semarangku…

Kembali pada 5 tahun yang lalu, tahun 2004 awal, dimana aku akan memilih tempat untuk kuliah, aku lagi galau, trust me! Aku ga tau kenapa aku ga begitu bisa ingat apa aku pikirkan dan apa yang aku kerjakan, rasanya tiba-tiba sudah ada di Semarang, yang aku ingat ketika itu adalah ada pertanyaan “mau kuliah dimana?” dan aku menjawab “terserah asal yang berhubungan sama bisnis” memang cita-citaku dari SMP untuk menjadi seorang pengusaha.

Kembali ke 8 atau 9 tahun yang lalu, ketika itu aku masih di bandung. Beberapa kali kali keluarga kami kalau mudik biasanya ke JawaTengah, kalo ga di Semarang, Magelang, atau klaten. Ketika mudik selalu aku mengeluh, tidak pada magelang, karena ketika itu alam disana masih asik, tidak seperti sekarang dimana bekas rumah nenekku dulu yang depan kanan belakang adalah sawah, sekarang semuanya perumahan, tidak juga pada klaten, tapi pada semarang! Hahaha… karena panas! Karena kotanya aneh, ga asik!

Kembali lagi ke 5 tahun yang lalu, aku juga tidak habis pikir kenapa muncul nama UNDIP. Ketika itu cuekku luar biasa, dan “terserah lah mau dimana” dan sekarang tolong siapa saja ingatkan aku mengapa memilih UNDIP menejemen sebagain pilihan pertamaku! Dan aku keterima dan hadirlah aku di kota ini. sekali lagi tolong kembalikan ingatan saya mengapa saya stuck hingga selama ini di Semarang… karena seingat saya dulu saya ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini, semuanya terjadi begitu cepat, seperti baru benar-benar kemarin saya kuliah perdana di kampus UNDIP dan ketika itu saya semangat ingin menyelesaikannya dan cepat-cepat ingin pergi dari sini.

Lama berselang dari  5 tahun yang lalu aku mulai mengenal kota ini, mendapat teman, kemudian kehilangan teman, mendapat cinta kemudian kehilangan cinta, memupuk harapan kemudian mengguburnya dalam-dalam, membangun cita-cita kemudian tidak sengaja menyenggol dan meruntuhkannya. Dan bertanya, apa yang bisa aku banggakan dari kota ini? kebijaksanaan entah darimana akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu, dan menjadi bangga dan cinta sama semarang. Hingga menjawab pertanyaan dari seseorang “apa sih kak yang bisa aku banggakan dari kota semarang” semuanya begitu cepat terjadi hingga aku tidak tau mana yang benar.

Setelah 5 tahun yang lalu pun aku sering main ke kota lain, jogja, pulang ke bandung, kembali ke Surabaya ketika ayahku ditugaskan disana, dan pulang ke Malang ketika ayahku memutuskan untuk pensiun disana, pada akhirnya kembali ke Semarang hari pertama rasanya seperti neraka, sementara hari selanjutnya neraka itu menjadi biasa dan menjadi bumi lagi. Setelah itupun teman-teman dari berbagai kota itu main ke Semarang dan aku menjadi tour guide yang seolah akulah penghuni kota ini, ketika mereka bertanya “betah amat lu disini” berbagai jawaban counter bisa aku balas ke mereka. Tapi sebenarnya aku sendiri iri sama mereka, apa karena pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau”?

3 tahun dari 5 tahun yang lalu aku mendapati diriku pada perubahan puncaknya, kalau boleh nilai disitu puncak diriku, me at my very best? Tapi sialnya kata puncak itu membunuh karena setelah puncak kamu akan menemui lembah, dan aku jatuh ke lembah itu, hingga merangkak naik lagi dan tidak tau aku berada dimana sekarang, nasib itu tulisannya sejelek tulisanku sehingga aku tidak bisa membacanya dengan jelas mau dimana aku ini dibawa. Rasanya seperti ada yang lebih baik dan juga banyak yang lebih buruk. Komunitas demi komunitas aku temui, aku cengkrama-I aku transisikan, dan sepertinya aku telah mengenal mereka dengan baik, teman mana yang lama dan membekas dan yang mana yang masih ada disini. Mungkin karena aku mungkin karena mereka. Tapi aku merasa tau nama mereka dan mereka menyapaku, tapi kita tidak tau siapa itu siapa dan ada apanya apa.

5 tahun lalu aku tidak berpikir untuk bisa sekeras ini dalam membentuk hidup. Juga tidak berpikir untuk sedewasa ini dalam menjalaninya. Setelah 5 tahun lalu pun aku tidak menyangka pikiran ini terbuka selebar ini, dan mengetahui terlalu banyak hal, hingga hal yang tidak perlu dan tidak mau aku tau sekalipun, rasanya lebih baik tidak tau saja, atau bersikap “tidak mau tau” dan membodohi diri? Atau menjadi naïf saja sekalian? Tapi aku belajar, belajar dari kesalahan dan menyebutnya pengalaman, tapi, ada yang bilang bahwa pengalaman adalah pembenaran atas kesalahan kita? Jadi aku menjadi naïf sekarang? Atau sok bijak?

5 tahun semuanya berjalan begitu cepat, terlalu cepat hingga sepertinya aku tidak kemana-mana… atau aku yang tidak bersyukur? Demikian, rasanya aku tidak mau kembali ke 5 tahun yang lalu dan menampar tanganku atas pilihannya yang mencontreng universitas di kota Semarang dan memilih tempat yang akan menjadi neraka lain, karena kesalahan ini terlalu benar untuk disalahkan, kekacauan ini terlalu rapih untuk disebut kacau. Kekecewaan ini terlalu menyenangkan untuk dikecewakan. Dan 5 tahun dari 5 tahun yang lalu saya banyak belajar, bercermin, merenungi dari apa yang terjadi pada 5 tahun yang lalu, semoga ini bukan sebuah pembenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: