otak atau hati?

suatu pagi habis bangun tidur saya langsung chek mail, yup! bukan mandi, bukan cuci muka bukan olah raga, tapi chek mail, saya membaca artikel dari sebuah institusi pengembangan SDM di Semarang, yang berjudul “hidup itu pilihan” kalau boleh jujur sih, isinya tidak cukup untuk me-motivasi saya, karena standart banget kata-katanya, oleh karena itu untuk kebaikan si institusi tersebut, namanya tidak akan saya sebutkan🙂

 

dalam artikel tersebut ada kata-kata seperi ini “dan TUHAN telah menyediakan alat yang paling dahsyat di dunia ini untuk mengubah dan membuat dunia lebih maju yaitu OTAK kita.” 

apakah anda setuju? tidak untuk saya, memang otak kita cukup dahsyat, dan otak memang bisa merubah dunia, tapi apakah membuat dunia ini lebih maju? tidak selalu…. otak itu belum tentu baik, semakin hebat otak belum tentu semakin bermanfaat, otak itu ibarat pisau, semakin di-asah semakin tajam, dan seperti pisau yang memiliki 2 sisi, pisau bisa dilakukan untuk kejahatan, melukai orang, membunuh orang, mengancam dan merampok, namun otak juga bisa dilakukan untuk kebaikan, memotong daging membuatkan masakan untuk orang berpuasa, memotong rerumputan liar yang mengganggu pemandanga, dan banyak kegiatan positif lain yang bisa dilakukan oleh sebuah pisau tajam. dan yang menentukan pisau itu akan dibawa ke arah positif dan negatif tergantung di pemilik pisau itu, karena pisau  itu adalah alat, tergantung siapa yang memegang pisau tersebut. 

otak memang cukup dahsyat, tapi tidak lebih dahsyat dari hati… semakin baik hati, maka  semakin dia bisa merubah sesuatu ke-arah yang positif. berbeda dengan otak, semakin baik hati, maka semakin bermanfaat segalanya..

jadi apakah benar otak adalah sesuatu yang mengubah dunia? benar! kataku…

tapi apakah perubahan itu kearah positif? belum tentu, kita lihat contoh orang dengan otak tajam luar biasa, yang mengubah dunia…. tapi kearah yang buruk, yaitu hitler, seorang pemipin jenius yang cerdas dalam berperang, dia berhasil meneror bumi ini beberapa saat, atau seorang yang tidak memiliki apa-apa yang luar biasa, melainkan kesederhanaan-nya yang luar biasa, namun juga merubah dunia… kali ini kearah yang positif… sebut saja, Muhhamad S.A.W, Mahatma Gandhi, Sidharta, hatinya melebihi otaknya…

 

kemudian saya kutip lagi satu statement dari artikel tersebut yang saya kurang setuju:

Memang sudah jelas setiap manusia yang dilahirkan dalam kondisi normal
(tidak mengalami gangguan/cacat otak) SEHARUSNYA hidupnya berpotensi
menjadi SUKSES, PANDAI, CERDAS, KAYA dan BERLIMPAH. Namun mengapa, masih
banyak yang GAGAL, MISKIN, BODOH dsb.

pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dengan jawaban: karena mereka hanya mengandalkan otak, bukan dengan hati yang baik, coba baca lagi statemen itu, yang dibahas hanya sukses, pandai, cerdas, kaya dan berlimpah, tidak dijelaskan bahagia, bijaksana, nyaman, dan tentram… 
hati itu luar biasa dahsyat teman… suatu hal pembeda antara kita binatang, jin dan malaikat, binatang juga punya otak kan? tapi kita punya hati, yang bisa membuat otak dangkal ini menjadi bermanfaat.
sekarang pilih, orang berhati baik ber-otak biasa, atau orang berhati biadab berotak jenius? yap! kalau ditangan orang berotak jenius dunia kita akan berubah, tapi menjadi suram dengan kebiadabannya
jadi pilih hati atau otak? kalau di masakan padang sih, kayaknya masih enak otak :-p
nb: pak Yance, mohon maaf kalau kebetulan membaca dan kurang setuju, apalagi saya kutip tanpa persetujuan anda, saya hanya berpendapat dari sudut pandang saya saja🙂

11 Balasan ke otak atau hati?

  1. Denny Eko Prasetyo mengatakan:

    jadi otak itu ibarat alat, dan hati itu ibarat sesuatu yang mengendalikan otak itu…

  2. aRuL mengatakan:

    wah hebar berfikir out of the box….😉
    pertanyaannya adalah yang menggerakan otak dan hati itu apa?😀

  3. suhadinet mengatakan:

    Saya sih kalau masakan padang gak suka otak, juga tak suka hati. Saya sukanya ikan tongkol. :mrgreen:

  4. Raffaell mengatakan:

    Menguasai otak dengan hati…

  5. Daniel Mahendra mengatakan:

    Otak cerdas tanpa hati, sama juga dengan penjahat.
    Hati tanpa otak, sama juga bisa tersesat.
    Ada ide?

  6. Yari NK mengatakan:

    Kalau menurut sains sih…. kita merasakan, emosi, dan sebagainya juga melalui otak bukan hati !! Hanya saja bagian otak yang mengatur emosi dan perasaan tentu berbeda dengan bagian otak yang untuk berfikir, tapi dua2nya letaknya juga sama di otak!! Yang bilang hati itu tempat emosi atau perasaan hanya penyair saja atau lebih tepatnya gaya bahasa. Kalau dalam Bahasa Inggris, disebutnya adalah “heart” atau jantung, jadi nggak nyambung sama yang bahasa Indonesia kan??

    Coba anda cari artikel modern tentang “liver” (hati) atau “heart” (jantung) tidak ada yang menjelaskan bahwa kedua organ tersebut mengatur emosi atau perasaan…..

    Kita selama ini “tertipu” karena memang selama ini kita bicara masalah perasaan lebih banyak dalam ranah sastra bukan dalam ranah sains. So, jangan tertipu ya, perasaan dan emosi, baik dan jahatnya seseorang juga diatur oleh otak….🙂

  7. Denny Eko Prasetyo mengatakan:

    ah… pak yari ga seru nih…. :-p

  8. laporan mengatakan:

    Berbicara masalah baik dan buruk maka bagaimanapun kepandaian dan kecerdasan lebih baik dari kebodohan. Mungkin yang dimaksud Pak Denny ini adalah berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk, sehingga tidak mempermasalhkan pada otak atau hati. Berbuat baik juga membutuhkan otak, karena berbuat baik tanpa dilandasan alasan yang logis (pikiran sehat = otak) sama dengan perbuatan kekonyolan juga. Pengertian di sini adalah setiap perilaku harus dilakukan dengan kesadaran. Domain dari kesadaran itu dikendalikan oleh otak pula. Mungkin permasalahan tidak otak dan hati, tetapi mengenai perilaku baik dan perilaku buruk.

  9. zulfaisalputera mengatakan:

    Otak dan hati adalah dua obyek vital dalam proses kehidupan kita. Berpikir dan berperasaan sangat diperlukan dalam melakukan tindak dan laku. Keduanya bersimbiose sehingga ada keseimbangan dalam hidup. Salah satunya bisa saja saling mendominasi untuk mewujudkan sebuah konsep, tetapi tetap saling memberikan pertimbangan dalam memutuskan konsep tersebut.

    Jadi, teruslah mengembangkan kemampuan otak dan hati dalam mengeksplorasi diri.

    Tabik!

  10. ipied mengatakan:

    kurasa harus berjalan beriringan…

    dalam pemikiranku malah…seperti ini…
    pria, karena ke logisanya lebih bergerak berdasarkan otak mereka.
    wanita, karena lembutnya lebig bergerak karen hatinya…

    yah itu sih yang saya rasakan (sori kalo keluar dari konteks pembahasan)

  11. Ikkyu_san mengatakan:

    saya tambahkan pernyataan ipied,

    sehingga dunia ini memang memerlukan pria dan wanita, otak dan hati, yang tentu saja harus seimbang. terlepas dari konteks hati itu jantung atau liver. (atau mestinya pakai kata nurani ya?…entah lah) Tapi saya sependapat dengan Denny karena banyak sekali orang yang punya OTAK tapi tidak punya HATI yang menggerakkan otak untuk bisa berbuat baik dan membantu mencerahkan negara indonesia.

    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: