semarangku…

27 Nov, 2009

Kembali pada 5 tahun yang lalu, tahun 2004 awal, dimana aku akan memilih tempat untuk kuliah, aku lagi galau, trust me! Aku ga tau kenapa aku ga begitu bisa ingat apa aku pikirkan dan apa yang aku kerjakan, rasanya tiba-tiba sudah ada di Semarang, yang aku ingat ketika itu adalah ada pertanyaan “mau kuliah dimana?” dan aku menjawab “terserah asal yang berhubungan sama bisnis” memang cita-citaku dari SMP untuk menjadi seorang pengusaha.

Kembali ke 8 atau 9 tahun yang lalu, ketika itu aku masih di bandung. Beberapa kali kali keluarga kami kalau mudik biasanya ke JawaTengah, kalo ga di Semarang, Magelang, atau klaten. Ketika mudik selalu aku mengeluh, tidak pada magelang, karena ketika itu alam disana masih asik, tidak seperti sekarang dimana bekas rumah nenekku dulu yang depan kanan belakang adalah sawah, sekarang semuanya perumahan, tidak juga pada klaten, tapi pada semarang! Hahaha… karena panas! Karena kotanya aneh, ga asik!

Kembali lagi ke 5 tahun yang lalu, aku juga tidak habis pikir kenapa muncul nama UNDIP. Ketika itu cuekku luar biasa, dan “terserah lah mau dimana” dan sekarang tolong siapa saja ingatkan aku mengapa memilih UNDIP menejemen sebagain pilihan pertamaku! Dan aku keterima dan hadirlah aku di kota ini. sekali lagi tolong kembalikan ingatan saya mengapa saya stuck hingga selama ini di Semarang… karena seingat saya dulu saya ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini, semuanya terjadi begitu cepat, seperti baru benar-benar kemarin saya kuliah perdana di kampus UNDIP dan ketika itu saya semangat ingin menyelesaikannya dan cepat-cepat ingin pergi dari sini.

Lama berselang dari  5 tahun yang lalu aku mulai mengenal kota ini, mendapat teman, kemudian kehilangan teman, mendapat cinta kemudian kehilangan cinta, memupuk harapan kemudian mengguburnya dalam-dalam, membangun cita-cita kemudian tidak sengaja menyenggol dan meruntuhkannya. Dan bertanya, apa yang bisa aku banggakan dari kota ini? kebijaksanaan entah darimana akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu, dan menjadi bangga dan cinta sama semarang. Hingga menjawab pertanyaan dari seseorang “apa sih kak yang bisa aku banggakan dari kota semarang” semuanya begitu cepat terjadi hingga aku tidak tau mana yang benar.

Setelah 5 tahun yang lalu pun aku sering main ke kota lain, jogja, pulang ke bandung, kembali ke Surabaya ketika ayahku ditugaskan disana, dan pulang ke Malang ketika ayahku memutuskan untuk pensiun disana, pada akhirnya kembali ke Semarang hari pertama rasanya seperti neraka, sementara hari selanjutnya neraka itu menjadi biasa dan menjadi bumi lagi. Setelah itupun teman-teman dari berbagai kota itu main ke Semarang dan aku menjadi tour guide yang seolah akulah penghuni kota ini, ketika mereka bertanya “betah amat lu disini” berbagai jawaban counter bisa aku balas ke mereka. Tapi sebenarnya aku sendiri iri sama mereka, apa karena pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau”?

3 tahun dari 5 tahun yang lalu aku mendapati diriku pada perubahan puncaknya, kalau boleh nilai disitu puncak diriku, me at my very best? Tapi sialnya kata puncak itu membunuh karena setelah puncak kamu akan menemui lembah, dan aku jatuh ke lembah itu, hingga merangkak naik lagi dan tidak tau aku berada dimana sekarang, nasib itu tulisannya sejelek tulisanku sehingga aku tidak bisa membacanya dengan jelas mau dimana aku ini dibawa. Rasanya seperti ada yang lebih baik dan juga banyak yang lebih buruk. Komunitas demi komunitas aku temui, aku cengkrama-I aku transisikan, dan sepertinya aku telah mengenal mereka dengan baik, teman mana yang lama dan membekas dan yang mana yang masih ada disini. Mungkin karena aku mungkin karena mereka. Tapi aku merasa tau nama mereka dan mereka menyapaku, tapi kita tidak tau siapa itu siapa dan ada apanya apa.

5 tahun lalu aku tidak berpikir untuk bisa sekeras ini dalam membentuk hidup. Juga tidak berpikir untuk sedewasa ini dalam menjalaninya. Setelah 5 tahun lalu pun aku tidak menyangka pikiran ini terbuka selebar ini, dan mengetahui terlalu banyak hal, hingga hal yang tidak perlu dan tidak mau aku tau sekalipun, rasanya lebih baik tidak tau saja, atau bersikap “tidak mau tau” dan membodohi diri? Atau menjadi naïf saja sekalian? Tapi aku belajar, belajar dari kesalahan dan menyebutnya pengalaman, tapi, ada yang bilang bahwa pengalaman adalah pembenaran atas kesalahan kita? Jadi aku menjadi naïf sekarang? Atau sok bijak?

5 tahun semuanya berjalan begitu cepat, terlalu cepat hingga sepertinya aku tidak kemana-mana… atau aku yang tidak bersyukur? Demikian, rasanya aku tidak mau kembali ke 5 tahun yang lalu dan menampar tanganku atas pilihannya yang mencontreng universitas di kota Semarang dan memilih tempat yang akan menjadi neraka lain, karena kesalahan ini terlalu benar untuk disalahkan, kekacauan ini terlalu rapih untuk disebut kacau. Kekecewaan ini terlalu menyenangkan untuk dikecewakan. Dan 5 tahun dari 5 tahun yang lalu saya banyak belajar, bercermin, merenungi dari apa yang terjadi pada 5 tahun yang lalu, semoga ini bukan sebuah pembenaran.

Iklan

permintaan maaf itu…

20 Sep, 2009

semoga puluhan, ratusan sms, wall, comment, tweet yang berseliweran bukan hanya formalitas momentum saja… permintaan maaf ini akan terasa lebih indah meski diluar hari suci ini kalo lebih ikhlas dan tidak hanya sembarang minta maaf masal yang berjamaah

Entah berapa puluh sms yang masuk keluar dari hp ini dimalam itu, aku heran, betapa gampang orang2 ini mengikuti keseragaman dan momentum dari sesuatu, ya mungkin juga  budaya, rutinitas atau ritual? tiba-tiba ketulusan menjadi tandatanya, apa benar minta maafnya itu benaran? Atau cuma abal abalan mengikuti kebiasaan? Mungkin merasa keharusan karena momentum lebaran? Well… Hanya kamu dan tuhanmu yang tau.

Minta maaf dan memaafkan itu personal… Karena kesalahan kamu dan nas-nas selain kamu itu bersifat pribadi.. Tuhan juga tidak memaafkan kesalahanmu sampai sesama nas itu memaafkan kesalahannya…. Jadi apakah template sms indah bisa memaafkan kesalahan nas itu? Memaafkan dan meminta maaf itu perlu proses ikhlas… Dan kalau mau ‘tidak formal’ itu perlu proses… Orang berantem tonjok2an aja perlu waktu untuk meredam ego masing2 lalu kembali bersalaman… Ada juga cerita balad yang menyiratkan, paku yang melubangi kayu mungkin bisa diambil (pakunya) tapi luka
yang disebakan paku pada kayu tidak bisa secepat itu hilang, mungkin lobang itu akan selamanya disana…
Lalu bisakah dengan sms standart yang nadanya seragam bisa menghapus itu semua? Ya… Tingkat keikhlasan orang mungkin beda-beda ada saja mungkin orang yang suci mengikhlaskan secara instan kesalahan-kesalahan itu… Tapi mungkin banyak orang lain yang tidak sesuci itu… Dan saya akan menggolongkan diri kedalam orang-orang yang tidak suci itu… Saya berusaha relieve tidak naïve… Saya perlu waktu dalam ikhlas… Karena ternyata hati ini tidak setingkat itu… Pun saya selalu berdoa agar terus bisa ikhlas, terus bisa tulus… Bibir saya tentu selalu berucap maaf dan melempar maaf… Namun tingkat ke sinkronan dengan hati ini tidak semulus itu… Ucapan maaf dan penerimaan maaf itulah yang menjadi ikhtiar pertama dalam usaha pengikhlasan saya… Karena saya manusia yang menggolongkan diri biasa dalam ceritera ini jadi saya tidak bisa ‘ujug-ujug’ mengikhlaskan ceritera-ceritera yang diperbuat oleh nas-nas lain yang kurang bisa saya terima dengan baik, sehingga
menyisakan sesuatu yang tidak baik dalam hati yang belum tentu baik…

Mungkin peninggalan yang tidak baik yang ditinggalkan nas lain di hati ini tidak sebanding dengan peninggalan kotor saya di hati nas orang lain… Sehingga membuat saya tidak punya alasan untuk tidak menerima permintaan maaf dari nas lain karena secara matematis saya merasa lebih banyak mengotori dibanding dikotori…
Tapi kembali lagi… Tidak semuanya bisa ujug-ujug murni ikhlas, karena saya nas biasa… Hanya yang pasti saya berusaha ikhlas, dengan kadar terendah hingga kadar yang insyaAllah nyaris sempurna…


berseri dalam memori

18 Sep, 2009

aku sudah bilang “andaikan saja ini semudah menghapus hardisk” ternyata tidak semudah itu, sudah kubilang juga dalam pikirku “suatu yang indah ada bukan untuk dilupakan, tapi untuk dikenang”, kadang aku tak mengerti, ceritera seindah ini kok Ingin diingkari, ingin di tiri disimpan dikiri dan disisikan dalam hati. kadang satu keadaan yang lebih realistis memaksa kita untuk membuat suatu yang terasa benar menjadi tidak benar, dan membuat suatu yang nyaman seakan tidak nyaman, sehingga membisu,buta,tulikan suatu yang ingin dilakukan menjadi enggan dilakukan, terkadang gengsi berbicara menahan, atau si realistis mencoba ambil kendali, sehingga aplikasi lirik lagu grup musik balad ceria yang terdengar naif dan jujur polos itu seperti susah dilakukan, katanya “do what you wanna do, say what you wanna say don’t be afraid” so what’s scare you? Prestige!? Reality!? Kadang lucu, mem-faktai keadaan yang ambigu, sehingga kamu harus mengambil konklusi sendiri? Seperti anomali paradox dari penjual beras ketan yang kelaparan… Ya, sama anehnya dengan ahli komunikasi yang tak bisa berkata “mari”, akhirnya konklusi diri pun berinisiatif sendiri…

Hey, mengapa tak ada yang menegurku kalau aku berliku, kembali ke tadi, memori memang sisi dikenang, tidak untuk dibuang. Mungkin lebih mudah mencari jam genggam yang hilang digelang, meski tampak basi, aku bisa melihat seri yang sembunyi dan rapi kau simpan dalam hati, sehingga kau sembunyikan sisi seri dari sikapmu dan kau hilangkan jam penggirang itu, si perfeksionis geulis yang kehilangan kesempurnaanya, sama si pelupa ini yang suka lupa kalau dia pelupa kala mengingat cerita bahagia itu. Setiap jengkal kota banjir ini ada saja yang bisa kuceriterakan, memori indah memang untuk diceriterakan, beberapanya mungkin telah dan akan aku ceriterakan disini, dalam bentuk cerpen mungkin, tulisan acak mungkin, dan mungkin menjadi suatu yang terdengar indah untuk dibaca, biarlah terbaca abstrak karena naskah aslinya biar si mpunya blog dan Tuhannya yang paling mengerti. Seperti bajay, yang hanya mpunya bajay dan Tuhan yang tau kemana dia berliku…
Memori indah juga tidak bisa menjadi sampah, se sumpah serampah apapun kamu sumpahi itu akan tetap indah, kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri, kadang aku juga bingung, betapa hobinya orang-orang itu membohongi dan menyiksa diri mengingkari yang baik itu, seperti aku bingung, mengapa pula aku melakukannya…
Jadi ceritera indah akan tetap indah, yang membuatnya tidak indah adalah sudut pandangnya, dan sedikit realita, realita bisa membungkam kenyataan dihati, paradox memang tapi itu yang terjadi. Ceritera indah memang indah, meski terpentok realistik yang membuat harus kau ingkari keindahan itu dan kau simpan sendiri dalam hati, tapi dia tetap indah tak teringkari.. Sehingga di dalam hati ini, aku buat ceritera indah ini berseri-seri dan aku tokoh utama yang selalu menang, dan mungkin kubawa dalam mimpi, dan aku menari berseri di sisi mimpi ini.
Ceritera memori Indah selalu indah, jangan diingkari…

Hey, mengapa tak ada yang menegurku kalau aku berliku, kembali ke tadi, memori memang sisi dikenang, tidak untuk dibuang. Mungkin lebih mudah mencari jam genggam yang hilang digelang, meski tampak basi, aku bisa melihat seri yang sembunyi dan rapi kau simpan dalam hati, sehingga kau sembunyikan sisi seri dari sikapmu dan kau hilangkan jam penggirang itu, si perfeksionis geulis yang kehilangan kesempurnaanya, sama si pelupa ini yang suka lupa kalau dia pelupa kala mengingat cerita bahagia itu. Setiap jengkal kota banjir ini ada saja yang bisa kuceriterakan, memori indah memang untuk diceriterakan, beberapanya mungkin telah dan akan aku ceriterakan disini, dalam bentuk cerpen mungkin, tulisan acak mungkin, dan mungkin menjadi suatu yang terdengar indah untuk dibaca, biarlah terbaca abstrak karena naskah aslinya biar si mpunya blog dan Tuhannya yang paling mengerti. Seperti bajay, yang hanya mpunya bajay dan Tuhan yang tau kemana dia berliku…

Memori indah juga tidak bisa menjadi sampah, se sumpah serampah apapun kamu sumpahi itu akan tetap indah, kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri, kadang aku juga bingung, betapa hobinya orang-orang itu membohongi dan menyiksa diri mengingkari yang baik itu, seperti aku bingung, mengapa pula aku melakukannya…

Jadi ceritera indah akan tetap indah, yang membuatnya tidak indah adalah sudut pandangnya, dan sedikit realita, realita bisa membungkam kenyataan dihati, paradox memang tapi itu yang terjadi. Ceritera indah memang indah, meski terpentok realistik yang membuat harus kau ingkari keindahan itu dan kau simpan sendiri dalam hati, tapi dia tetap indah tak teringkari.. Sehingga di dalam hati ini, aku buat ceritera indah ini berseri-seri dan aku tokoh utama yang selalu menang, dan mungkin kubawa dalam mimpi, dan aku menari berseri di sisi mimpi ini.

Ceritera memori Indah selalu indah, jangan diingkari…


dan akupun tertawa

05 Agu, 2009

aku membalas SMS-nya, dan menghiraukannya, karena tau pasti membutuhkan waktu untuk HP itu membunyikan nada dering yang berarti ada pesan masuk, kemudian aku tertawa.. menggila, bercanda, berkelakar, berkelakar seakan itu bukan aku, berkelakar berusaha melupakan siapa aku, apa bebanku, apa masalahku, apa pikiranku. tertawa menertawakan aku, aku dalam bentuk lain, aku dalam kata orang, kata orang yang yang mengatakan itu aku, aku yang terkadang tidak merasa seperti aku. kalo boleh bilang memang aku pegel dengan kebijaksanaan ini. aku sudah tidak bijaksana, persetan dengan bijaksana persetan dengan aku. aku tertawa, tertawa lepas, hal yang jarang aku lakukan. tertawa, tertawa, tertawa…

kemudian aku tersadar, ternyata hati juga bisa dibodohi, hati juga bisa bodoh, atau hatiku yang telah membodohi aku? ah, persetan…! aku tertawa, tertawa menggila, tertawa mengharap aku gila, namun ternyata aku mengharap aku waras… mengharap untuk tidak berharap lagi ternyata susah. seperti susahnya aku mengenali diriku, mengenali apa yang aku butuhkan. ah,,, persetan kataku lagi sembari tertawa.

mengenal diriku ternyata susah, seperti susahya apa maksud dari takdir dan siratan surat-Nya, terkadang lebih baik tidak meminta, karena aku jadi berharap, ah… harapan lagi pikirku, persetan dengan semuanya, aku sudah tidak perduli lagi, malam itu aku tidak perduli, tidak perduli semuanya, tidak perduli dengan diriku, tubuhpun ternyata bisa dibodohi, dibodohi seperti anak kecil yang dibego-begoin, tubuhku tidak sadar dia disakiti. diapun kadang tidak menolaknya, masa bodohlah dengan tubuhku, pikirku, aku tarik batang terakhir dalam pak itu, membakarnya dan menghisapnya, tubuhku merasakan nyaman meski sebenarnya dia disakiti… AHAHAHAHAHA.. tertawaku keluar lagi, tubuh bodoh! makiku… aku pun tidak perduli, men-tidak perdulikan lambungku yang mengemis protein pun ternyata mudah… pikiranku galau kataku, jiwaku lebih lapar dari kau hey lambung !, kataku. tembakaupun terisap, lambungku sejenak merasa nyaman, tubuh bodoh! makiku lagi… aku pun tertawa, tertawa mengharap bahagia

kemudian HP itu berbunyi, hati ini aku bungkam, aku sekap, aku sembunyikan, aku tidak akan membiarkannya bertindak lagi, cukup! kataku, kamu tidak berhak lagi bicara, sudah cukup kataku, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, apa yang kau butuhkan, aku tidak tau kamu membodohi aku atau aku yang membodohi kamu ujarku kepada hatiku. akupun membacanya dengan membacanya. jawaban yang terprediksi, diprediksi oleh otakku namun tidak diinginkan oleh hatiku, tapi, dia sudah aku sekap! jadi aman, kataku pada otakku! bacalah… aku membaca, dan tidak tau apa yang aku harus perbuat, apa yang harus aku katakan pada hatiku… ah, persetan dengan semuanya, semuanya bodoh dan bisa aku bodohi, meski aku tidak tau siapa membodohi siapa, aku tidak mau tau, akupun tidak tau lagi dan memilih untuk tertawa, tertawa mengharap bahagia..

aku balas pesan itu dengan singkat dan tidak tau lagi, karena semuanya aku tidak mau tau, aku tidak mau mengerti karena aku tidak mengerti dan aku tidak tau, jadi tidak susah, terasa gampang, terasa gamang namun,

ketidak mengertianku ini sungguh tidak dapat kumengerti, aku tidak mengerti sungguh, aku berharap untuk mengerti, meski disaat yang sama aku mengharap untuk tidak mengerti, mengharap untuk bodoh, Karena, itu jadi sakit ketika aku mengerti, sungguh aku merasa ingin bodoh dan tidak mengerti, karena dengan aku tidak mengerti maka aku tidak akan merasakan apa-apa… jika tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu susah, lebih baik aku bodoh saja dan tidak tau apa-apa, sehingga aku tidak akan apa-apa, dan aku bahagia, tawapun tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia.

Tuhan… kataku, aku kira aku cukup dulu, aku ingin istirahat sejenak, karena aku tidak mengerti, karena aku tidak tau… jika ini seninya mungkin aku menikmatinya, maka aku mencoba menikmatinya dengan tawa, tertawa mengharap bahagia, aku sudah cukup mencari tau dan mencari mengerti, aku pusing, aku punya banyak masalah Tuhan… aku pikir kau cukup tau semua itu, karena Engkau maha tau. maka untuk sementara, aku tidak mau tau dulu, aku tidak mau mengerti dulu, tiba-tiba aku merasa ingin bodoh, karena seperti kataku tadi, tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu tidak gampang, lebih baik aku bodoh saja dan tidak merasa apa-apa.

HPku kembali berbunyi lagi, aku membacanya dengan hati tersekap seperti tadi, ah… kali ini kawan, kawan yang mengajakku ke suatu tempat untuk tertawa, meski itu kurang baik untuk hatiku, tapi bisa membuat aku tertawa, tertawa mengharap bahagia, seperti aku bilang, hati ini bisa dibodohi, dan dia sudah terbodohi kataku sembari meng-iya-kan ajakan kawan itu, paling tidak aku bisa tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia..

aku ambil persedian silinder tembakau itu, rupanya benar yang mereka bilang, berjaga-jaga itu penting, aku merasakannya sekarang, aku menyimpan tembakau itu untuk saat-saat ini.. aku tarik satu batang tembakau itu dan berusaha membakarnya, tapi sial, korek terakhir telah dibawa kawan tempat aku tertawa barusan, dia sudah pulang… dan aku tidak mengerti bagaimana cara membakarnya, aku bingung, aku tidak tau, tapi kali ini aku tidak mau tidak tau, aku mau tau, aku mau mengerti bagaimana cara tembakau itu terbakar, seperti aku ingin hatiku terbakar hangus tak bersisa, aku tidak tau, aku sedang tidak bersahabat dengan hatiku, aku tidak bersahabat dengan semuanya pada akhirnya? mengapa? kamu tidak dengar kataku? aku tidak mau tau, tidak mau mengerti, atau aku ingin bodoh saja… hingga pada akhirnya aku menemukan kotak yang terdapat batang kayu berujung mesiu itu. kejadian yang cukup langka karena cukup susah mencari batang kayu berujung mesiu itu. itu pula lah yang membuat aku pada akhirnya tidak membakar tembakau itu dan tidak merusak tubuhku, tapi kali ini Tuhan berkehendak lain… dia berkehendak aku menemukan batang kayu berujung mesiu itu, aku mengambilnya, menyalakanya, membakar tembakau itu, dan kembali membodohi tubuh ini. toh dia tidak tau bahwa dia sedang dibodohi, mungkin badanku sudah tidak mau tau, dan tidak mau mengerti… tiba-tiba aku tertarik untuk belajar pada tubuhku, bagaimana caranya menjadi tidak mau tau dan tidak mau mengerti hai tubuh? dia tidak menjawab… mungkin karena dia bodoh… akupun tidak mau tau dan tidak mau perduli, aku menghisapnya saja tanpa pikir panjang…

seketika itu juga ketika aku sedang mencari tau, mencari mengerti, meski tidak aku mengerti, namun satu hal yang aku mengerti pada akhirnya,  aku mengerti tuhan masih sayang padaku, Dia membiarkan aku tertawa malam ini, Dia mengizinkan aku tertawa, tertawa mengharap bahagia. dan dia mengizinkan aku menghisap silinder tembakau ini dengan membiarkanku menemukan batang kayu berujung mesiu.

terimakasih Tuhan… aku tertawa malam ini


i have no reason to…

21 Nov, 2008

one day i found myself bewailing, mourning on myself, whined on me…

think of lotta thing, problem, debt, my personal problem. the “why” always haunted me, and i found a thousand reason to complaing, to whining, something to mourned to.

feeling guilty, feeling unlucky, feeling all my effort has nothing to worth…

then suddenlly, a beggar came to me, begging for my money, begging for my pittyness… feeling disturbed i spontaneously reject her, she walked away and begging for the same thing to people around me. just a second after it, regret come to me for rejected her, it made me think…

 

Hey Den…! man up!, look at you! look at yourself!, look what you wear?, what you just dine?, what you drive?, where your study? what is on your pocket? what is in your wallet? look what you achive?

you have income! you have mother who you complained to, you have father who you can asked to, you have brother where you can shared joy to, you can sleep well, life properly!

 

then i found myself in great thanked

coz i have no reason to complain, to whine, to bewailing…


sebuah catatan tentang dunia…

15 Nov, 2008

terkadang aku sukga berpikir… betapa tidak sempurnanya dunia ini, betapa tidak adil dunia ini, betapa tidak? beberapa bulan lalu aku tanpa sengaja menabrak sebuah alphard silver, aku lupa platnya apa, kalo tidak salah “H 7 xx” dan menghasilkan goresan ringan tidak lebih dari 5 centi, kemudian dia meghukumku dengan menyita sim dan suratku sampe sekarang dan masih belum jelas tujuannya, pada hari yang sama aku memperbaiki dinamo starter mobilku, sudah dibongkar dan sudah susah payah diliat sama tukangnya ternyata hanya kerusakan ringan dan tidak jadi direparasi, tukangnya hanya bilang “ya udah ga usah dibayar” betapa kontras antara si kaya yang tidak ikhlas dan si miskin yang berhati ikhlas…

beberapa hari yang lalu aku menemui orang yang mempunyai rezeki melimpah, if i can say dia beruntung, karena dia tidak kerja keras tapi sangat menghasilkan, perangainya kurang baik, dan cenderung menyia-nyiakan hidup… dan kemarin malam aku beli tella kress dan beli 2 porsi tela goreng franchise itu, karena aku orang yang  suka ngobrol maka aku ajak ngobrol bapak itu, sekilas aku lihat laci uangnya yang terlihat belum mencapai 100rb, padahal sudah jam 9 malam, aku tau banget lah pendapatan segitu cukup menyedihkan, apalagi untuk usaha seperti bapak itu, tapi aku bisa merasakan betapa sabar dan kuatnya niat bapak itu, sungguh kontras dengan cerita sebelumnya…

 

pernah aku diskusi sama seorang teman mengenai dunia, mengenai kita, mengenai semuanya, memang kalau ditelaah lagi, dunia itu sungguh adil, sungguh sempurna dan sungguh luar biasa, keadilan dunia ini justru karena ke-tidak adilannya, kesempurnaan dunia ini malahan ada di tidak sempurnanya, ke-luar biasaan dunia ini terdapat pada ke-kacauannnya… seperti lukisan abstrak yang indah karena ketidak indahannya seperti musik jazz yang teratur karena ketidak teraturannya.

semakin semangat aku mencari Tuhan, semakin semangat aku mempelajari tujuanNya, karena keberadaanNya seperti ketiadaanNya… 

 

tolong jangan ditelan mentah-mentah tentang tulisanku ini…


Seorang Dosen & Kelasnya, Seorang Teman, ibu & anaknya

22 Sep, 2008

pada sebuah kuliah di Kampus saya, seorang dosen mengatakan hal yang mungkin kerap diucapkan dosen-dosen berkapasitas standart lainnya, kira-kira seperti ini:

kelas ini payah! bagaimana sih? masa teori ini tidak ada yang mengerti?, bukankah saya sudah sering menjelaskan ke kalian semua? -seraya menyalahkan mahasiswa yang diajarkannya-

 

ada perkataan bijak begini:

“sebenarnya ketika kita menunjuk ke sesuatu, mungkin jari telunjuk mengarah kedepan, tapi lebih banyak jari yang menunjuk ke anda sendiri”

kira-kira tafsirannya adalah sebelum menunjuk ke sesuatu (blame & execuse) coba koreksi diri sendiri dulu, untuk kasus seorang dosen & kelasnya itu kira-kira siapa yang salah? mungkin bisa dibandingkan dengan cerita ini:

suatu hari ada teman mengeluh, dia merasa sering dijauhi sama orang dan menanyakan kepadaku, apa & siapa yang salah? lantas dijawab: “yang  tau cuman kamu, coba perhatikan, jika hanya 1-2 orang menjauhimu, biarkan saja dia, mungkin dia iri sama kamu, tapi jika banyak orang yang menjauhimu, kira-kira siapa yang salah? kamu apa mereka?” sebuah pertanyaan yang bisa dimengerti tanpa dijawab…

lantas siapa yang salah dalam cerita dosen dan kelasnya tersebut? kalau tidak ada satupun mahasiswanya yang mengerti, -semoga bukan excuse saya sebagai mahasiswa- mungkin cara mengajarnya yang kurang baik, atau komunikasi beliau kurang dapat diterima sama mahasiswa kebanyakan, atau frekuensi beliau terlalu tinggi untuk dicerna pemikiran mahasiswa, kalau begini siapa yang sebaiknya beradaptasi? seluruh kelas pada satu dosen? atau seorang dosen yang mengadaptasi kepada suatu kelas? seorang dosen bijak tentu bisa mengerti jalan terbaik.

 

jadi ingat iklan tentang percakapan seorang ibu dan anaknya yang baru pulang sekolah: 

si anak: mah, tau gak ma, di kelas ade ada anak yang nakal mah, masa dia tuh cerewet, udah gitu comel lagi mah, udah gitu dia sering nakalin temen cewe lagi mah, kan nakal ya mah, udah gitu dia tuh curang mah, trus dia kalo ngomong suka dilebih-lebihin, suka menceritakan kejelekan orang lagi mah, padahal kan ngomongin kejelekan orang lain itu dosa kan mah ya? kok ada sih ma orang kayak dia? gak tahan ade sama dia…

ibunya hanya tersenyum kecil dan menjawab: ada orang kayak gitu, ini dia orangnya “seraya memberikan cermin ke si anak”