dan akupun tertawa

aku membalas SMS-nya, dan menghiraukannya, karena tau pasti membutuhkan waktu untuk HP itu membunyikan nada dering yang berarti ada pesan masuk, kemudian aku tertawa.. menggila, bercanda, berkelakar, berkelakar seakan itu bukan aku, berkelakar berusaha melupakan siapa aku, apa bebanku, apa masalahku, apa pikiranku. tertawa menertawakan aku, aku dalam bentuk lain, aku dalam kata orang, kata orang yang yang mengatakan itu aku, aku yang terkadang tidak merasa seperti aku. kalo boleh bilang memang aku pegel dengan kebijaksanaan ini. aku sudah tidak bijaksana, persetan dengan bijaksana persetan dengan aku. aku tertawa, tertawa lepas, hal yang jarang aku lakukan. tertawa, tertawa, tertawa…

kemudian aku tersadar, ternyata hati juga bisa dibodohi, hati juga bisa bodoh, atau hatiku yang telah membodohi aku? ah, persetan…! aku tertawa, tertawa menggila, tertawa mengharap aku gila, namun ternyata aku mengharap aku waras… mengharap untuk tidak berharap lagi ternyata susah. seperti susahnya aku mengenali diriku, mengenali apa yang aku butuhkan. ah,,, persetan kataku lagi sembari tertawa.

mengenal diriku ternyata susah, seperti susahya apa maksud dari takdir dan siratan surat-Nya, terkadang lebih baik tidak meminta, karena aku jadi berharap, ah… harapan lagi pikirku, persetan dengan semuanya, aku sudah tidak perduli lagi, malam itu aku tidak perduli, tidak perduli semuanya, tidak perduli dengan diriku, tubuhpun ternyata bisa dibodohi, dibodohi seperti anak kecil yang dibego-begoin, tubuhku tidak sadar dia disakiti. diapun kadang tidak menolaknya, masa bodohlah dengan tubuhku, pikirku, aku tarik batang terakhir dalam pak itu, membakarnya dan menghisapnya, tubuhku merasakan nyaman meski sebenarnya dia disakiti… AHAHAHAHAHA.. tertawaku keluar lagi, tubuh bodoh! makiku… aku pun tidak perduli, men-tidak perdulikan lambungku yang mengemis protein pun ternyata mudah… pikiranku galau kataku, jiwaku lebih lapar dari kau hey lambung !, kataku. tembakaupun terisap, lambungku sejenak merasa nyaman, tubuh bodoh! makiku lagi… aku pun tertawa, tertawa mengharap bahagia

kemudian HP itu berbunyi, hati ini aku bungkam, aku sekap, aku sembunyikan, aku tidak akan membiarkannya bertindak lagi, cukup! kataku, kamu tidak berhak lagi bicara, sudah cukup kataku, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, apa yang kau butuhkan, aku tidak tau kamu membodohi aku atau aku yang membodohi kamu ujarku kepada hatiku. akupun membacanya dengan membacanya. jawaban yang terprediksi, diprediksi oleh otakku namun tidak diinginkan oleh hatiku, tapi, dia sudah aku sekap! jadi aman, kataku pada otakku! bacalah… aku membaca, dan tidak tau apa yang aku harus perbuat, apa yang harus aku katakan pada hatiku… ah, persetan dengan semuanya, semuanya bodoh dan bisa aku bodohi, meski aku tidak tau siapa membodohi siapa, aku tidak mau tau, akupun tidak tau lagi dan memilih untuk tertawa, tertawa mengharap bahagia..

aku balas pesan itu dengan singkat dan tidak tau lagi, karena semuanya aku tidak mau tau, aku tidak mau mengerti karena aku tidak mengerti dan aku tidak tau, jadi tidak susah, terasa gampang, terasa gamang namun,

ketidak mengertianku ini sungguh tidak dapat kumengerti, aku tidak mengerti sungguh, aku berharap untuk mengerti, meski disaat yang sama aku mengharap untuk tidak mengerti, mengharap untuk bodoh, Karena, itu jadi sakit ketika aku mengerti, sungguh aku merasa ingin bodoh dan tidak mengerti, karena dengan aku tidak mengerti maka aku tidak akan merasakan apa-apa… jika tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu susah, lebih baik aku bodoh saja dan tidak tau apa-apa, sehingga aku tidak akan apa-apa, dan aku bahagia, tawapun tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia.

