se-oplah koran…

05 Agu, 2008

siang ini matahari begitu teri, membakar kulitku… dunia semakin panas saja batinku. kulihat disana ada seoplah koran, sudah lama aku tidak membaca koran, pekerjaanku begitu menyita waktuku, sebutlah aku orang sibuk, sebutlah aku orang yang menghargai waktu. aku ingin tau, apa yang terjadi pada dunia sekarang ini, apa yang terjadi pada dunia ini… kuambil koran itu, kubukanya halaman demi halaman.

dahiku berkrenyit, selama itukah aku tidak membaca koran? beritanya  begitu berbeda dengan kenyataan yang aku alami, jauh dari berita buruk, tidak ulasan negatif terhadap issue lokal, semuanya begitu damai… halaman pertama kuamati, aiiih…! aku terkejut.. mata uang rupiah menguat sebulan ini? hampir sama dengan dollar Singapore? wow…! hebat sekali menteri ekonomi kita, hebat hebat… aku terkagum-kagum membaca artikel itu, puas kemudian aku membuka halaman selanjutnya.. wow! kita kembali merebut Piala Thomas & Uber!!! hebat sekali atlit kita, akhirnya kita berhasil merebut piala itu…! meski bukan atlit, aku rindu akan piala itu… ah, senang sekali membaca kabar ini.. hey hey…! ekspor beras kita meningkat? wah hebat sekali ini,  ekspor palawija juga?!?! wah  setengah tidak percaya aku membacanya.. bagus bagu… senang aku membacanya, wah!  ternyata koran itu menulis “seiring dengan meningkatnya expor beras, Swasembada pangan ditingkatkan” wah.. ibuku akan senang membaca berita ini… semua bagaikan mimpi  saja… ah, ternyata saya rabun informasi sudah begitu lama… bagaimana bisa aku ketinggalan semua informasi ini? ah.. bodoh sekali aku…

kubuka lagi halaman berikutnya, iklan dimana-mana, tapi kali ini terasa berbeda, iklan-iklan ini  tidak seperti biasanya, iklan-iklan yang biasa kubaca selalu menonjolkan kelebihan-nya sendiri, bahkan  tidak sedikit yang menjelekkan produk pesaingnya… tapi iklan ini cukup informatif, dan wajar tidak berlebihan. bagus-bagus.. kini mereka sadar akan etika Iklan, dipojokan halaman aku  lihat jadwal televisi, aih-aih.. kemana saluran-saluran televisi yang tidak berguna itu? kok tidak ada? apa sudah bangkrut? kok saluran televisinya yang tertera disini begitu sedikit? ah, peduli setan, kulihat jadwal susunan  acaranya… bagus bagus… meski saluran TV-nya sedikit, tapi muatannya bermanfaat, terbaca dari judulnya, sepertinya begitu edukatif, syukurlah departemen informasi sudah bisa menyaring tayangan TV di negara ini, kini hilang sudah saluran televisi bejat yang merusak moral bangsa ini, bagus kalau begitu…

hey hey…! siswa kita berprestasi di Luar Negeri sana, bahkan untuk masalah pendidikan aku baca, negeri luar lebih senang bellajar disini, mereka lebih memilih kuliah di negeri ini.. bagus bagus, sistem pendidikan kita lebih baik lagi, sektor bisnispun kubaca lebih baik, tidak seperti selama ini yang aku dengar, dikoran ini semuanya begitu berjalan dengan lancar, syukurlah.. negara ini menjadi lebih baik sekarang. hey! harga bahan bakar minyak kok turun sekarang? menjadi murah sekali… harga bahan pokok juga begitu, kok jadi murah sekali… wah, berita baik ini, keluargaku dirumah pasti senang membacaranya.. tapi-tapi tunggu… kemana berita itu? mana berita korupsi, berita pemerkosaan, berita  kriminal, biasanya tidak usah aku cari, berita itu muncul lebih dahulu menarik perhatian mataku untuk aku baca sebelum membaca berita lainnya, aku susah payah mencari baru ketemu satu? ah  sudahlah, sudah bagus banyak berita baik di koran ini, untuk apa habis pikir dengan berita buruk…

ah… seperti mimpi aku membaca oplah koran ini, puas aku membacanya, negara ini lebih baik ternyata, aku jadi menyesal selama ini rabun informasi… tak terasa banyak waktu aku habiskan untuk membaca se-oplah koran ini, hingga teriakan Jarwo, kakakku mengagetkanku

“Woy Jo…! ngapain kamu jongkok lama baca koran disitu?!?! Cepetan cari barang berharga di tumpukan sampah ini!! sekalian koran yang kamu baca itu, mungkin bisa dijual! dikilo-in!!” Jarwo mendekatiku dan berkata  lagi “heh! darimana kamu dapat koran lama ini? koran tahun 90-an masih kamu baca juga? sudah gila kamu yah!. lekas cari sampah-sampah yang masih bisa dijual, lalu lekas pulang, hari sudah sore ini, Ibu bisa marah kalau sampah yang kita pungut sedikit dan ga berharga”.

aku membaca dalam hati, seakan mengeja tanggal terbut koran tersebut “4 November 1993” sial! aku mengumpat dalam hati… kulipat koran itu rapih, kutaruh dalam tas yang kukaitkan dalam gerobak sampahku, aku berlalu mengikuti langkah Jarwo yang meninggalkanku, Koran itu tidak akan kujual, kusimpan sebagai kenang-kenangan, sebagai harapan agar negaraku kembali jaya, kembali ditakuti…

*apa yang lebih baik dari negara ini sekarang?