seoplah koran

07 Sep, 2009

siang ini matahari begitu teri, membakar kulitku… dunia semakin panas saja batinku. kulihat disana ada seoplah koran, sudah lama aku tidak membaca koran, pekerjaanku begitu menyita waktuku, sebutlah aku orang sibuk, sebutlah aku orang yang menghargai waktu. aku ingin tau, apa yang terjadi pada dunia sekarang ini, apa yang terjadi pada dunia ini… kuambil koran itu, kubukanya halaman demi halaman.

dahiku berkrenyit, selama itukah aku tidak membaca koran? beritanya begitu berbeda dengan kenyataan yang aku alami, jauh dari berita buruk, tidak ulasan negatif terhadap issue lokal, semuanya begitu damai… halaman pertama kuamati, aiiih…! aku terkejut.. mata uang rupiah menguat sebulan ini? hampir sama dengan dollar Singapore? wow…! hebat sekali menteri ekonomi kita, hebat hebat… aku terkagum-kagum membaca artikel itu, puas kemudian aku membuka halaman selanjutnya.. wow! kita kembali merebut Piala Thomas & Uber!!! hebat sekali atlit kita, akhirnya kita berhasil merebut piala itu…! meski bukan atlit, aku rindu akan piala itu… ah, senang sekali membaca kabar ini.. hey hey…! ekspor beras kita meningkat? wah hebat sekali ini, ekspor palawija juga?!?! wah setengah tidak percaya aku membacanya.. bagus bagu… senang aku membacanya, wah! ternyata koran itu menulis “seiring dengan meningkatnya expor beras, Swasembada pangan ditingkatkan” wah.. ibuku akan senang membaca berita ini… semua bagaikan mimpi saja… ah, ternyata saya rabun informasi sudah begitu lama… bagaimana bisa aku ketinggalan semua informasi ini? ah.. bodoh sekali aku…

kubuka lagi halaman berikutnya, iklan dimana-mana, tapi kali ini terasa berbeda, iklan-iklan ini tidak seperti biasanya, iklan-iklan yang biasa kubaca selalu menonjolkan kelebihan-nya sendiri, bahkan tidak sedikit yang menjelekkan produk pesaingnya… tapi iklan ini cukup informatif, dan wajar tidak berlebihan. bagus-bagus.. kini mereka sadar akan etika Iklan, dipojokan halaman aku lihat jadwal televisi, aih-aih.. kemana saluran-saluran televisi yang tidak berguna itu? kok tidak ada? apa sudah bangkrut? kok saluran televisinya yang tertera disini begitu sedikit? ah, peduli setan, kulihat jadwal susunan acaranya… bagus bagus… meski saluran TV-nya sedikit, tapi muatannya bermanfaat, terbaca dari judulnya, sepertinya begitu edukatif, syukurlah departemen informasi sudah bisa menyaring tayangan TV di negara ini, kini hilang sudah saluran televisi bejat yang merusak moral bangsa ini, bagus kalau begitu…

hey hey…! siswa kita berprestasi di Luar Negeri sana, bahkan untuk masalah pendidikan aku baca, negeri luar lebih senang bellajar disini, mereka lebih memilih kuliah di negeri ini.. bagus bagus, sistem pendidikan kita lebih baik lagi, sektor bisnispun kubaca lebih baik, tidak seperti selama ini yang aku dengar, dikoran ini semuanya begitu berjalan dengan lancar, syukurlah.. negara ini menjadi lebih baik sekarang. hey! harga bahan bakar minyak kok turun sekarang? menjadi murah sekali… harga bahan pokok juga begitu, kok jadi murah sekali… wah, berita baik ini, keluargaku dirumah pasti senang membacaranya.. tapi-tapi tunggu… kemana berita itu? mana berita korupsi, berita pemerkosaan, berita kriminal, biasanya tidak usah aku cari, berita itu muncul lebih dahulu menarik perhatian mataku untuk aku baca sebelum membaca berita lainnya, aku susah payah mencari baru ketemu satu? ah sudahlah, sudah bagus banyak berita baik di koran ini, untuk apa habis pikir dengan berita buruk…

ah… seperti mimpi aku membaca oplah koran ini, puas aku membacanya, negara ini lebih baik ternyata, aku jadi menyesal selama ini rabun informasi… tak terasa banyak waktu aku habiskan untuk membaca se-oplah koran ini, hingga teriakan Jarwo, kakakku mengagetkanku

“Woy Jo…! ngapain kamu jongkok lama baca koran disitu?!?! Cepetan cari barang berharga di tumpukan sampah ini!! sekalian koran yang kamu baca itu, mungkin bisa dijual! dikilo-in!!” Jarwo mendekatiku dan berkata lagi “heh! darimana kamu dapat koran lama ini? koran tahun 90-an masih kamu baca juga? sudah gila kamu yah!. lekas cari sampah-sampah yang masih bisa dijual, lalu lekas pulang, hari sudah sore ini, Ibu bisa marah kalau sampah yang kita pungut sedikit dan ga berharga”.

aku membaca dalam hati, seakan mengeja tanggal terbut koran tersebut “4 November 1993″ sial! aku mengumpat dalam hati… kulipat koran itu rapih, kutaruh dalam tas yang kukaitkan dalam gerobak sampahku, aku berlalu mengikuti langkah Jarwo yang meninggalkanku, Koran itu tidak akan kujual, kusimpan sebagai kenang-kenangan, sebagai harapan agar negaraku kembali jaya, kembali ditakuti…

*apa yang lebih baik dari negara ini sekarang?


Indonesia di aku

13 Agu, 2009

Indonesia…

Kadang aku tidak habis pikir mengapa aku ada disini, di negara ini,,, bisa merasa sial, mengapa tidak aku lahir di Amerika saja, atau Negara kaya lainnya, dimana aku bisa merasakan glamor dan megahnya gemerlap lampu dimalam hari, merasakan sorotan dunia, mengekspos luas negeriku, setiap orang menggunakan bahasa negaraku, termasuk mendapatkan hasil yang banyak di google ketika mengetikan nama negaraku di mesin pencari itu.

Atau mengapa tidak saja aku lahir di Negara miskin semacam Zimbabwe, atau merasakan kerasnya Negara semacam irak, mungkin aku bisa menjadi pejuang disana, mungkin juga aku bisa tertindas tergilas terlibas oleh Negara macam Amerika, lalu membencinya dan mengebomnya, merasakan bagaimana negaraku diceriterakan oleh media sana, kali ini tentang naasnya.

Mungkin terlalu bodoh mempertanyakannya, di Indonesia ya di Indonesia saja, tak usah mikir keliling dunia, aku sedang tidak mau main monopoli, hanya ingin sedikit ber-kontemplasi. Lalu tiba-tiba aku menjadi dua, ada aku dan ada aku Lalu jika kutanya padaku,

bangga lu jadi warga di negeri Indonesiamu?

Aku menjawab bangga!

Naif! Takdir saja bisa kamu berkata,

Aku menjawab tidak!

Apa mau kau bangga? Gegana yang bekerja mencoba berkata bom dimana-mana?

Memang mungkin bom dimana-mana karena mereka tau ini surga dunia, mereka iri dan ingin mengebiri

Ah, naif! Bisa kau bangga sama orangnya yang di kursi sana yang tertawa gembira diatas luka mengaga negerinya?

Heh! Kata siapa mereka wakilku? Aku tak merasa, mereka yang hanya berbicara untuk perutnya, tak ada hubungannya dengan saya, pernah kau mendengar sejarah Indonesia terjajah? Sekarang mereka kembali, hanya mereka menjajah tidak dengan bendera 3 warna itu, tidak lagi bendera matahari, kali ini seperti kuda Trojan, kali ini kudanya mengunggang orang, sialnya mereka menggunakan bendera merah putih, jadi kita buta siapa mereka, benderanya saja sama. Sepertinya mereka juga menunggangi bendera-bendera lain yang ikut mengeruk kerut wajah kriput Negara ini dan membuatnya carut marut, bisa-bisanya emas dijual seharga kapas di barat sana dan dikuras habis. Atau bakul yang dijual ke negara lain lalu mereka membual merasa unggul, padahal mereka terpukul, memukul bakul sendiri.

Hahahaha, buka mata nyalakan kotak berkaca berantena, kamu bisa mengaca mereka, mereka yang berkata “aku saja membawa Indonesia!”, mereka berebut menuntut kursi urut satu, sambil menyikut, lalu dimana banggamu?

Ahahaha, kamu tertawa aku tertawa, jadi mereka berparodi, tidak kah kamu sadar, mereka kabaret, kaya burung perkutut ribut, padahal tidak bisa mengatasi perut! ya, mungkin tertawa bisa membuat sengsara menjadi bahagia, jadi tertawa saja…. Ahahahahaha….

Hanya pandainya anda bicara, apalagi mau kau bela? Extrimisnya? Frontalisnya?

Kau pendainya mencari perkara. Orang – orang tidak sabaran itu ingin menyelesaikan dengan caranya sendiri, aku tidak tau, niat mereka, tapi cara mereka salah, sok gagah padahal mereka gundah. Seharusnya energi mereka di lipat ganda dan berbalik marka kearah mereka teroris yang lebih sadis lebih bengis dengan dalih kapitalis, tidak dengan cara sadis, tapi lebih logis realistis jenius dan manis

Ah, aneh kau, seaneh Negara nyeleneh ini

Kau bilang aneh aku bilang unik, mana yang lebih unik dari suku beribu di pangku satu ibu? Atau Negara yang mampu tetap bertumpu di hampas krisis sadis yang katanya krisis ekonomi, kamu liat di Negara sana, mereka terlunta kita biasa. Suatu ketika om berceritera, Negara ini selayak truk, besar berjalan pelan tapi langkahnya tidak terhenti sekalipun pohon mati menghalangi, tidak seperti sedan sok beken berjalan kencang tertabrak terbang kena pembatas jalan.

Sok baik kau! Apa kau tidak tau lagi apa itu buruk? Buta kau?

Kau timpalkan sejuta bualan buruk, aku balas dengan semilyar kabar baik, Indonesia ini baik,

Banggamu wagu? Apa itu? Apanya malumu?

Banggaku karena aku, aku untuk indonesiaku, Malu-ku karena aku tau, karena aku tau maka aku malu, bukannya tidak punya malu, tapi malu aku karena aku tau dan malu aku buat aku maju, maju biar tidak malu

dan asal kamu tau, mengapa aku, kamu aku disini, karena kamu tau Indonesia ini lagi malu, kalau kamu malu, kembalikan Indonesia satu, yang tau yang bersatu. Simpan pikiran negatifmu ini jadi ilmu dan buat jadi positifmu, simpan energi dan taji mu untuk Indonesia nomer siji, kamu ada disini untuk membuat Indonesiamu indonesiaku jadi nomer satu

Diam kau, beliau umurnya tambah satu, simpan malumu, iya aku tau kamu malu karena tau, tapi aku tau kamu bangganya nomer satu. Untukku, ada satu yakin aku, ada satu adegan dalam hidupku seperti begini:

Kek, kek, Tanyanya kepadaku, coba kakek cerita dong, memang Indonesia pernah tidak nomer satu? kok bisa sih Indonesia pernah terpuruk, cerita dong kek,

Lalu aku menjawab: iya cucuku, Indonesia PERNAH (eng: was) miskin terpuruk, ketika itu………………………. (dan cerita berlanjut di cucu lucuku yang menikmati indonesiaku yang nomer satu)


dan akupun tertawa

05 Agu, 2009

aku membalas SMS-nya, dan menghiraukannya, karena tau pasti membutuhkan waktu untuk HP itu membunyikan nada dering yang berarti ada pesan masuk, kemudian aku tertawa.. menggila, bercanda, berkelakar, berkelakar seakan itu bukan aku, berkelakar berusaha melupakan siapa aku, apa bebanku, apa masalahku, apa pikiranku. tertawa menertawakan aku, aku dalam bentuk lain, aku dalam kata orang, kata orang yang yang mengatakan itu aku, aku yang terkadang tidak merasa seperti aku. kalo boleh bilang memang aku pegel dengan kebijaksanaan ini. aku sudah tidak bijaksana, persetan dengan bijaksana persetan dengan aku. aku tertawa, tertawa lepas, hal yang jarang aku lakukan. tertawa, tertawa, tertawa…

kemudian aku tersadar, ternyata hati juga bisa dibodohi, hati juga bisa bodoh, atau hatiku yang telah membodohi aku? ah, persetan…! aku tertawa, tertawa menggila, tertawa mengharap aku gila, namun ternyata aku mengharap aku waras… mengharap untuk tidak berharap lagi ternyata susah. seperti susahnya aku mengenali diriku, mengenali apa yang aku butuhkan. ah,,, persetan kataku lagi sembari tertawa.

mengenal diriku ternyata susah, seperti susahya apa maksud dari takdir dan siratan surat-Nya, terkadang lebih baik tidak meminta, karena aku jadi berharap, ah… harapan lagi pikirku, persetan dengan semuanya, aku sudah tidak perduli lagi, malam itu aku tidak perduli, tidak perduli semuanya, tidak perduli dengan diriku, tubuhpun ternyata bisa dibodohi, dibodohi seperti anak kecil yang dibego-begoin, tubuhku tidak sadar dia disakiti. diapun kadang tidak menolaknya, masa bodohlah dengan tubuhku, pikirku, aku tarik batang terakhir dalam pak itu, membakarnya dan menghisapnya, tubuhku merasakan nyaman meski sebenarnya dia disakiti… AHAHAHAHAHA.. tertawaku keluar lagi, tubuh bodoh! makiku… aku pun tidak perduli, men-tidak perdulikan lambungku yang mengemis protein pun ternyata mudah… pikiranku galau kataku, jiwaku lebih lapar dari kau hey lambung !, kataku. tembakaupun terisap, lambungku sejenak merasa nyaman, tubuh bodoh! makiku lagi… aku pun tertawa, tertawa mengharap bahagia

kemudian HP itu berbunyi, hati ini aku bungkam, aku sekap, aku sembunyikan, aku tidak akan membiarkannya bertindak lagi, cukup! kataku, kamu tidak berhak lagi bicara, sudah cukup kataku, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, apa yang kau butuhkan, aku tidak tau kamu membodohi aku atau aku yang membodohi kamu ujarku kepada hatiku. akupun membacanya dengan membacanya. jawaban yang terprediksi, diprediksi oleh otakku namun tidak diinginkan oleh hatiku, tapi, dia sudah aku sekap! jadi aman, kataku pada otakku! bacalah… aku membaca, dan tidak tau apa yang aku harus perbuat, apa yang harus aku katakan pada hatiku… ah, persetan dengan semuanya, semuanya bodoh dan bisa aku bodohi, meski aku tidak tau siapa membodohi siapa, aku tidak mau tau, akupun tidak tau lagi dan memilih untuk tertawa, tertawa mengharap bahagia..

aku balas pesan itu dengan singkat dan tidak tau lagi, karena semuanya aku tidak mau tau, aku tidak mau mengerti karena aku tidak mengerti dan aku tidak tau, jadi tidak susah, terasa gampang, terasa gamang namun,

ketidak mengertianku ini sungguh tidak dapat kumengerti, aku tidak mengerti sungguh, aku berharap untuk mengerti, meski disaat yang sama aku mengharap untuk tidak mengerti, mengharap untuk bodoh, Karena, itu jadi sakit ketika aku mengerti, sungguh aku merasa ingin bodoh dan tidak mengerti, karena dengan aku tidak mengerti maka aku tidak akan merasakan apa-apa… jika tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu susah, lebih baik aku bodoh saja dan tidak tau apa-apa, sehingga aku tidak akan apa-apa, dan aku bahagia, tawapun tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia.

Tuhan… kataku, aku kira aku cukup dulu, aku ingin istirahat sejenak, karena aku tidak mengerti, karena aku tidak tau… jika ini seninya mungkin aku menikmatinya, maka aku mencoba menikmatinya dengan tawa, tertawa mengharap bahagia, aku sudah cukup mencari tau dan mencari mengerti, aku pusing, aku punya banyak masalah Tuhan… aku pikir kau cukup tau semua itu, karena Engkau maha tau. maka untuk sementara, aku tidak mau tau dulu, aku tidak mau mengerti dulu, tiba-tiba aku merasa ingin bodoh, karena seperti kataku tadi, tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu tidak gampang, lebih baik aku bodoh saja dan tidak merasa apa-apa.