Tuhan… kataku, aku kira aku cukup dulu, aku ingin istirahat sejenak, karena aku tidak mengerti, karena aku tidak tau… jika ini seninya mungkin aku menikmatinya, maka aku mencoba menikmatinya dengan tawa, tertawa mengharap bahagia, aku sudah cukup mencari tau dan mencari mengerti, aku pusing, aku punya banyak masalah Tuhan… aku pikir kau cukup tau semua itu, karena Engkau maha tau. maka untuk sementara, aku tidak mau tau dulu, aku tidak mau mengerti dulu, tiba-tiba aku merasa ingin bodoh, karena seperti kataku tadi, tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu tidak gampang, lebih baik aku bodoh saja dan tidak merasa apa-apa.

HPku kembali berbunyi lagi, aku membacanya dengan hati tersekap seperti tadi, ah… kali ini kawan, kawan yang mengajakku ke suatu tempat untuk tertawa, meski itu kurang baik untuk hatiku, tapi bisa membuat aku tertawa, tertawa mengharap bahagia, seperti aku bilang, hati ini bisa dibodohi, dan dia sudah terbodohi kataku sembari meng-iya-kan ajakan kawan itu, paling tidak aku bisa tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia..

aku ambil persedian silinder tembakau itu, rupanya benar yang mereka bilang, berjaga-jaga itu penting, aku merasakannya sekarang, aku menyimpan tembakau itu untuk saat-saat ini.. aku tarik satu batang tembakau itu dan berusaha membakarnya, tapi sial, korek terakhir telah dibawa kawan tempat aku tertawa barusan, dia sudah pulang… dan aku tidak mengerti bagaimana cara membakarnya, aku bingung, aku tidak tau, tapi kali ini aku tidak mau tidak tau, aku mau tau, aku mau mengerti bagaimana cara tembakau itu terbakar, seperti aku ingin hatiku terbakar hangus tak bersisa, aku tidak tau, aku sedang tidak bersahabat dengan hatiku, aku tidak bersahabat dengan semuanya pada akhirnya? mengapa? kamu tidak dengar kataku? aku tidak mau tau, tidak mau mengerti, atau aku ingin bodoh saja… hingga pada akhirnya aku menemukan kotak yang terdapat batang kayu berujung mesiu itu. kejadian yang cukup langka karena cukup susah mencari batang kayu berujung mesiu itu. itu pula lah yang membuat aku pada akhirnya tidak membakar tembakau itu dan tidak merusak tubuhku, tapi kali ini Tuhan berkehendak lain… dia berkehendak aku menemukan batang kayu berujung mesiu itu, aku mengambilnya, menyalakanya, membakar tembakau itu, dan kembali membodohi tubuh ini. toh dia tidak tau bahwa dia sedang dibodohi, mungkin badanku sudah tidak mau tau, dan tidak mau mengerti… tiba-tiba aku tertarik untuk belajar pada tubuhku, bagaimana caranya menjadi tidak mau tau dan tidak mau mengerti hai tubuh? dia tidak menjawab… mungkin karena dia bodoh… akupun tidak mau tau dan tidak mau perduli, aku menghisapnya saja tanpa pikir panjang…

seketika itu juga ketika aku sedang mencari tau, mencari mengerti, meski tidak aku mengerti, namun satu hal yang aku mengerti pada akhirnya,  aku mengerti tuhan masih sayang padaku, Dia membiarkan aku tertawa malam ini, Dia mengizinkan aku tertawa, tertawa mengharap bahagia. dan dia mengizinkan aku menghisap silinder tembakau ini dengan membiarkanku menemukan batang kayu berujung mesiu.

terimakasih Tuhan… aku tertawa malam ini

Satu Balasan ke dan akupun tertawa

  1. wahyu am mengatakan:

    tertawa

    hahahahahha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: