan sekelebat pikiran mengenai perekonomian Indonesia, akupun membalas, engga juga deh, kalo memang meningkatkan perekonomian Indonesia yang harus kita lakukan harusnya bisnis dalam sektor riil mas, karena kalo pulsa dan bahkan DeZone itu hanya bisnis non-riil, yang kita produksikan hanya berupa produk maya, tidak ada wujudnya, seperti DeZone, meski riilnya aku jual kopi tapi aku sebenernya jual suasana mas. bisnis pulsa juga begitu, kita hanya menjual jasa, kita tetap tidak menciptakan suatu hal yang riil.

Denny: dan kalau kita bicara soal perekonomian makro, untuk menyumbang pemasukan untuk Indonesia sejatinya produk kita harus dibeli sama luar negeri alias import, sehingga ada devisa yang masuk ke Indonesia. kalau produk kita dibeli sama orang2 kita juga berarti cashflow ekonomi negara kita hanya berjalan ditempat, tidak menghasilkan. jadi bisnis kita belum bisa menyumbang perekonomian Indonesia secara global mas…

rancu

rancu

teman:iya juga ya den, berarti kalo kita usaha bikin dealer motor, atau bikin toko handphone, sebenernya kita tidak menyumbang perekonomian Indonesia yah, malah merugikan negara..

Denny: secara tidak langsung mas, kalo kamu buka dealer Honda misalnya, meski kamu dapet selisih margin keuntungan dari nilai motor itu, tetep aja uangnya keluar Indonesia, ke perusahaan Honda, dan uangnya  ke Jepang, jadi kamu merampok bangsamu dan menyumbang devisa ke Jepang, dan kamu dapet margin dari hasil rampokanmu…

teman: hmmmm iya juga yah den…

ketika saya masih rajin kuliah, kalo tidak salah pada kuliah makro ekonomi dan  Perekonomian Indonesia, disana ada teori yang mengatakan: sebuah negara itu perekonomiannya dianggap seimbang apabila nilai export = import, logika yang cukup sederhana,

dengan adanya keseimbangan Ex-Im perputaran internasionalnya  berjalan seimbang, namun apa yang terjadi di Indonesia tidak begitu, nilai Import kita jauh lebih besar daripada nilai export kita, walhasil cashflow kita sangat berat sebelah, pemasukan negara kita lebih kecil dari pengeluaran masyarakat kita untuk membeil barang import. apabila ada aktifitas bisnis dalam negeri tanpa diimbangi dengan sumbangan devisa dari luar negeri, maka yang terjadi keuntungan yang kita terima adalah derita masyarakat lain, inilah yang aku sebut merampok bangsa sendiri yang sekarang sedang saya dan teman saya hendak lakukan. kenapa? karena uang yang kita terima berarti uang dari bangsa kita sendiri, yang hanya berpindah tangan, tanpa ada pemasukan dari luar negeri, dan yang ada, ketika kita membeli Laptop Acer, Mobil Toyota,  HP nokia, tas Eiger, uang yang kita keluarkan praktis masuk ke negara-negara produksi tersebut dan menjadi devisa buat negara mereka…

saya sangat setuju apabila kita harus mendukung produk dalam negeri! KURANGILAH PEMBELIAN PRODUK IMPORT KAWAN… apabila pembelian barang import dilakukan untuk melakukan produksi ulang untuk di export lagi itu masih membantu, tapi apabila pembelian barang import untuk kesenangan semata?

tapi apabila ada hikmah yang bisa ditarik dari sini, lihatlah kita, lihatlah produk  yang kita konsumsi sehari2, produk unilever, nestle, Bayer? lihatlah alat2 yang kita gunakan, Sony? Acer? Nokia? Aple? lihatlah yang kita kenakan sehari2, Levis? Adidas? Nike? Lacoste? lihatlah kendaraan kita, Toyota? Honda? Daihatsu? lihat fasilitas komunikasi kita, Indosat, Telkomsel, hutch? semuanya telah diakuisisi oleh asing.. lihatlah betapa miskinnya kita dan lihatlah apa yang bisa kita sumbang ke negara lain… kita sungguh bangsa yang dermawan 🙂


dulu sekolah, kini E-Learning

11 Jul, 2008

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar wikipedia, ID

seperti kutipan wikipedia diata, yaitu pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik. ada 3 kata yang ingin saya bahas lebih lanjut disini, interaksi, peserta didik, dan pendidik.

apabila kita kembali ke beberapa dekade kebelakang, 3 kata yang sebelumnya saya jelaskan adalah sangat sempit! sangat spesifik.. Interaksi dalam artian sempit ini adalah bertatap muka secara langsung, tidak hanya bertatap muka begitu saja namun juga ada sebuah sarana dari proses tatap muka tersebut, bisa kita katakan itu Sekolah, Universitas, Madrasah dan lainnya. kata Peserta didik dalam artian sempit ini adalah seseorang yang secara resmi ingin ikut dalam proses pembelajaran dan mendapatkan pelajaran, titel dari orang ini bisa kita sebut pelajar, mahasiswa, peserta, santri dan lainnya. terakhir, kata Pendidik dalam arti sempit ini adalah seseorang yang secara resmi menjadi petugas dan menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mendidik, menjalankan proses belajar dan juga dalam keadaan resmi atau formal, seseorang inilah yang biasa kita sebut sebagai Guru, Dosen, Pembicara, Mentor.

Secara umum semua proses pembelajaran dalam definisi sempit ini pengakuan-nya sangat sensitif terhadap jabatan, status, jarak & tempat. dalam arti proses pembelajaran akan dianggap apabila ada jabatan yang sesuai dan diakui secara resmi seperti Guru atau Dosen, status juga cukup mempengaruhi pandangan terhadap proses pembelajaran, contoh sederhana, orang akan melihat anak yang memiliki status Mahasiswa lebih pintar dibanding anak dengan status pelajar SD. dan terakhir, Jarak & tempat juga sangat sensitif terhadap pengakuan proses pembelajaran, orang akan mengakui sebuah pembelajaran apabila proses itu berada di tempat yang diakui sebagai tempat belajar, seperti Sekolah, Universitas, Akademi, Madrasah, dan Jarak? tentu saja pembelajaran yang diakui dalam definisi sempit itu juga menghendaki jarak yang sempit, yang memungkinkan terjadinya tatap muka secara langsung, sebut saja itu kelas, laboraturium dan lainnya

Namun Semua ini telah didobrak dengan informasi yang perkembangannya sangat revolusioner seperti yang pernah ditulis Peter F. Drucker dalam tulisan singkatnya yang berjudul “Beyond the Information Revolution” yang kutipannya adalah “Almost everybody is sure …that it is proceeding with unprecedented speed; and …that its effects will be more radical than anything that has gone before” dan ini memang yang terjadi sekarang ini. perkembangan informasi ini sangat didukung oleh perkembangan alat komunikasi yang luar biasa hanya dalam rentang waktu 1 dekade kebelakang. dari perkembangan tersebut  kita bisa membagi lagi dalam 2 bagian, yaitu jaringan komunikasi seperti akses internet, jaringan GSM & CDMA dan Sarana Komunikasi seperti telepon genggam, Laptop, PDA. 2 hal ini sangat membunuh jarak dan tempat dan merubah cara berinteraksi. mengapa? karena dengan jaringan komunikasi yang ada sekarang sangat global dan jangkauannya sangat luas dan selama orang berada dalam jaringan tersebut, dalam hitungan detik mereka bisa terhubung tanpa harus hadir disana dan berinteraksi secara langsung. sekali lagi karena orang bisa terhubung dimana saja dan kapan saja, maka ini juga bisa merubah cara kita berinteraksi, dari semula  kita harus bertatap langsung di suatu tempat kini bisa dimana saja. kemudian, jaringan komunikasi sekarang sudah sangat masal, sehingga hampir semua orang bisa memanfaatkan kelebihan yang luar biasa dari  jaringan ini, dan tidak diperlukan status dan jabatan tertentu untuk masuk kedalam jaringan komunikasi ini.

Apa jadinya jika keunggulan jaringan komunikasi ini diterapkan kedalam proses pembelajaran? hasilnya adalah E-Learning atau dalam bahasa Indonesianya adalah Pembelajaran elektronik. Pembelajaran Elektronik dalam jabarannya pada Wikipedia adalah:  “adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. Pembelajaran Elektronik ini memaksa pembentukan definisi yang jauh lebih luas dari 3 kita yang sebelumnya  saya jabarkan, yaitu interaksi, peserta didik, dan pendidik. dengan Pembelajaran Elektronik. Interaksi menjadi tidak harus bertatap  muka di tempat yang sama, Peserta didik bisa menjadi siapa saja dan tidak harus pelajar, dan pendidik bisa siapa saja, tidak  perlu  memiliki titel dosen atau guru. misalnya didalam aktifitas Blog, bisa kita jelaskan interaksi & tempatnya adalah wordpress.com, peserta didiknya  adalah komentator 😀 dan pendidiknya  adalah blogger (poster) itu sendiri. atau jika kita ingin mempelajari mengenai sesuatu, kita bisa peserta didik dengan dalam kampus wikipedia. mungkin juga kita ingin kuiah mengenai Teori Relativitas di YouTube seperi ini:

kuliah gratis di YouTube

Pembelajaran Elektronik ini sangat efisien. bagaimana tidak? Pembelajaran Elektronik ini sudah tentu tidak memerlukan biaya tempat, tidak memerlukan biaya transportasi untuk mencapai tempat fisik untuk proses pembelajaran, tidak memerlukan sumber fisik seperti buku, LKS yang berbiaya tinggi. kita bisa melakukannya dimana saja, kapan saja…

Negara Indonesia saya rasa mampu dan harus menerapkan pembelajaran elektronik ini apabila berniat mensejajarkan dirinya dengan Negara-Negara maju lainnya, kembali lagi saya tegaskan INDONESIA MAMPU dalam menjalankan proses E-Learning ini, sebagai contoh, fakta bahwa user Friendster Indonesia adalah teraktif ke-3 di Dunia dan orang Inonesia adalah urutan ke 2 dalam penggunaan Browser Opera, Hacker & Carder kita menjadi buronan, orang Indonesia juga menjadi 10 besar pengakses situs porno teraktif, hal ini menunjukan aktifitas dunia Internet yang luar biasa. perkembangan Informasi dan Komunikasi sudah pesat di Indonesua hanya kembali lagi ke pengguna itu  sendiri, karena Informasi komunikasi ini seperti pedang bermata dua, bisa digunakan untuk hal buruk dan hal baik.

Indonesia ke arah Pembelajaran Elektronik? Pertanyaannya bukan bisa apa tidak? tapi mau apa tidak?