HPku kembali berbunyi lagi, aku membacanya dengan hati tersekap seperti tadi, ah… kali ini kawan, kawan yang mengajakku ke suatu tempat untuk tertawa, meski itu kurang baik untuk hatiku, tapi bisa membuat aku tertawa, tertawa mengharap bahagia, seperti aku bilang, hati ini bisa dibodohi, dan dia sudah terbodohi kataku sembari meng-iya-kan ajakan kawan itu, paling tidak aku bisa tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia..

aku ambil persedian silinder tembakau itu, rupanya benar yang mereka bilang, berjaga-jaga itu penting, aku merasakannya sekarang, aku menyimpan tembakau itu untuk saat-saat ini.. aku tarik satu batang tembakau itu dan berusaha membakarnya, tapi sial, korek terakhir telah dibawa kawan tempat aku tertawa barusan, dia sudah pulang… dan aku tidak mengerti bagaimana cara membakarnya, aku bingung, aku tidak tau, tapi kali ini aku tidak mau tidak tau, aku mau tau, aku mau mengerti bagaimana cara tembakau itu terbakar, seperti aku ingin hatiku terbakar hangus tak bersisa, aku tidak tau, aku sedang tidak bersahabat dengan hatiku, aku tidak bersahabat dengan semuanya pada akhirnya? mengapa? kamu tidak dengar kataku? aku tidak mau tau, tidak mau mengerti, atau aku ingin bodoh saja… hingga pada akhirnya aku menemukan kotak yang terdapat batang kayu berujung mesiu itu. kejadian yang cukup langka karena cukup susah mencari batang kayu berujung mesiu itu. itu pula lah yang membuat aku pada akhirnya tidak membakar tembakau itu dan tidak merusak tubuhku, tapi kali ini Tuhan berkehendak lain… dia berkehendak aku menemukan batang kayu berujung mesiu itu, aku mengambilnya, menyalakanya, membakar tembakau itu, dan kembali membodohi tubuh ini. toh dia tidak tau bahwa dia sedang dibodohi, mungkin badanku sudah tidak mau tau, dan tidak mau mengerti… tiba-tiba aku tertarik untuk belajar pada tubuhku, bagaimana caranya menjadi tidak mau tau dan tidak mau mengerti hai tubuh? dia tidak menjawab… mungkin karena dia bodoh… akupun tidak mau tau dan tidak mau perduli, aku menghisapnya saja tanpa pikir panjang…

seketika itu juga ketika aku sedang mencari tau, mencari mengerti, meski tidak aku mengerti, namun satu hal yang aku mengerti pada akhirnya,  aku mengerti tuhan masih sayang padaku, Dia membiarkan aku tertawa malam ini, Dia mengizinkan aku tertawa, tertawa mengharap bahagia. dan dia mengizinkan aku menghisap silinder tembakau ini dengan membiarkanku menemukan batang kayu berujung mesiu.

terimakasih Tuhan… aku tertawa malam ini


aku, dia, orang lain dan hatiku…

17 Jun, 2009

Ketika aku sayang dia dan aku cinta dia tapi aku tidak suka apa yang ada pada dirinya.. Egois? Atau aku tidak menerima dia apa adanya? Ketika kekurangan itu bersifat tangible, aku ga masalah, namun ini intangible, sesuatu yang mengakar, sifat, watak, yang mungkin, Banyak orang memang ga suka..

Ketika aku melihat apa yang tidak ada pada dirinya ada pada orang lain.. Ketika aku bersama orang lain tersebut.. orang lain itu bercerita dan dia menunjukan bahwa dia bercita-cita persis seperti apa yang ingin aku menjadi. Dia beride sama seperti ide seperti aku pikirkan.. Dia menunjukan sifat-sifat wanita yang mana sifat itu yang aku butuhkan… Lantas apakah aku menaruh hati padanya? Aku tertarik padanya? Secara normal dan secara logika harusnya aku menjawab iya, tapi kali ini tidak…

Ketika itu yang aku pikirkan adalah dia… Dan tiap kali dia menunjukan kelebihannya itu aku berandai melalui mata si orang lain tersebut, andaiku berangan, seandainya dia memiliki sifat orang lain itu, seandainya dia bisa berpola pikir seperti orang lain tersebut itu, seandainya orang lain itu berwujud dia, bukan aku menyayangi hanya fisik dia, namun bukan pula jika aku mengatakan aku senang dengan sifat dia. Aku tidak mengerti, mungkin yang aku sayangi adalah jiwanya…

Ketika hal ini seharusnya normal, aku akan menaruh harapan, harapan kepada si orang lain itu, harapan yang persis ketika orang lain itu berujar “den, kamu tuh harusnya nyari pendamping yang bisa mengatur hidupmu” dia berujar seakan dialah orang yang bisa membantuku menata hidup, dan memberikanku sepercik harapan, bahwa orang seperti itu ada, ada didepanmu sekarang ini… Ketika itu normal, aku memberi harapan pada si orang lain itu, harapan dimana aku bisa belajar banyak dari dia dan belajar banyak tentang hidup, yang saling mendukung dan saling menopang… yang saling tergantukng antara satu dan lainya…

Namun apa yang terjadi kali itu.. Aku menaruh harapan, bukan kepada si oranglain itu, bukan kepada orang yang senormalnya itu yang aku beri harapan, bukan! Tapi harapan dimana dia bisa menjadi orang lain itu. Harapan dimana dia bisa berkata-kata bertutur, berpikir dan be-ride seperti si orang lain itu.. Harapan dimana dia bisa menjadi si orang lain itu…

Ketika itu aku berpikir aku bisa menunggumu selamanya lebih sehari untuk melihatmu berubah… Ketika itu aku berpikir akan melakukan apa saja untuk dia menjadi si orang lain itu.. Aku berpikiran itu semua persis dimata si orang lain itu.. Ketika aku menatap mata si orang lain itu… ketika Aku berkelakar, aku lepas bercerita dengan si orang lain itu dengan bayang-bayang dia dibalik si orang lain itu.. Berharap bayangan itu menjelma menjadi sesuatu yang nyata dan terjadi.

Aku tidak normal…

Aku selalu punya alasan untuk tidak sakit hati, seberapapun eksplisitnya perlakuan yang dia beri kepadaku, pun tidak eksplisit, itu terasa nyata dibalik hati ini. Paling tidak aku merasakannya sehingga aku tau bahwa aku mengerti aku merasakannya, aku jujur dan aku tidak sedang membohongi diriku sendiri…

Alasan itu berkata, dia masih muda, masih belum siap berpola seperti itu, alasan itu berkata, dia memang bukan orang yang berpikir seperti itu, manusia diciptakan berbeda bukan? Alasan itu berkata, pengalaman dia belum cukup.. Alasan itu juga menuduhku, bahwa aku yang salah, bahwa aku yang seharusnya membuat dia lebih baik, bukan hanya diam saja melihatnya seperti ini.

Alasan itu terlalu banyak, aku bisa saja menciptanya beberapa lagi. Namun yang paling sering membuatku banyak tak beralasan adalah.. Alasan itu berkata, aku sayang padanya, sayang yang sepatutnya aku terima dia apa adanya, aku memaklumi semua kekurangannya, meski kadang logika ini sering berkilah, apa dia memaklumi kekuranganku? Apa dia menyayangku kembali? Apa dia mau perduli sama aku, apa iya perasaan kita sebanding, pun tidak, rela lah aku mengejar dia.. Melumatkan ambisiku dan cita citaku untuk dia? Logikaku berkata aku bodoh, tapi alasan itu berkata kamu sayang dia…
Aku sedang tidak mengenal siapa aku, karena aku tidak tau apa yang terjadi, apa yang sedang aku alami dan apa yang sebenarnya aku butuhkan. Sering logika ini berkata, dia bukan yang aku butuhkan, orang lain itu yang ada diadapanmu ini mungkin yang sebenarnya aku butuhkan, orang lain itu yang seharusnya aku sayangi, aku sayangi dan menyayangku kembali, yang aku sayangi dan kita sama-sama menyayangi cita-cita kita, yang aku sayangi dan membutuhkan aku, membutuhkan untuk aku sayangi, membutuhkan untuk ada di pundaknya selalu, membutuhkan seperti halnya aku membutuhkan dia

secara tertulis apabila aku bikin dua bagan dimana aku membandingkan antara dia dan orang lain itu, banyak alasan-alasan manfaat yang bisa aku tuliskan dalam daftar si orang lain itu, alasan-alasan itu tidak sebanyak alasan yang bisa aku tuliskan dalam daftar dia.. Tapi kalau boleh aku berikan bobot, aku berikan bobot 1-2 pada alasan alasan bermanfaat itu… Dan akan kuberikan bobot 1000 pada satu alasan yang juga aku berikan kepada dia, alasan itu adalah “sayang” dan sekejap, kembali dia yang memenangkan hati ini.. aku rasa ini bukan perkara kuantitas dan kualitas. Ini adalah perasaan…

Seperti aku bilang, aku sedang tidak mengenali diriku sendiri, aku sedang tidak mengerti apa yang dibutuhkan olehku, kebutuhan yang secara normal aku butuhkan ada di orang lain itu, kali ini yang aku butuhkan adalah dia, bukan orang lain itu, bukan pilihan secara yang jelas-jelas, secara eksplisit ada di alasan-alasan manfaat yang ada di orang lain itu…

Aku bingung bimbang
Yang ada membutuhkan dia, bukan orang lain itu, aku melihat dia di mata si orang lain itu, Aku membutuhkan sesuatu yang jelas tidak aku butuhkan, secara manfaat. Dan aku merasa tidak membutuhkan sesuatu yang jelas jelas aku butuhkan. Seketika aku merasa bodoh, merasa salah, merasa dungu, namun ini terasa benar, dan baik-baik saja…

Jadi salah aku? Salah hatiku? Salah perasaanku? Jika dicari yang salah, Salahkan mereka semua… Yang ku tau aku merasakannya, sehingga aku tau aku tidak membohingi diriku sendiri..

Apa yang aku harus lakukan ketika ada dia dan ada orang lain itu? haruskah aku memilih orang lain itu dan mencoba mengelabuhi rasa sayangku untuk kebutuhan jasmaniku? Atau aku membunuh jasmaniku dan memeberikan perasaanku? perasaan yang aku butuhkan? Semuanya tidak benar aku tau itu.. Tapi aku tidak mau abu-abu, aku tidak mau tidak memilih dan tidak menjadi orang..

Seperti yang aku bilang, aku tidak mengenali siapa aku sekarang…


arti sebuah waktu

28 Mei, 2009

ingin tau seberapa tidak berartinya waktu? tanyakan pada pemalas, buat dia sejam, sehari, sebulan, mungkin setahun tidak ada bedanya buat dia, yang dia tau, waktu itu hanya komoditas yang mudah dicari, sehingga, santai saja…

ingin tau betapa berharganya satu jam? tanyakan kepada seorang siswa yang sedang ujian, buat dia sejam itu adalah hasil yang menentukan kerja kerasnya dalam satu semester, dan dia tidak akan menyia-nyiakannya…

ingin tau betapa berharganya satu detik? tanyakan kepada pencetak rekor sprint, buat dia satu detik mungkin bisa mempengaruhi karirnya dalam ber-olah raga, dan dia akan mempertahankan selisih hingga ukuran detik tersebut,
atau tanyakan kepada orang yang baru saja lolos dari kecelakaan maut, perbedaan satu detik dalam menyikapi pergerakan kendaraan mungkin bisa berarti sebuah kehidupan untuk dia. dan dia akan mensyukuri hidup tiap detiknya…

namun terkadang tiap detik dan menit itu akan sangat berharga setelah kita melakukan kesalahan yang mungkin itu bisa kita anggap fatal. penyesalan memang alat paling berharga untuk menunjukan betapa berharganya arti sebuah kesempatan, sebuah momentum dan sebuah detiknya. waktu itu aku sangat menyesal melakukan kesalahan yang mungkin kecil namun fatal buat aku, disebuah persimpangan jalan, malam itu, sempat berkata dalam hati:

“tuhan, kembalikan waktuku 5 menit yang lalu, harusnya aku berpamitan dulu dengan beliau, bukan langsung pulang begitu saja setelah mengantarkannya, seperti pria yang tidak bertanggung jawab saja.”

tapi waktu itu tidak akan pernah kembali, hanya tersadar betapa pentingnya waktu, momentum dan kesempatan yang tidak akan pernah kembali untuk kedua-kalinya itu


masa lalu, kini, dan masa depan

25 Mei, 2009

ingin tau kisah terbaik sepanjang masa? yaitu masa lalumu, karena hanya kamu sendiri yang tau arti dari semua yang pernah kamu lakukan, dan semua yang terjadi di masa lalumu menjadikan dirimu sekarang, jangan menyesalinya karena kamu telah menulisnya dengan tinta keringatmu, tidak untuk dilupakan karena itulah yang terbaik, tapi dijadikan pelajaran

ingin tau hadiah terindah? yaitu hari ini, karena masih bisa membaca tulisan ini adalah berkah yang indah, dan hari inilah kamu diberikan kesempatan untuk berbuat, untuk berkontribusi dan untuk menjalani hidup ini, dalam bahasa inggris, kini disebut “present”

ingin tau kejutan terbaik? yaitu masa depan, karena kita tidak pernah tau apa yang terjadi besok, dan kamu tidak mau merusak kejutanmu sendiri kan? maka jangan khawatirkan masa depan, jalanilah hari ini dengan sebaiknya, dan biarkan esok menjadi kejutan yang tak terduga… SURPRISE…!!!!!

and always expect your surprise with excitement…


cinta, tai, dan cokelat

16 Mei, 2009

apa itu cinta? well… aku tak tau pasti, dulu waktu di bandung, sering aku berkelakar dengan teman pria-pria tak laku semasa itu “mending miceun-tai daripada mencintai” miceun itu artinya membuang.

mungkin karena ada unsur “tai” setelah “mencin”, sehingga rasa dari kata cinta yang kata orang-orang indah menjadi seperti tai, sudah cukup banyak bukti-bukti ke-tai an mencin, alah…! paling itu mah cuman loe aja den, well… berarti aku orang yang cukup beruntung bisa sial selama pengalaman gue bercinta, karena cinta dan mencinta terkadang terasa seperti tai. ya… mendingan micen tai daripada mencintai.

kalau ada kata orang yang berusaha bijak, mereka berkata, mencintai is about memberi, memberi dan memberi, tidak berharap kembali, kalo kata dia, “jangan terlalu banyak berharap, nanti sakit hati sendiri”, mungkin dia tidak mau saya sakit hati karena dia tidak mau saya berharap dari dia, agar dia selalu bebas tidak ada komitmen dan ya.. saya makan hati. ya.. paling tidak setingkat lebih baik daripada orang yang bermain-main hati, kata orang baik lagi, mencintai itu tulus dan ikhlas… apa itu ikhlas? kalau si raja berteori, ikhlas itu kayak lu boker, lu punya tai yang harus lu keluarin, setelah lu keluarin lu ikhlas… ga berharap tai itu kembali ke perutlu, dan lu segera melupakan tai itu…

ada orang yang iri dengan hubungan seseorang yang merasa dunia sudah milik berdua, orang sirik itu menjuluki pasangan itu “tai dan kentut”, tidak terpisahkan, cacian? atau karena cuman iri saja?, karena mereka bercinta dan kamu nelangsa? karena cinta? karena tidak pastian? katanya kamu eksak? katanya eksak itu pasti? dan sosial itu abstrak? cinta itu kan sosial? tapi jiwa ini menuntut eksakta dalam bercinta, eksakta yang berkata 1+1=2 bukan 1+1=0, bukan giving adalah hope, tapi giving adalah respon.

jadi cinta itu tai? perlu tersampaikan, tapi lu harus ikhlas, dan harus segera dilupakan? well… aku tidak se rigid itu, alasan “STD”-nya, saya juga manusia yang punya rasa..

jadi cinta itu tai? ga tau cukup mewakilkan atau tidak, tapi kebanyakan temen saya yang berhubungan dengan mencin, selalu berkata “tai” entah tai itu dibahasakan dengan mellow, dengan melankolis, dengan puitis, atau dengan jujurnya “TAI…!”, bahasa-bahasa tai itu tertulis menghiasi status YM, status Facebook, curhatan curhatan di sms, telpon, atau milist. bisa juga di blog, atau notes, seperti yang anda baca ini…

jadi cinta itu tai? lantas mengapa film-film itu bercerita tentang ke-tai an? mengapa novel, cerpen, dan puisi itu menulis tai? mengapa lagu-lagu itu menyanyikan ke-tai an? atau karena tai itu terasa indah karena cinta? karena lagu patah hati bisa menjadi indah, apa karena tai? mengapa mereka mengumbar ke-tai-tai-an yang ada dalam mencin? apa mereka tidak terpisahkan?

sialnya lagi, orang-orang pada bilang “kalo lu jatuh cinta mah, tai kotok juga bisa jadi cokelat” dan akhirnya bias lah semua ini, kabur lah semua ini, inikah tai rasa cokelat, atau tai yang kau ucapkan dengan lantang? “TAI..!!” atau mungkin tai itu cokelat? cuman karena patah hati, cokelat itu berasa seperti tai, bagaimana jika “kalo lu patah hati mah, cokelat juga bisa jadi tai?!?” cuman di luar, banyak orang yang berkata “TAI…!” dibanding berkata “COKELAT…!”

jadi cinta itu cokelat apa tai?