se-oplah koran…

siang ini matahari begitu teri, membakar kulitku… dunia semakin panas saja batinku. kulihat disana ada seoplah koran, sudah lama aku tidak membaca koran, pekerjaanku begitu menyita waktuku, sebutlah aku orang sibuk, sebutlah aku orang yang menghargai waktu. aku ingin tau, apa yang terjadi pada dunia sekarang ini, apa yang terjadi pada dunia ini… kuambil koran itu, kubukanya halaman demi halaman.

dahiku berkrenyit, selama itukah aku tidak membaca koran? beritanya  begitu berbeda dengan kenyataan yang aku alami, jauh dari berita buruk, tidak ulasan negatif terhadap issue lokal, semuanya begitu damai… halaman pertama kuamati, aiiih…! aku terkejut.. mata uang rupiah menguat sebulan ini? hampir sama dengan dollar Singapore? wow…! hebat sekali menteri ekonomi kita, hebat hebat… aku terkagum-kagum membaca artikel itu, puas kemudian aku membuka halaman selanjutnya.. wow! kita kembali merebut Piala Thomas & Uber!!! hebat sekali atlit kita, akhirnya kita berhasil merebut piala itu…! meski bukan atlit, aku rindu akan piala itu… ah, senang sekali membaca kabar ini.. hey hey…! ekspor beras kita meningkat? wah hebat sekali ini,  ekspor palawija juga?!?! wah  setengah tidak percaya aku membacanya.. bagus bagu… senang aku membacanya, wah!  ternyata koran itu menulis “seiring dengan meningkatnya expor beras, Swasembada pangan ditingkatkan” wah.. ibuku akan senang membaca berita ini… semua bagaikan mimpi  saja… ah, ternyata saya rabun informasi sudah begitu lama… bagaimana bisa aku ketinggalan semua informasi ini? ah.. bodoh sekali aku…

kubuka lagi halaman berikutnya, iklan dimana-mana, tapi kali ini terasa berbeda, iklan-iklan ini  tidak seperti biasanya, iklan-iklan yang biasa kubaca selalu menonjolkan kelebihan-nya sendiri, bahkan  tidak sedikit yang menjelekkan produk pesaingnya… tapi iklan ini cukup informatif, dan wajar tidak berlebihan. bagus-bagus.. kini mereka sadar akan etika Iklan, dipojokan halaman aku  lihat jadwal televisi, aih-aih.. kemana saluran-saluran televisi yang tidak berguna itu? kok tidak ada? apa sudah bangkrut? kok saluran televisinya yang tertera disini begitu sedikit? ah, peduli setan, kulihat jadwal susunan  acaranya… bagus bagus… meski saluran TV-nya sedikit, tapi muatannya bermanfaat, terbaca dari judulnya, sepertinya begitu edukatif, syukurlah departemen informasi sudah bisa menyaring tayangan TV di negara ini, kini hilang sudah saluran televisi bejat yang merusak moral bangsa ini, bagus kalau begitu…

hey hey…! siswa kita berprestasi di Luar Negeri sana, bahkan untuk masalah pendidikan aku baca, negeri luar lebih senang bellajar disini, mereka lebih memilih kuliah di negeri ini.. bagus bagus, sistem pendidikan kita lebih baik lagi, sektor bisnispun kubaca lebih baik, tidak seperti selama ini yang aku dengar, dikoran ini semuanya begitu berjalan dengan lancar, syukurlah.. negara ini menjadi lebih baik sekarang. hey! harga bahan bakar minyak kok turun sekarang? menjadi murah sekali… harga bahan pokok juga begitu, kok jadi murah sekali… wah, berita baik ini, keluargaku dirumah pasti senang membacaranya.. tapi-tapi tunggu… kemana berita itu? mana berita korupsi, berita pemerkosaan, berita  kriminal, biasanya tidak usah aku cari, berita itu muncul lebih dahulu menarik perhatian mataku untuk aku baca sebelum membaca berita lainnya, aku susah payah mencari baru ketemu satu? ah  sudahlah, sudah bagus banyak berita baik di koran ini, untuk apa habis pikir dengan berita buruk…

ah… seperti mimpi aku membaca oplah koran ini, puas aku membacanya, negara ini lebih baik ternyata, aku jadi menyesal selama ini rabun informasi… tak terasa banyak waktu aku habiskan untuk membaca se-oplah koran ini, hingga teriakan Jarwo, kakakku mengagetkanku

“Woy Jo…! ngapain kamu jongkok lama baca koran disitu?!?! Cepetan cari barang berharga di tumpukan sampah ini!! sekalian koran yang kamu baca itu, mungkin bisa dijual! dikilo-in!!” Jarwo mendekatiku dan berkata  lagi “heh! darimana kamu dapat koran lama ini? koran tahun 90-an masih kamu baca juga? sudah gila kamu yah!. lekas cari sampah-sampah yang masih bisa dijual, lalu lekas pulang, hari sudah sore ini, Ibu bisa marah kalau sampah yang kita pungut sedikit dan ga berharga”.

aku membaca dalam hati, seakan mengeja tanggal terbut koran tersebut “4 November 1993” sial! aku mengumpat dalam hati… kulipat koran itu rapih, kutaruh dalam tas yang kukaitkan dalam gerobak sampahku, aku berlalu mengikuti langkah Jarwo yang meninggalkanku, Koran itu tidak akan kujual, kusimpan sebagai kenang-kenangan, sebagai harapan agar negaraku kembali jaya, kembali ditakuti…

*apa yang lebih baik dari negara ini sekarang?

13 Balasan ke se-oplah koran…

  1. didut mengatakan:

    hahaha~ nice intermezzo den😀

  2. erin a.k.a Rei mengatakan:

    hehehe…keren keren…

    btw aku baru buka profile mas Denny…hya ampyun…masih mahasiswa to?anak Undip juga pula… aku kirain dulu oom oom Jurnalis gitu…hehehe….

  3. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    narasi yang bagus, mas denny. koran memang bisa dimanfaatkan utk apa saja, tergantung kepentingan pengelolanya.

  4. escoret mengatakan:

    […] aku membaca dalam hati, seakan mengeja tanggal terbut koran tersebut “4 November 1993″ sial! aku mengumpat dalam hati… […]

    kalimat yg rancu..????
    ngumpat kok dalam hati..???

  5. qizinklaziva mengatakan:

    koran lama masih tetap bermanfaat!

  6. Yari NK mengatakan:

    Sayang prestasi tahun 1990an itu ternyata kebanyakan hanya kosmetik saja, dan cenderung palsu! Huehehehe….:mrgreen:

  7. Laporan mengatakan:

    wkwkwkwkwk, bangunlah pada realita,:mrgreen:

  8. kishandono mengatakan:

    biarlah menjadi catatan sejarah. dan mari kita ukir sejarah pada hari ini!

  9. gunawanwe mengatakan:

    selalu optimis bung… mari ciptakan perubahan ke arah yang lebih baik

  10. Raffaell mengatakan:

    btw koran apaan mas ?

  11. erin a.k.a Rei mengatakan:

    hya ampyun….baru kali ini denger ada teh dilinting jadi rokok… kalo seniorku dulu tembakau yang ada di survival kit yang buat ngusir lintah dilinting trus dibakar… cacad otak dech…heheheh

  12. khofia mengatakan:

    koran republik mimpi, tuh!

    kalo koran kita sekarang mah isinya STD alias tandar: korupsi, perampokan, pembunuhan, kenaikan harga, kelangkaan minyak, de el es be. moga2 mulai 209 besok kita dapat pemimpin yang beriman dan bisa mengeluarkan bangsa kita dari keterpurukan


    *berasa berdo’a di republik mimpi…*

  13. Irma Silaban mengatakan:

    Tapi ini bukan April Mob kawan. April lama lewat. Ini bagus. Serius! Tolong anda kali ini segagasan dengan saya ya. Bagus. Mantap. Sebar. Saya mendapat kiriman emal-emai bagus seperti ini. Saya senang. Saya suka ada opini-opini cerdas seperti Sydney Jones yang tidak perlu diragukan lagi. Dia sangat obyektf meskipun dia peneliti Barat. Ada tanggapan-tanggapan lumayan juga. Ini saya kopikan. Rakyat akan kian cerdas dan siap menyerang, menghajar, menerang-terjang orang-orang penjahat di negeri ini yang mengaku pemimpin tapi membuat rakyat menderta terus! Kita berbagi dan selamaty membaca. Televisi-televisi di Indonesia memang gombal. Mengapa belum ada TV independen. TVRI yang konon milik publik juga ditekan pemerintah. Gombal. Sebaiknya terus disebarluaskan ke email-email teman-teman mahasswa kita dan siapasaja yang perduli nasib rakyat. Saya kebetulan ortu orang kaya, saya punya 4 mobil, 3 rumah, dari usaha bukan KKN, namun saya juga kasihan melihat mereka terus melarat.

    Papua dan Aceh berhak merdeka
    seperti Abkhazia dan Ossetia Selatan
    Oleh Sydney Jones (sydneyjones2008@yahoo.com)
    Pengamat Indonesia dan Internasional warga Amerika

    Abkhazia dan Ossetia Selatan telah diakui merdeka oleh parlemen dan pemerintah Rusia, buntut kejengkelan Rusia akibat Kosovo dimerdekakan Amerika. Mengapa Papua dan Aceh tidak. Lagi lagi inilah kebijakan berkepala dua Amerika.

    Papua dan Aceh yang tidur mampukah menyusul Kosovo, Abkhazia dan Ossetia Selatan atau saudaranya Timor Timur. Tidak seperti Papua dan Aceh yang lama berjuang untuk merdeka tetapi selalu gagal dan digagalkan, kedua republik Abkhazia dan Ossetia Selatan menyatakan merdeka dan memisahkan diri baru tahun 1990 dan kini sudah merdeka. Sebelumnya kedua wiilayah itu masing masing mulai punya sendiri president, bendera, lagu kebangsaan, tentara nasional dan juga dukungan, dalam hal ini, Moskow. Mau apalagi Saakashvili, boneka Amerika, dan George Bush, pencipta boneka.
    Pertengahan Agustus 2008 parlemen Rusia menyetujui kemerdekaan kedua republik yang didukung Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Inilah pukulan sakit sekali bagi Saakashvili dan George Bush.
    Kedua majelis di parlemen Rusia minggu ini menghadiahi dengan suara mutlak dan meminta Medvedev mengakui kemerdekaaan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Kedua majelis telah mengadakan sidang darurat untuk memperdebatkan masa depan Abkhazia dan Ossetia Selatan, kedua republik tidak diakui Barat dan negara negara boneka mereka. Presiden Saakashvili terutama, tidak mengakui dan justru melakukan agresi ngawur terhadap Ossetia Selatan dan Abkhazia yang sudah menyatakan merdeka sejak 1990. Pun kedua republik sudah lama memenuhi persyaratan sebagai negara. Keduanya punya sendiri president, bendera, lagu kebangsaan, tentara nasional dan dukungan Moskow. Mau apalagi Saakashvili yang dipanas panasi dikompori Bush.
    Sakhashvili bersikeras tidak akan melepas Abkhazia dan Ossetia Selatan. Sakhashvili rupanya anak emas George Bush. Bush hampir selesai jadi presiden tetapi pusing karena jagonya McCain kemungkinan tidak terpilih. Sementara media Barat membodohi negara berkembang dengan liputan rekayasa melalui sebuah organisasi buatan lobi haram di markasnya di Belgia dengan berita berita fitnah bahwa Rusia lebih dulu menyerang Georgia, berita berita yang dilansir tanpa fikir sebagian besar televisi di negara berkembang terutama di Indonesia dengan tujuan semata bisnis dan cari iklan dengan kedok menunjang pemilu, tanpa berani membongkar kekeliruan kekeliruan kebijakan kebijakan pemerintah dan hanya ikut memperlihatkan kulit korupsi, permainan Metro TV yang dikomando Suya Paloh orang Golkar. Kalau MetroTV masih membebek terus media Barat tanpa analisa kuat maka akan digilas rakyat; kini rakyat punta potensi bara kuasa terpendam yang siap hancurkan media yang tidak fair. Sudah selesai era Barat saya kira meski saya orang Barat.
    Sedikit menyinggung Golkar ini partai sejak dulu memang licik dan menjerumuskan kejam rakyat Indonesia. Itulah 63 merdeka rakyat dibuat bodoh. Kini Golkar berusaha gandeng PDIP untuk lezat dikhianati dan dimanfaatkan. Jelas ini peluang bagi PAN bersama Gerindra, atau Hanura, yang punya pentolan dua tokoh berkualitas internasional seperti Prabowo dan Amien Rais di satu sisi dan pentolan tua militer karir di sisi lain untuk rebut pemerintahan, sementara partai-partai Islam moderat dan konservatif harus dukung dua tokoh intelektual terpinggirkan tersebut. Sayang rakyat yang terlanjur kurang pengetahuan selalu tertipu untuk kesekian kali dan tidak mampu melihat bahwa sebuah negara harus dipimpin tokoh-tokoh seperti Amien Rais dan Prabowo. Yahya Muhaimin atau Gus Dur bisa main cantik dengan bergabung mana tokoh yang lebih perduli kepada rakyat. Saatnya Wiranto melalui Hanura yang didukung dana tidak terbatas oleh keluarga terkuat untuk sebaiknya tidak maju dan besar hati mendukung Prabowo dan Amien Rais. Wiranto bisa menjadi Menhan saja nanti. Di sudut lain saya kira perkawinan Golkar-PDIP hanya kebodohan suami Megawati dan ini akan membuahkan pecundang bagi PDIP yang berarti Megawati akan gagal.
    Kembali ke soal Ossetia Selatan.Dalam rangkaian sidang darurat, Dewan Federasi atau, majelis tinggi, menyetujui penambahan pengiriman pasukan penjaga perdamaian Rusia ke kawasan konflik di dekat Georgia sebagai reaksi penyamaran Barat mengirim peralatan militer termoderen dengan kedok bantuan pangan kemanusiaan, kecurangan Barat terutama Amerika akibat kemenangan partai republik di Amerika didominasi kelompok konservatif seperti Bush yang terus menciptakan pemimpin pemimpin boneka di negara negara berkembang.
    Duma, majelis rendah, telah meminta organisasi organisasi parlemen internasional dan parlemen parlemen dari negara negara anggota PBB mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Saat dumulai sidang darurat Dewan Federasi di Moskow, presiden presiden kedua republik yang memisahkan diri menyatakan menolak mentah mentah menjadi bagian Negara Kesatuan Georgia (NKG).
    Dalam pidatonya Presiden Ossetia Selatan, Eduard Kokoity, menyatakan Ossetia Selatan dan Abkhazia yang tidak diakui banyak negara sebetulnya lebih berhak merdeka daripada Kosovo. Dalam pidatonya, ketua Duma, Boris Gryzlov, menyebut tindakan agresi Georgia membunuh ratusan warga sipil di Ossetia Selatan merupakan genosida dan agresi Sakhashvili sama dengan agresi Nazi German atas Uni Soviet dahulu.
    Dalam konteks Indonesia saya kira Papua dan Aceh pun berhak merdeka dan tidak tepat lagi didikte pemimpin Indonesia boneka Amerika. Kalau Kosovo berhak merdeka dan dimerdekakan Amerika, Papua dan Aceh pun berhak merdeka dan dimerdekakan. Presiden Abkhazia Sergey Bagapsh menyatakan Abkhazia maupun Ossetia Selatan juga tidak mau lagi hidup dalam kepemimpinan penindasan gaya Saakashvili yang dibeking Bush dan tidak mau lagi berada dalam NKG.
    Reaksi Internasional. Atas suara sangat mutlak Parlemen Rusia, Uni Eropa (EU) mengeluarkan pernyataan bahwa Ossetia Selatan dan Abkhazia harus di bawah NKG. Inilah kebijakan berkepala dua Amerika lagi lagi yang juga menekan EU.
    Sementara Estonia, Latvia and Lithuania, boneka boneka Amerika, menyatakan kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan tidak bisa diterima. Kecurangan boneka boneka yang menerima begitu saja kemauan Barat. Dalam konteks Indonesia mengapa Washington dan Jakarta tidak memberikan kemerdekaan kepada Papua dan Aceh adalah karena apabila kedua wilayah tersebut juga merdeka, Jakarta khususnya akan kehilangan kue lezat besar hasil kekayaan alam Papua dan Aceh yang selama ini dirampas pusat dan bukan untuk membangun fasilitas fasilitas berorientasi rakyat atau mensejahterakan rakyat Indonesia. Sampai di sini Barat memang tidak adil karena mendukung Kosovo merdeka. Sementara Papua dan Aceh tidak didukung merdeka. Demokrasi jahat berbulu kepentingan ekonomi dan lagi lagi berkepala dua.
    Seorang pengamat Jerman, teman saya, menyatakan setiap wilayah yang memenuhi persyaratan berdiri sendiri berhak menjadi negara merdeka. “Kalau sudah punya presiden, tentara, lagu kebangsaan dan lainnya, itu hak mereka untuk merdeka,” ujarnya.
    Seorang pengamat Prancis, teman saya, menyatakan pemimpin pemimpin Barat menciptakan boneka boneka di negara negara berkembang untuk penjajahan halus gaya baru agar bisa mengeruk kekayaan wilayah wilayah kaya di negara negara itu. “(Mereka) memperdaya bangsa bangsa dengan boneka boneka mereka,” ujarnya.
    Seorang pendukung di partai demokrat Amerika, saya kenal baik, menyatakan kunci penyelesaian konflik di manapun adalah mengakui dan memberi kemerdekaan wilayah agar masyarakatnya dapat menikmati kesejahteraan dan tidak dibuat miskin terus.
    Seorang pengamat Inggris, teman saya, menyatakan prakarsa parlemen Rusia yang mengakui Abkhazia dan Ossetia Selatan merdeka tentu saja akan meningkatkan ketegangan di kawasan Kaukasus tetapi semua karena ambisi presiden Georgia. “Saakashvili seperti anak kecil, dia girang karena didukung Bush dalam agresi dan Bush frustrasi lantaran McCain yang mungkin akan kalah di pemilu mencoba pengaruhi para pemilih di Amerika dengan semangat agresi,” ujarnya.
    Jalan berbatu menuju merdeka. Ossetia Selatan, berbatasan dengan Rusia di Kaukasus selatan dan Abkhazia di Laut Hitam, sudah menyatakan merdeka dari Georgia sejak 1990, setelah referendum dengan suara terbanyak memilih merdeka. Tetapi hasil itu diabaikan Tbilisi. Agresi Saakashvili di Ossetia Selatan baru baru ini yang menelan korban warga sipil membangkitkan pentingnya merdeka bagi wilayah manapun yang kekayaannya dikeruk penguasa yang berkolusi pihak luar. Dan saya kira sangat pilu kalau kekayaan ditelan penguasa dan bukan membangun prasarana berorientasi rakyat.
    Dalam konteks Indonesia, permasalahan di wilayah wilayah seperti Papua dan Aceh yang meminta kemerdekaan itu wajar. Kekayaan tanah air wilayah mereka dicuri penguasa pusat yang berkolusi dengan pihak luar, negara maju. Dalam hal konflik di Georgia saat ini dapat ditelusuri dari kebijakan perpecahan dan penaklukan Joseph Stalin, etnis campuran Georgia dan Ossetia. Sebelum revolusi 1917 kelompok kelompok etnis di Kaukasus hidup terpisah dari Russia. Akan tetapi setelah revolusi terjadi peta menjadi berubah, Ossetia Selatan dan Abkhazia menjadi bagian NKG. Pada konteks Indonesia dahulu di masa sebelum Indonesia mengklaim merdeka, Papua dan Aceh bukan bagian negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Kembali ke konteks Ossetia Selatan dan Abkhazia. Setelah Uni Soviet runtuh, pemimpin Georgia waktu itu, Zviad Gamsakhurdia, mencaplok wilayah Abkhazia dan wilayah Ossetia Selatan dengan ambisi pribadi sama halnya Sukarno dengan kedok negara kesatuan. “Georgia untuk etnis Georgia,” kata Gamsakhurdia. Seperti halnya kata Sukarno “Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Tetapi saya kira sampai momen momen ini belum ada bangsa Indonesia, dan yang ada berbagai bangsa dan etnis yang ditipu penguasa di Indonesia.
    Kasus konflik Georgia Ossetia Selatan terjadi akibat permainan Bush yang cemburu atas mulai makmur luarbiasanya Rusia akibat eksplorasi besar besaran Rusia untuk semata mensejahterakan rakyat dan membangun negara dalam artian luas, di mana Ossetia Selatan dan Abkhazia di bawah pengaruh Rusia, negara tetangga mereka, dan tidak bersedia di bawah NKG dari kacamata Saakashvili. Dia dikomando Bush melakukan agresi atas Ossetia Selatan. Bush membelokkan dengan pura pura bersenang di Olimpiade Beijing. Vladimir Putin, perdana menteri Rusia, pun terperdaya ikut lihat pembukaan Olimpiade Beijing. Tanggal 8 Agustus malam, Saakashvili berpidato di televisi nasional dengan mengatakan “Wahai rakyat di Ossetia Selatan, selamat tidur nyenyak”. Tetapi yang didapat rakyat Ossetia Selatan justru “serangan bertubi tubi roket roket maut pasukan yang dikomando Saakashvili”, senjata hidup berbahaya hasil ciptaan Washington. Ribuan warga sipil tidak berdosa mati. Di siangnya anak anak serta nenek dilindas tank di mana Saakashvili sebagai panglima tertinggi. Media media Barat disuap pemerintahnya menuduh Rusia agresor.
    Sejak menjadi presiden 2004 dengan menyerbu paksa sidang Parlemen dan menjatuhkan Shervanadze, Saakashvili praktis telah menjadi boneka Amerika seperti juga boneka boneka di manapun. Saakashvili menindas para demonstran dengan kasar dan menindas halus masyarakatnya dengan harga harga tinggi. Saya kira ini sama juga yang dilakukan Jakarta.
    Kini, Abkhazia dan Ossetia Selatan masing masing sudah punya sendiri president, bendera, lagu kebangsaan, tentara nasional dan dukungan setidaknya Moskow. Apalagi yang ingin dilakukan Washington. Bagaimana dengan Jakarta. Masih mengekang agar Papua dan Aceh tidak merdeka dan tidak membantu kemerdekaan mereka. Atau Jakarta tetap dengan presiden seperti sekarang ini. Persetujuan Rusia atas kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan merupakan buntut kejengkelan Rusia atas Kosovo yang dimerdekakan Barat. Mengapa Papua dan Aceh tidak. Lagi lagi ini kebijakan berkepala dua Washington yang berkolusi dengan boneka setempat. Pada konteks Papua dan Aceh yang tidak punya dukungan seperti Abkhazia dan Ossetia Selatan tentu saja akan sulit merdeka. Saya tidak tahu kalau rakyat Papua atau Aceh mengusahakan ke arah itu dn ini tentu saja harus dengan beking yang berbeda: Aceh oleh Kremlin atau lainnya, Papua oleh Washington. Siapa tahu. Kecuali kalau Indonesia memilih Negara Federasi tentu saja akan lebih baik buat rakyat Indonesia keseluruhan. ***

    Pemimpin di Indonesia suka sengsarain Rakyat
    Suprapto
    /boleh djangkau di: supraptom096@gmail.com /

    Jangan harep Papua dan Aceh bisa merdeka kalau pemimpin di Indonesia semua tahu tetap bermental sama dengan yang lama, suka sengsarain rakyat sendiri. Rakyat juga yang salah.
    Mudah dipecah belah dengan macam-macam isu, alasan, rekayasa, teori-teori yang sengaja dikucur ke bawahan hingga suara menjadi seragam bahwa A itu A dan rakyat terima tanpa pikir.
    Aku hanya yakin kecuali kalau ada revolusi maka merdeka Papua dan Aceh dan lainnya akan datang sendiri. Teori-teori bahwa ini dan itu demi NKRI hanya bohong belaka agar rakyat terus mudah ditipu.
    Juga selama Golkar dan orang-orang lama masih bercokol jangan berharap ada yang berubah seperti sejatinya perubahan.

    Keharuan itu tidak kelihatan di sini. Ada apa dengan Indonesia
    By Rebecca James rbccjames@gmail.com
    Reaction on Sydney’s

    Hi Sedney. Saya juga tinggal di Indonesia dan berharap ada komentar-komentar seperti anda. Tetapi anda tidak melukiskan suasana perayaan sederhana mengharukan tetapi dalam suasana gembira masyarakat Abkhazia yang disusul masyarakat Ossetia Selatan.
    Mereka terharu dan gembira sebab justru Rusia negara besar pertama yang mengakui kemerdekaan itu. Sedangkan Barat tetap tidak mengakui dan mengecam pengakuan oleh Russia. Ini bukti bahwa Barat yang suka bicara lantang demokrasi dan HAM ternyata pembohong dan melanggar HAM sendiri di atas kepentingan nasional mereka. Jadi bukan hanya berkepala dua seperti yang anda bilang tetapi sudah berkepala seratus. Sedangkan Rusia negara bekas komunis itu justru lebih demokrastis lebih ber-HAM.
    Saya ikut terharu dan berkaca-kaca saat melihat pasangan muda-mudi dengan latar belakang beberapa orang berwajah ceria bilang pada sebuah televisi Rusia “kami telah perjuangkan kemerdekaan ini lebih dari 18 tahun.”
    Benar, kemerdekaan itu sudah mulai diakui sekurangnya oleh negara tetangga mereka sendiri, Rusia, sebuah negara besar.
    Semua orang yang anti penjajahan langsung maupun tidak langsung niscaya berharap “boneka-boneka Barat seperti pemerintah di Indonesia” sadar atas kekeliruannya selama ini yang menghamba pada Barat kemudian berbalik menentang tidak kelihatan terhadap Barat, dan ikut mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia-Selatan. Jadi tidak hanya ikut mengakui Kosovo yang dimerdekakan Barat. Pengakuan ini penting sebab Indonesia berjanji atas nama Tuhan dan itu selalu disebut berkali-kali Konstitusi akan laksanakan kemerdekaan. Melaksanakan merdeka berarti bukan hanya bicara tetapi membuktikan dengan kesejahteraan bagi rakyat secara keseluruhan dan membangun seperti yang anda lukiskan “fasilitas publik berorientasi rakyat”, yang anda maksud tentu transportasi masal seperti kereta-kereta api nyaman cepat untuk seluruh masyarakat Indonesia dan tentu bukan jalan tol hanya untuk orang berada bukan.
    Namun saya percaya segala keterlenaan pemimpin Indonesia itu karena televisi-televisi di Indonesia, media yang sanat potensial mengubah sistem, tidak punya komitmen mentransformasi Indonesia jadi negara-negara maju yang lain, televisi-televisi di Indonesia samasekali tidak melihatkan kepada rakyat dan pemimpin negara apa yang dilakukan negara-negara merdeka dan bebas di seluruh dunia. Oleh karena itu keharuan kemerdekaan Ossetia-Selatan dan Abkhazia tidak ada di televisi-televisi terutama tv berita di Indonesia. Tentu Indonesia yang mengklaim berkebijakan netral atau bebas-aktif tidak pantas ikut CNN dan teman-temannya. Mereka sangat pro Barat dan tidak netral. Iwan Fals, penyanyi kritikus itu, benar saat mengatakan “TV-TV Indonesia hanya mencari iklan”. Ada apa dengan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: