permintaan maaf itu…

semoga puluhan, ratusan sms, wall, comment, tweet yang berseliweran bukan hanya formalitas momentum saja… permintaan maaf ini akan terasa lebih indah meski diluar hari suci ini kalo lebih ikhlas dan tidak hanya sembarang minta maaf masal yang berjamaah

Entah berapa puluh sms yang masuk keluar dari hp ini dimalam itu, aku heran, betapa gampang orang2 ini mengikuti keseragaman dan momentum dari sesuatu, ya mungkin juga  budaya, rutinitas atau ritual? tiba-tiba ketulusan menjadi tandatanya, apa benar minta maafnya itu benaran? Atau cuma abal abalan mengikuti kebiasaan? Mungkin merasa keharusan karena momentum lebaran? Well… Hanya kamu dan tuhanmu yang tau.

Minta maaf dan memaafkan itu personal… Karena kesalahan kamu dan nas-nas selain kamu itu bersifat pribadi.. Tuhan juga tidak memaafkan kesalahanmu sampai sesama nas itu memaafkan kesalahannya…. Jadi apakah template sms indah bisa memaafkan kesalahan nas itu? Memaafkan dan meminta maaf itu perlu proses ikhlas… Dan kalau mau ‘tidak formal’ itu perlu proses… Orang berantem tonjok2an aja perlu waktu untuk meredam ego masing2 lalu kembali bersalaman… Ada juga cerita balad yang menyiratkan, paku yang melubangi kayu mungkin bisa diambil (pakunya) tapi luka
yang disebakan paku pada kayu tidak bisa secepat itu hilang, mungkin lobang itu akan selamanya disana…
Lalu bisakah dengan sms standart yang nadanya seragam bisa menghapus itu semua? Ya… Tingkat keikhlasan orang mungkin beda-beda ada saja mungkin orang yang suci mengikhlaskan secara instan kesalahan-kesalahan itu… Tapi mungkin banyak orang lain yang tidak sesuci itu… Dan saya akan menggolongkan diri kedalam orang-orang yang tidak suci itu… Saya berusaha relieve tidak naïve… Saya perlu waktu dalam ikhlas… Karena ternyata hati ini tidak setingkat itu… Pun saya selalu berdoa agar terus bisa ikhlas, terus bisa tulus… Bibir saya tentu selalu berucap maaf dan melempar maaf… Namun tingkat ke sinkronan dengan hati ini tidak semulus itu… Ucapan maaf dan penerimaan maaf itulah yang menjadi ikhtiar pertama dalam usaha pengikhlasan saya… Karena saya manusia yang menggolongkan diri biasa dalam ceritera ini jadi saya tidak bisa ‘ujug-ujug’ mengikhlaskan ceritera-ceritera yang diperbuat oleh nas-nas lain yang kurang bisa saya terima dengan baik, sehingga
menyisakan sesuatu yang tidak baik dalam hati yang belum tentu baik…

Mungkin peninggalan yang tidak baik yang ditinggalkan nas lain di hati ini tidak sebanding dengan peninggalan kotor saya di hati nas orang lain… Sehingga membuat saya tidak punya alasan untuk tidak menerima permintaan maaf dari nas lain karena secara matematis saya merasa lebih banyak mengotori dibanding dikotori…
Tapi kembali lagi… Tidak semuanya bisa ujug-ujug murni ikhlas, karena saya nas biasa… Hanya yang pasti saya berusaha ikhlas, dengan kadar terendah hingga kadar yang insyaAllah nyaris sempurna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: