E______G______O

lihatlah kesana kawan… suatu hari aku merenungi keras-nya hidup di tempat perenunganku di Semarang, tempat dimana aku bisa merasa tinggi, tempat dimana aku mencoba menyombongkan diri dan berkata “aku bisa menaklukan semua masalahku, aku bisa!”

di gombel

di gombel aku bisa melihat dunia lebih luas, mencoba untuk menenangkan diri dan melihat masalahku dari atas kota semarang, dan mencari solusinya…

but then again i look down, aku lihat apa yang kita perbuat sama dunia, cukup di kota sekecil semarang aku bisa melihat betapa egoisnya manusia. ya! manusia itu egois! bahkan manusia suci pun mungkin egois! menusia adalah bagian ujung kuku dari bumi, tapi yang kulihat adalah hamparan bangunan beton buatan manusia, mendominasi kawan se-alam nya, hutan, binatang, burung, air, udara, tanah… apalah kita beberapa abad sebelumnya, manusia tidak kelihatan dibalik pohon rindang, dibalik hewan yang memamah biak, angkasa tidak terkalahkan kecuali oleh pohon menjulang tinggi. tapi kini manusia diatas segalanya, kita dengan egois menjajah bumi ini dan hanya memberi se-depa lahan buat kawan se-alam kita. kita hidup dengan manusia, bukan dengan alam. itulah mengapa jika kita bilang “kita” itu berarti manusia, apa kita bilang “mereka” juga berarti manusia, terlebih jika kita berkata “aku”! kita hanya secuil memikirkan kawan se-alam kita. kita menebang pohon untuk kesejahteraan kita, dan kita melestarikan pohon juga karena kesejahteraan kita, bukan kesejahteraan alam, apa jadinya jika pohon tak ditebang? tak ada kertas, dan apa jadinya jika tidak ada pohon? kita bisa kebanjiran!

kita mengatur bumi, menebang untuk kita dan menanam juga untuk kita, bukan untuk alam, munafik jika kita bilang untuk alam! hewan langka dilestarikan untuk kita bisa melihat keindahannya. membunuh sekawanan hama untuk kita bisa bertahan hidup. kita pun lahir dari ego pendahulu kita, mengatur benih yang terbuahi, atau tak terbuahi dan hilang begitu saja. dunia ini berkembang seiring dengan ke-egoisan manusia yang berpikir manu-ego-sentris dimana selalu berkata “ini untuk kebaikan kita” kembali kata “kita” berarti manusia, bukan teman se-alam kita.  kita membabat tempat tinggal tikus demi kenyamanan tempat tinggal kita, membunuh semut untuk menjaga makanan kita, membunuh nyamuk demi ketenangan tidur kita,  kita mengatur kapan hujan kapan terang, mengatur semangka tuk tumbuh berbiji dan tidak berbiji. mengatur ayam bertelur atau ayam berkokok. mungkin sebentar lagi mengatur kapan hidup kapan mati…

jadi salahkah apabila supir angkot berhenti begitu saja tanpa memikirkan kendaraan dibelakang dia

salahkah penjabat kita mengambil uang negara begitu saja tanpa memperdulikan rakyatnya

salahkah bush menempatkan pasukannya di irak tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkanya?

salahkah kita berpikir untuk menang tanpa melihat siapa yang kalah?

kita egois kawan! terimalah… bumi tercipta untuk kita! untuk kita olah (baca: atur)

atau ini hanya pembenaran aku terhadap aku yang egois? ah… aku hanya ingin berpikir liar tanpa batasan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: