semarangku…

27 Nov, 2009

Kembali pada 5 tahun yang lalu, tahun 2004 awal, dimana aku akan memilih tempat untuk kuliah, aku lagi galau, trust me! Aku ga tau kenapa aku ga begitu bisa ingat apa aku pikirkan dan apa yang aku kerjakan, rasanya tiba-tiba sudah ada di Semarang, yang aku ingat ketika itu adalah ada pertanyaan “mau kuliah dimana?” dan aku menjawab “terserah asal yang berhubungan sama bisnis” memang cita-citaku dari SMP untuk menjadi seorang pengusaha.

Kembali ke 8 atau 9 tahun yang lalu, ketika itu aku masih di bandung. Beberapa kali kali keluarga kami kalau mudik biasanya ke JawaTengah, kalo ga di Semarang, Magelang, atau klaten. Ketika mudik selalu aku mengeluh, tidak pada magelang, karena ketika itu alam disana masih asik, tidak seperti sekarang dimana bekas rumah nenekku dulu yang depan kanan belakang adalah sawah, sekarang semuanya perumahan, tidak juga pada klaten, tapi pada semarang! Hahaha… karena panas! Karena kotanya aneh, ga asik!

Kembali lagi ke 5 tahun yang lalu, aku juga tidak habis pikir kenapa muncul nama UNDIP. Ketika itu cuekku luar biasa, dan “terserah lah mau dimana” dan sekarang tolong siapa saja ingatkan aku mengapa memilih UNDIP menejemen sebagain pilihan pertamaku! Dan aku keterima dan hadirlah aku di kota ini. sekali lagi tolong kembalikan ingatan saya mengapa saya stuck hingga selama ini di Semarang… karena seingat saya dulu saya ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini, semuanya terjadi begitu cepat, seperti baru benar-benar kemarin saya kuliah perdana di kampus UNDIP dan ketika itu saya semangat ingin menyelesaikannya dan cepat-cepat ingin pergi dari sini.

Lama berselang dari  5 tahun yang lalu aku mulai mengenal kota ini, mendapat teman, kemudian kehilangan teman, mendapat cinta kemudian kehilangan cinta, memupuk harapan kemudian mengguburnya dalam-dalam, membangun cita-cita kemudian tidak sengaja menyenggol dan meruntuhkannya. Dan bertanya, apa yang bisa aku banggakan dari kota ini? kebijaksanaan entah darimana akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu, dan menjadi bangga dan cinta sama semarang. Hingga menjawab pertanyaan dari seseorang “apa sih kak yang bisa aku banggakan dari kota semarang” semuanya begitu cepat terjadi hingga aku tidak tau mana yang benar.

Setelah 5 tahun yang lalu pun aku sering main ke kota lain, jogja, pulang ke bandung, kembali ke Surabaya ketika ayahku ditugaskan disana, dan pulang ke Malang ketika ayahku memutuskan untuk pensiun disana, pada akhirnya kembali ke Semarang hari pertama rasanya seperti neraka, sementara hari selanjutnya neraka itu menjadi biasa dan menjadi bumi lagi. Setelah itupun teman-teman dari berbagai kota itu main ke Semarang dan aku menjadi tour guide yang seolah akulah penghuni kota ini, ketika mereka bertanya “betah amat lu disini” berbagai jawaban counter bisa aku balas ke mereka. Tapi sebenarnya aku sendiri iri sama mereka, apa karena pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau”?

3 tahun dari 5 tahun yang lalu aku mendapati diriku pada perubahan puncaknya, kalau boleh nilai disitu puncak diriku, me at my very best? Tapi sialnya kata puncak itu membunuh karena setelah puncak kamu akan menemui lembah, dan aku jatuh ke lembah itu, hingga merangkak naik lagi dan tidak tau aku berada dimana sekarang, nasib itu tulisannya sejelek tulisanku sehingga aku tidak bisa membacanya dengan jelas mau dimana aku ini dibawa. Rasanya seperti ada yang lebih baik dan juga banyak yang lebih buruk. Komunitas demi komunitas aku temui, aku cengkrama-I aku transisikan, dan sepertinya aku telah mengenal mereka dengan baik, teman mana yang lama dan membekas dan yang mana yang masih ada disini. Mungkin karena aku mungkin karena mereka. Tapi aku merasa tau nama mereka dan mereka menyapaku, tapi kita tidak tau siapa itu siapa dan ada apanya apa.

5 tahun lalu aku tidak berpikir untuk bisa sekeras ini dalam membentuk hidup. Juga tidak berpikir untuk sedewasa ini dalam menjalaninya. Setelah 5 tahun lalu pun aku tidak menyangka pikiran ini terbuka selebar ini, dan mengetahui terlalu banyak hal, hingga hal yang tidak perlu dan tidak mau aku tau sekalipun, rasanya lebih baik tidak tau saja, atau bersikap “tidak mau tau” dan membodohi diri? Atau menjadi naïf saja sekalian? Tapi aku belajar, belajar dari kesalahan dan menyebutnya pengalaman, tapi, ada yang bilang bahwa pengalaman adalah pembenaran atas kesalahan kita? Jadi aku menjadi naïf sekarang? Atau sok bijak?

5 tahun semuanya berjalan begitu cepat, terlalu cepat hingga sepertinya aku tidak kemana-mana… atau aku yang tidak bersyukur? Demikian, rasanya aku tidak mau kembali ke 5 tahun yang lalu dan menampar tanganku atas pilihannya yang mencontreng universitas di kota Semarang dan memilih tempat yang akan menjadi neraka lain, karena kesalahan ini terlalu benar untuk disalahkan, kekacauan ini terlalu rapih untuk disebut kacau. Kekecewaan ini terlalu menyenangkan untuk dikecewakan. Dan 5 tahun dari 5 tahun yang lalu saya banyak belajar, bercermin, merenungi dari apa yang terjadi pada 5 tahun yang lalu, semoga ini bukan sebuah pembenaran.


The Batak

09 Okt, 2009

Pre-post

Ide untuk membuat tulisan-tulisan scrap di laptop dan PDA-ku ternyata merupakan ide brillian yang bsia mengalihkan pikiran-pikiran negatifku, sekarang aku punya kegiatan baru, ketika rasa jengah, rasa suntuk, rasa kecewa datang ke aku, sebelumnya yang kulakukan adalah menyalakan Ipod dan mendengarkan lagu Jazzm sekarang kegiatan itu ditambah dengan aku menulis jurnal pribadi, sangat personal, seperti menulis diary, namun kali ini agak berbeda, laptop aku buka, aplikasi word bajakan aku nyalakan, dan aku mulai menulis ocehan-ocehan dikepalaku apapun itu, seliar dan sebinal apapun itu, tidak tersusun, tidak ter gramatisasi, tidak terstruktur, dan persetan dengan Ejaan Yang Disempurnakan… yang kulakukan adalah menulis apa yang ada dikepala, tanpa dicerna, dadakan saja. Dan baru sehari ternyata aku sudah membuat 4 entry jurnal, total sekitar 15 halaman normal di file .doc A4 dengan font standart. Dan hal ini ternyata bisa memberi stimulasi rangsangan untuk menulis, hasilnya postingan ini. Alhamdulillah aku memilki PDA, jadi tanpa laptop aku bisa menuslis scrap journalku dimana saja,,, Aku sekarang mulai senang menulis lagi… here I come!

The Batakers…

Saya tinggal di Semarang ini adalah karena kebaikan dari teman-teman komunikasi undip yang membiarkan saya ikut bersemayam di sebuak kontrakan di daerah Kertanegara. Dan ditempat saya tinggal, tepat didepan Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestant) alhasil, kegiatan mereka bisa saya pantau tanpa halangan ketika saya nangkring di balkon kontrakan oreny itu, misaa pagi, misa malam, pernikahan, kegiatan keagamaan lainnya.

Saya tidak mau menulis banyak soal Batak dan budayanya, karena memang saya tidak tau dan tidak mau disebut sok tau, saya punya banyak teman batak, dari batak yang keras sesuai imej standart orang lain terhadap batak yang punya pribadi yang keras-keras, sampe batak yang lembut, malah kata orang-orang lebay, ahahaha. Namun satu hal yang saya perhatikan disini adalah. Betapa orang batak itu sangat cinta sama tanah mereka, mungkin mereka adalah orang-orang perantauan, dan sepengetahuan saya (CMIIM) orang batak, padang, medan, itu adalah suku-suku yang memang hobi merantau, dan vice versa, orang jawa pun kadang ada yang senang merantau ke tanah sumatera dan Kalimantan. Namun secara umum mereka yang saya sebut diatas (batak, padang, medan, cina) itu terkenal dengan perantaun mereka.

Sebelumnya, postingan ini no flaming yah, no sara, hanya mencoba mengangkat sisi terang dari salah satu suku dari keragaman negaran ini, I’m no batak anyway 😀

Oke, balik lagi, kegiatan di gereja depan kontrakan oreny ini sering banget anak muda genjreng-genjreng gitaran di pelataran gereja, dan mereka bernyanyi dengan lagu-lagu yang aku tidak mengerti artinya, cuman bisa saya tarik garis merahnya, seperti lagu-lagu yang membanggakan tanah batak, menceritakan tentang tanah batak, mungkin kalo mereka nyanyi make bahasa keren bisa gini kali yah “ALL HAIL BATAK” hehehe… satu hal yang aku perhatikan, mereka anak-anak muda, yang mungkin bisa memilih untuk bergaul di club atau di tempat nongkrong asik lainnya mungkin. Tapi mereka memilih bernyanyi dengan lagu tanah mereka, disini aku melihat ada pemelihataan budaya yang baik sekali, yang jarang aku lihat di suku-suku lainnya, ini yang kita kurang terapkan di budaya-budaya lainnya, saya tidak berusaha mempersaingkan antara satu dan lainnya. We are one!

Orang batak ini menjaga budaya-budaya tanah mereka, paling tidak, at least, dengan tidak malu mendendangkan lagu daerah mereka, tidak malu… kebanggan hal dan kegiatan yang kurang saya lihat di suku dan budaya lainnya, sekali lagi, no flaming, tidak bermaksud menunjukan siapa yang lebih baik dari siapa. Namun untuk mem-panuti sesuatu harus dengan sesuatu yang baik bukan? Bukan berarti lebih baik dari, namun hal baik ini sebaiknya ditiru… most of our people are not proud YET to speak ourself, termasuk saya mungkin dengan menggunakan bahasa inggris barusan :-p

kalau begini terang aja budaya kita banyak dicuri, mungkin kita ga akan sebangga ini menggunakan batik setelah batik ramai di klaim Negara tetangga dan terakhir2 ini ada hari batik nasional dan menjadi hari batik sedunia, semuanya jadi pada bangga. Yeah, kita semua kadang baru merasa memiliki setelah mulai merasa kehilangan, like I did with she L… but hell with that! Back to the topic. Langkah pertama untuk bangga adalah rasa memiliki, dan tidak hanya merasa, tapi aplikasinya juga, saya bicara soal idealism, jadinya saya sendiri juga belum sebegitunya. Masih di bab niat :-p

Orang-orang batak ini juga memiliki persaudaraan yang cukup kental, terlihat dari komunitas mereka dan kegiatan komunitas mereka di pelataran gereja yang sedang gue perhatikan sekarang. Meski tidak semua seperti itu, teman2 saya dikampus juga banyak yang batak dan banyak juga yang individualis, mungkin karena sudah bergaul di ibu kota? Atau sudah bercampur dengan budaya lainnya, bersama keragaman budaya Negara ini.

To the conclusion ada satu sisi terang yang harus kita pelajari dari orang-orang batak ini, yaitu rasa memiliki, aplikasi dari rasa memiliki itu sendiri, dan akhirnya kebanggaan atas budaya itu, dan otomatis kalau sudah seperti itu, rasa menjaga budaya itu sudah pasti terjadi, dan pencurian budaya mungkin tidak se-santer ini… mari memulai!


dan akupun tertawa

05 Agu, 2009

aku membalas SMS-nya, dan menghiraukannya, karena tau pasti membutuhkan waktu untuk HP itu membunyikan nada dering yang berarti ada pesan masuk, kemudian aku tertawa.. menggila, bercanda, berkelakar, berkelakar seakan itu bukan aku, berkelakar berusaha melupakan siapa aku, apa bebanku, apa masalahku, apa pikiranku. tertawa menertawakan aku, aku dalam bentuk lain, aku dalam kata orang, kata orang yang yang mengatakan itu aku, aku yang terkadang tidak merasa seperti aku. kalo boleh bilang memang aku pegel dengan kebijaksanaan ini. aku sudah tidak bijaksana, persetan dengan bijaksana persetan dengan aku. aku tertawa, tertawa lepas, hal yang jarang aku lakukan. tertawa, tertawa, tertawa…

kemudian aku tersadar, ternyata hati juga bisa dibodohi, hati juga bisa bodoh, atau hatiku yang telah membodohi aku? ah, persetan…! aku tertawa, tertawa menggila, tertawa mengharap aku gila, namun ternyata aku mengharap aku waras… mengharap untuk tidak berharap lagi ternyata susah. seperti susahnya aku mengenali diriku, mengenali apa yang aku butuhkan. ah,,, persetan kataku lagi sembari tertawa.

mengenal diriku ternyata susah, seperti susahya apa maksud dari takdir dan siratan surat-Nya, terkadang lebih baik tidak meminta, karena aku jadi berharap, ah… harapan lagi pikirku, persetan dengan semuanya, aku sudah tidak perduli lagi, malam itu aku tidak perduli, tidak perduli semuanya, tidak perduli dengan diriku, tubuhpun ternyata bisa dibodohi, dibodohi seperti anak kecil yang dibego-begoin, tubuhku tidak sadar dia disakiti. diapun kadang tidak menolaknya, masa bodohlah dengan tubuhku, pikirku, aku tarik batang terakhir dalam pak itu, membakarnya dan menghisapnya, tubuhku merasakan nyaman meski sebenarnya dia disakiti… AHAHAHAHAHA.. tertawaku keluar lagi, tubuh bodoh! makiku… aku pun tidak perduli, men-tidak perdulikan lambungku yang mengemis protein pun ternyata mudah… pikiranku galau kataku, jiwaku lebih lapar dari kau hey lambung !, kataku. tembakaupun terisap, lambungku sejenak merasa nyaman, tubuh bodoh! makiku lagi… aku pun tertawa, tertawa mengharap bahagia

kemudian HP itu berbunyi, hati ini aku bungkam, aku sekap, aku sembunyikan, aku tidak akan membiarkannya bertindak lagi, cukup! kataku, kamu tidak berhak lagi bicara, sudah cukup kataku, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, apa yang kau butuhkan, aku tidak tau kamu membodohi aku atau aku yang membodohi kamu ujarku kepada hatiku. akupun membacanya dengan membacanya. jawaban yang terprediksi, diprediksi oleh otakku namun tidak diinginkan oleh hatiku, tapi, dia sudah aku sekap! jadi aman, kataku pada otakku! bacalah… aku membaca, dan tidak tau apa yang aku harus perbuat, apa yang harus aku katakan pada hatiku… ah, persetan dengan semuanya, semuanya bodoh dan bisa aku bodohi, meski aku tidak tau siapa membodohi siapa, aku tidak mau tau, akupun tidak tau lagi dan memilih untuk tertawa, tertawa mengharap bahagia..

aku balas pesan itu dengan singkat dan tidak tau lagi, karena semuanya aku tidak mau tau, aku tidak mau mengerti karena aku tidak mengerti dan aku tidak tau, jadi tidak susah, terasa gampang, terasa gamang namun,

ketidak mengertianku ini sungguh tidak dapat kumengerti, aku tidak mengerti sungguh, aku berharap untuk mengerti, meski disaat yang sama aku mengharap untuk tidak mengerti, mengharap untuk bodoh, Karena, itu jadi sakit ketika aku mengerti, sungguh aku merasa ingin bodoh dan tidak mengerti, karena dengan aku tidak mengerti maka aku tidak akan merasakan apa-apa… jika tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu susah, lebih baik aku bodoh saja dan tidak tau apa-apa, sehingga aku tidak akan apa-apa, dan aku bahagia, tawapun tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia.

Tuhan… kataku, aku kira aku cukup dulu, aku ingin istirahat sejenak, karena aku tidak mengerti, karena aku tidak tau… jika ini seninya mungkin aku menikmatinya, maka aku mencoba menikmatinya dengan tawa, tertawa mengharap bahagia, aku sudah cukup mencari tau dan mencari mengerti, aku pusing, aku punya banyak masalah Tuhan… aku pikir kau cukup tau semua itu, karena Engkau maha tau. maka untuk sementara, aku tidak mau tau dulu, aku tidak mau mengerti dulu, tiba-tiba aku merasa ingin bodoh, karena seperti kataku tadi, tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu tidak gampang, lebih baik aku bodoh saja dan tidak merasa apa-apa.

HPku kembali berbunyi lagi, aku membacanya dengan hati tersekap seperti tadi, ah… kali ini kawan, kawan yang mengajakku ke suatu tempat untuk tertawa, meski itu kurang baik untuk hatiku, tapi bisa membuat aku tertawa, tertawa mengharap bahagia, seperti aku bilang, hati ini bisa dibodohi, dan dia sudah terbodohi kataku sembari meng-iya-kan ajakan kawan itu, paling tidak aku bisa tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia..

aku ambil persedian silinder tembakau itu, rupanya benar yang mereka bilang, berjaga-jaga itu penting, aku merasakannya sekarang, aku menyimpan tembakau itu untuk saat-saat ini.. aku tarik satu batang tembakau itu dan berusaha membakarnya, tapi sial, korek terakhir telah dibawa kawan tempat aku tertawa barusan, dia sudah pulang… dan aku tidak mengerti bagaimana cara membakarnya, aku bingung, aku tidak tau, tapi kali ini aku tidak mau tidak tau, aku mau tau, aku mau mengerti bagaimana cara tembakau itu terbakar, seperti aku ingin hatiku terbakar hangus tak bersisa, aku tidak tau, aku sedang tidak bersahabat dengan hatiku, aku tidak bersahabat dengan semuanya pada akhirnya? mengapa? kamu tidak dengar kataku? aku tidak mau tau, tidak mau mengerti, atau aku ingin bodoh saja… hingga pada akhirnya aku menemukan kotak yang terdapat batang kayu berujung mesiu itu. kejadian yang cukup langka karena cukup susah mencari batang kayu berujung mesiu itu. itu pula lah yang membuat aku pada akhirnya tidak membakar tembakau itu dan tidak merusak tubuhku, tapi kali ini Tuhan berkehendak lain… dia berkehendak aku menemukan batang kayu berujung mesiu itu, aku mengambilnya, menyalakanya, membakar tembakau itu, dan kembali membodohi tubuh ini. toh dia tidak tau bahwa dia sedang dibodohi, mungkin badanku sudah tidak mau tau, dan tidak mau mengerti… tiba-tiba aku tertarik untuk belajar pada tubuhku, bagaimana caranya menjadi tidak mau tau dan tidak mau mengerti hai tubuh? dia tidak menjawab… mungkin karena dia bodoh… akupun tidak mau tau dan tidak mau perduli, aku menghisapnya saja tanpa pikir panjang…

seketika itu juga ketika aku sedang mencari tau, mencari mengerti, meski tidak aku mengerti, namun satu hal yang aku mengerti pada akhirnya,  aku mengerti tuhan masih sayang padaku, Dia membiarkan aku tertawa malam ini, Dia mengizinkan aku tertawa, tertawa mengharap bahagia. dan dia mengizinkan aku menghisap silinder tembakau ini dengan membiarkanku menemukan batang kayu berujung mesiu.

terimakasih Tuhan… aku tertawa malam ini


masa lalu, kini, dan masa depan

25 Mei, 2009

ingin tau kisah terbaik sepanjang masa? yaitu masa lalumu, karena hanya kamu sendiri yang tau arti dari semua yang pernah kamu lakukan, dan semua yang terjadi di masa lalumu menjadikan dirimu sekarang, jangan menyesalinya karena kamu telah menulisnya dengan tinta keringatmu, tidak untuk dilupakan karena itulah yang terbaik, tapi dijadikan pelajaran

ingin tau hadiah terindah? yaitu hari ini, karena masih bisa membaca tulisan ini adalah berkah yang indah, dan hari inilah kamu diberikan kesempatan untuk berbuat, untuk berkontribusi dan untuk menjalani hidup ini, dalam bahasa inggris, kini disebut “present”

ingin tau kejutan terbaik? yaitu masa depan, karena kita tidak pernah tau apa yang terjadi besok, dan kamu tidak mau merusak kejutanmu sendiri kan? maka jangan khawatirkan masa depan, jalanilah hari ini dengan sebaiknya, dan biarkan esok menjadi kejutan yang tak terduga… SURPRISE…!!!!!

and always expect your surprise with excitement…