permintaan maaf itu…

20 Sep, 2009

semoga puluhan, ratusan sms, wall, comment, tweet yang berseliweran bukan hanya formalitas momentum saja… permintaan maaf ini akan terasa lebih indah meski diluar hari suci ini kalo lebih ikhlas dan tidak hanya sembarang minta maaf masal yang berjamaah

Entah berapa puluh sms yang masuk keluar dari hp ini dimalam itu, aku heran, betapa gampang orang2 ini mengikuti keseragaman dan momentum dari sesuatu, ya mungkin juga  budaya, rutinitas atau ritual? tiba-tiba ketulusan menjadi tandatanya, apa benar minta maafnya itu benaran? Atau cuma abal abalan mengikuti kebiasaan? Mungkin merasa keharusan karena momentum lebaran? Well… Hanya kamu dan tuhanmu yang tau.

Minta maaf dan memaafkan itu personal… Karena kesalahan kamu dan nas-nas selain kamu itu bersifat pribadi.. Tuhan juga tidak memaafkan kesalahanmu sampai sesama nas itu memaafkan kesalahannya…. Jadi apakah template sms indah bisa memaafkan kesalahan nas itu? Memaafkan dan meminta maaf itu perlu proses ikhlas… Dan kalau mau ‘tidak formal’ itu perlu proses… Orang berantem tonjok2an aja perlu waktu untuk meredam ego masing2 lalu kembali bersalaman… Ada juga cerita balad yang menyiratkan, paku yang melubangi kayu mungkin bisa diambil (pakunya) tapi luka
yang disebakan paku pada kayu tidak bisa secepat itu hilang, mungkin lobang itu akan selamanya disana…
Lalu bisakah dengan sms standart yang nadanya seragam bisa menghapus itu semua? Ya… Tingkat keikhlasan orang mungkin beda-beda ada saja mungkin orang yang suci mengikhlaskan secara instan kesalahan-kesalahan itu… Tapi mungkin banyak orang lain yang tidak sesuci itu… Dan saya akan menggolongkan diri kedalam orang-orang yang tidak suci itu… Saya berusaha relieve tidak naïve… Saya perlu waktu dalam ikhlas… Karena ternyata hati ini tidak setingkat itu… Pun saya selalu berdoa agar terus bisa ikhlas, terus bisa tulus… Bibir saya tentu selalu berucap maaf dan melempar maaf… Namun tingkat ke sinkronan dengan hati ini tidak semulus itu… Ucapan maaf dan penerimaan maaf itulah yang menjadi ikhtiar pertama dalam usaha pengikhlasan saya… Karena saya manusia yang menggolongkan diri biasa dalam ceritera ini jadi saya tidak bisa ‘ujug-ujug’ mengikhlaskan ceritera-ceritera yang diperbuat oleh nas-nas lain yang kurang bisa saya terima dengan baik, sehingga
menyisakan sesuatu yang tidak baik dalam hati yang belum tentu baik…

Mungkin peninggalan yang tidak baik yang ditinggalkan nas lain di hati ini tidak sebanding dengan peninggalan kotor saya di hati nas orang lain… Sehingga membuat saya tidak punya alasan untuk tidak menerima permintaan maaf dari nas lain karena secara matematis saya merasa lebih banyak mengotori dibanding dikotori…
Tapi kembali lagi… Tidak semuanya bisa ujug-ujug murni ikhlas, karena saya nas biasa… Hanya yang pasti saya berusaha ikhlas, dengan kadar terendah hingga kadar yang insyaAllah nyaris sempurna…


berseri dalam memori

18 Sep, 2009

aku sudah bilang “andaikan saja ini semudah menghapus hardisk” ternyata tidak semudah itu, sudah kubilang juga dalam pikirku “suatu yang indah ada bukan untuk dilupakan, tapi untuk dikenang”, kadang aku tak mengerti, ceritera seindah ini kok Ingin diingkari, ingin di tiri disimpan dikiri dan disisikan dalam hati. kadang satu keadaan yang lebih realistis memaksa kita untuk membuat suatu yang terasa benar menjadi tidak benar, dan membuat suatu yang nyaman seakan tidak nyaman, sehingga membisu,buta,tulikan suatu yang ingin dilakukan menjadi enggan dilakukan, terkadang gengsi berbicara menahan, atau si realistis mencoba ambil kendali, sehingga aplikasi lirik lagu grup musik balad ceria yang terdengar naif dan jujur polos itu seperti susah dilakukan, katanya “do what you wanna do, say what you wanna say don’t be afraid” so what’s scare you? Prestige!? Reality!? Kadang lucu, mem-faktai keadaan yang ambigu, sehingga kamu harus mengambil konklusi sendiri? Seperti anomali paradox dari penjual beras ketan yang kelaparan… Ya, sama anehnya dengan ahli komunikasi yang tak bisa berkata “mari”, akhirnya konklusi diri pun berinisiatif sendiri…

Hey, mengapa tak ada yang menegurku kalau aku berliku, kembali ke tadi, memori memang sisi dikenang, tidak untuk dibuang. Mungkin lebih mudah mencari jam genggam yang hilang digelang, meski tampak basi, aku bisa melihat seri yang sembunyi dan rapi kau simpan dalam hati, sehingga kau sembunyikan sisi seri dari sikapmu dan kau hilangkan jam penggirang itu, si perfeksionis geulis yang kehilangan kesempurnaanya, sama si pelupa ini yang suka lupa kalau dia pelupa kala mengingat cerita bahagia itu. Setiap jengkal kota banjir ini ada saja yang bisa kuceriterakan, memori indah memang untuk diceriterakan, beberapanya mungkin telah dan akan aku ceriterakan disini, dalam bentuk cerpen mungkin, tulisan acak mungkin, dan mungkin menjadi suatu yang terdengar indah untuk dibaca, biarlah terbaca abstrak karena naskah aslinya biar si mpunya blog dan Tuhannya yang paling mengerti. Seperti bajay, yang hanya mpunya bajay dan Tuhan yang tau kemana dia berliku…
Memori indah juga tidak bisa menjadi sampah, se sumpah serampah apapun kamu sumpahi itu akan tetap indah, kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri, kadang aku juga bingung, betapa hobinya orang-orang itu membohongi dan menyiksa diri mengingkari yang baik itu, seperti aku bingung, mengapa pula aku melakukannya…
Jadi ceritera indah akan tetap indah, yang membuatnya tidak indah adalah sudut pandangnya, dan sedikit realita, realita bisa membungkam kenyataan dihati, paradox memang tapi itu yang terjadi. Ceritera indah memang indah, meski terpentok realistik yang membuat harus kau ingkari keindahan itu dan kau simpan sendiri dalam hati, tapi dia tetap indah tak teringkari.. Sehingga di dalam hati ini, aku buat ceritera indah ini berseri-seri dan aku tokoh utama yang selalu menang, dan mungkin kubawa dalam mimpi, dan aku menari berseri di sisi mimpi ini.
Ceritera memori Indah selalu indah, jangan diingkari…

Hey, mengapa tak ada yang menegurku kalau aku berliku, kembali ke tadi, memori memang sisi dikenang, tidak untuk dibuang. Mungkin lebih mudah mencari jam genggam yang hilang digelang, meski tampak basi, aku bisa melihat seri yang sembunyi dan rapi kau simpan dalam hati, sehingga kau sembunyikan sisi seri dari sikapmu dan kau hilangkan jam penggirang itu, si perfeksionis geulis yang kehilangan kesempurnaanya, sama si pelupa ini yang suka lupa kalau dia pelupa kala mengingat cerita bahagia itu. Setiap jengkal kota banjir ini ada saja yang bisa kuceriterakan, memori indah memang untuk diceriterakan, beberapanya mungkin telah dan akan aku ceriterakan disini, dalam bentuk cerpen mungkin, tulisan acak mungkin, dan mungkin menjadi suatu yang terdengar indah untuk dibaca, biarlah terbaca abstrak karena naskah aslinya biar si mpunya blog dan Tuhannya yang paling mengerti. Seperti bajay, yang hanya mpunya bajay dan Tuhan yang tau kemana dia berliku…

Memori indah juga tidak bisa menjadi sampah, se sumpah serampah apapun kamu sumpahi itu akan tetap indah, kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri, kadang aku juga bingung, betapa hobinya orang-orang itu membohongi dan menyiksa diri mengingkari yang baik itu, seperti aku bingung, mengapa pula aku melakukannya…

Jadi ceritera indah akan tetap indah, yang membuatnya tidak indah adalah sudut pandangnya, dan sedikit realita, realita bisa membungkam kenyataan dihati, paradox memang tapi itu yang terjadi. Ceritera indah memang indah, meski terpentok realistik yang membuat harus kau ingkari keindahan itu dan kau simpan sendiri dalam hati, tapi dia tetap indah tak teringkari.. Sehingga di dalam hati ini, aku buat ceritera indah ini berseri-seri dan aku tokoh utama yang selalu menang, dan mungkin kubawa dalam mimpi, dan aku menari berseri di sisi mimpi ini.

Ceritera memori Indah selalu indah, jangan diingkari…


dan akupun tertawa

05 Agu, 2009

aku membalas SMS-nya, dan menghiraukannya, karena tau pasti membutuhkan waktu untuk HP itu membunyikan nada dering yang berarti ada pesan masuk, kemudian aku tertawa.. menggila, bercanda, berkelakar, berkelakar seakan itu bukan aku, berkelakar berusaha melupakan siapa aku, apa bebanku, apa masalahku, apa pikiranku. tertawa menertawakan aku, aku dalam bentuk lain, aku dalam kata orang, kata orang yang yang mengatakan itu aku, aku yang terkadang tidak merasa seperti aku. kalo boleh bilang memang aku pegel dengan kebijaksanaan ini. aku sudah tidak bijaksana, persetan dengan bijaksana persetan dengan aku. aku tertawa, tertawa lepas, hal yang jarang aku lakukan. tertawa, tertawa, tertawa…

kemudian aku tersadar, ternyata hati juga bisa dibodohi, hati juga bisa bodoh, atau hatiku yang telah membodohi aku? ah, persetan…! aku tertawa, tertawa menggila, tertawa mengharap aku gila, namun ternyata aku mengharap aku waras… mengharap untuk tidak berharap lagi ternyata susah. seperti susahnya aku mengenali diriku, mengenali apa yang aku butuhkan. ah,,, persetan kataku lagi sembari tertawa.

mengenal diriku ternyata susah, seperti susahya apa maksud dari takdir dan siratan surat-Nya, terkadang lebih baik tidak meminta, karena aku jadi berharap, ah… harapan lagi pikirku, persetan dengan semuanya, aku sudah tidak perduli lagi, malam itu aku tidak perduli, tidak perduli semuanya, tidak perduli dengan diriku, tubuhpun ternyata bisa dibodohi, dibodohi seperti anak kecil yang dibego-begoin, tubuhku tidak sadar dia disakiti. diapun kadang tidak menolaknya, masa bodohlah dengan tubuhku, pikirku, aku tarik batang terakhir dalam pak itu, membakarnya dan menghisapnya, tubuhku merasakan nyaman meski sebenarnya dia disakiti… AHAHAHAHAHA.. tertawaku keluar lagi, tubuh bodoh! makiku… aku pun tidak perduli, men-tidak perdulikan lambungku yang mengemis protein pun ternyata mudah… pikiranku galau kataku, jiwaku lebih lapar dari kau hey lambung !, kataku. tembakaupun terisap, lambungku sejenak merasa nyaman, tubuh bodoh! makiku lagi… aku pun tertawa, tertawa mengharap bahagia

kemudian HP itu berbunyi, hati ini aku bungkam, aku sekap, aku sembunyikan, aku tidak akan membiarkannya bertindak lagi, cukup! kataku, kamu tidak berhak lagi bicara, sudah cukup kataku, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, apa yang kau butuhkan, aku tidak tau kamu membodohi aku atau aku yang membodohi kamu ujarku kepada hatiku. akupun membacanya dengan membacanya. jawaban yang terprediksi, diprediksi oleh otakku namun tidak diinginkan oleh hatiku, tapi, dia sudah aku sekap! jadi aman, kataku pada otakku! bacalah… aku membaca, dan tidak tau apa yang aku harus perbuat, apa yang harus aku katakan pada hatiku… ah, persetan dengan semuanya, semuanya bodoh dan bisa aku bodohi, meski aku tidak tau siapa membodohi siapa, aku tidak mau tau, akupun tidak tau lagi dan memilih untuk tertawa, tertawa mengharap bahagia..

aku balas pesan itu dengan singkat dan tidak tau lagi, karena semuanya aku tidak mau tau, aku tidak mau mengerti karena aku tidak mengerti dan aku tidak tau, jadi tidak susah, terasa gampang, terasa gamang namun,

ketidak mengertianku ini sungguh tidak dapat kumengerti, aku tidak mengerti sungguh, aku berharap untuk mengerti, meski disaat yang sama aku mengharap untuk tidak mengerti, mengharap untuk bodoh, Karena, itu jadi sakit ketika aku mengerti, sungguh aku merasa ingin bodoh dan tidak mengerti, karena dengan aku tidak mengerti maka aku tidak akan merasakan apa-apa… jika tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu susah, lebih baik aku bodoh saja dan tidak tau apa-apa, sehingga aku tidak akan apa-apa, dan aku bahagia, tawapun tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia.

Tuhan… kataku, aku kira aku cukup dulu, aku ingin istirahat sejenak, karena aku tidak mengerti, karena aku tidak tau… jika ini seninya mungkin aku menikmatinya, maka aku mencoba menikmatinya dengan tawa, tertawa mengharap bahagia, aku sudah cukup mencari tau dan mencari mengerti, aku pusing, aku punya banyak masalah Tuhan… aku pikir kau cukup tau semua itu, karena Engkau maha tau. maka untuk sementara, aku tidak mau tau dulu, aku tidak mau mengerti dulu, tiba-tiba aku merasa ingin bodoh, karena seperti kataku tadi, tidak mau tau dan tidak mau mengerti itu tidak gampang, lebih baik aku bodoh saja dan tidak merasa apa-apa.

HPku kembali berbunyi lagi, aku membacanya dengan hati tersekap seperti tadi, ah… kali ini kawan, kawan yang mengajakku ke suatu tempat untuk tertawa, meski itu kurang baik untuk hatiku, tapi bisa membuat aku tertawa, tertawa mengharap bahagia, seperti aku bilang, hati ini bisa dibodohi, dan dia sudah terbodohi kataku sembari meng-iya-kan ajakan kawan itu, paling tidak aku bisa tertawa lagi, tertawa mengharap bahagia..

aku ambil persedian silinder tembakau itu, rupanya benar yang mereka bilang, berjaga-jaga itu penting, aku merasakannya sekarang, aku menyimpan tembakau itu untuk saat-saat ini.. aku tarik satu batang tembakau itu dan berusaha membakarnya, tapi sial, korek terakhir telah dibawa kawan tempat aku tertawa barusan, dia sudah pulang… dan aku tidak mengerti bagaimana cara membakarnya, aku bingung, aku tidak tau, tapi kali ini aku tidak mau tidak tau, aku mau tau, aku mau mengerti bagaimana cara tembakau itu terbakar, seperti aku ingin hatiku terbakar hangus tak bersisa, aku tidak tau, aku sedang tidak bersahabat dengan hatiku, aku tidak bersahabat dengan semuanya pada akhirnya? mengapa? kamu tidak dengar kataku? aku tidak mau tau, tidak mau mengerti, atau aku ingin bodoh saja… hingga pada akhirnya aku menemukan kotak yang terdapat batang kayu berujung mesiu itu. kejadian yang cukup langka karena cukup susah mencari batang kayu berujung mesiu itu. itu pula lah yang membuat aku pada akhirnya tidak membakar tembakau itu dan tidak merusak tubuhku, tapi kali ini Tuhan berkehendak lain… dia berkehendak aku menemukan batang kayu berujung mesiu itu, aku mengambilnya, menyalakanya, membakar tembakau itu, dan kembali membodohi tubuh ini. toh dia tidak tau bahwa dia sedang dibodohi, mungkin badanku sudah tidak mau tau, dan tidak mau mengerti… tiba-tiba aku tertarik untuk belajar pada tubuhku, bagaimana caranya menjadi tidak mau tau dan tidak mau mengerti hai tubuh? dia tidak menjawab… mungkin karena dia bodoh… akupun tidak mau tau dan tidak mau perduli, aku menghisapnya saja tanpa pikir panjang…

seketika itu juga ketika aku sedang mencari tau, mencari mengerti, meski tidak aku mengerti, namun satu hal yang aku mengerti pada akhirnya,  aku mengerti tuhan masih sayang padaku, Dia membiarkan aku tertawa malam ini, Dia mengizinkan aku tertawa, tertawa mengharap bahagia. dan dia mengizinkan aku menghisap silinder tembakau ini dengan membiarkanku menemukan batang kayu berujung mesiu.

terimakasih Tuhan… aku tertawa malam ini


i have no reason to…

21 Nov, 2008

one day i found myself bewailing, mourning on myself, whined on me…

think of lotta thing, problem, debt, my personal problem. the “why” always haunted me, and i found a thousand reason to complaing, to whining, something to mourned to.

feeling guilty, feeling unlucky, feeling all my effort has nothing to worth…

then suddenlly, a beggar came to me, begging for my money, begging for my pittyness… feeling disturbed i spontaneously reject her, she walked away and begging for the same thing to people around me. just a second after it, regret come to me for rejected her, it made me think…

 

Hey Den…! man up!, look at you! look at yourself!, look what you wear?, what you just dine?, what you drive?, where your study? what is on your pocket? what is in your wallet? look what you achive?

you have income! you have mother who you complained to, you have father who you can asked to, you have brother where you can shared joy to, you can sleep well, life properly!

 

then i found myself in great thanked

coz i have no reason to complain, to whine, to bewailing…


sebuah catatan tentang dunia…

15 Nov, 2008

terkadang aku sukga berpikir… betapa tidak sempurnanya dunia ini, betapa tidak adil dunia ini, betapa tidak? beberapa bulan lalu aku tanpa sengaja menabrak sebuah alphard silver, aku lupa platnya apa, kalo tidak salah “H 7 xx” dan menghasilkan goresan ringan tidak lebih dari 5 centi, kemudian dia meghukumku dengan menyita sim dan suratku sampe sekarang dan masih belum jelas tujuannya, pada hari yang sama aku memperbaiki dinamo starter mobilku, sudah dibongkar dan sudah susah payah diliat sama tukangnya ternyata hanya kerusakan ringan dan tidak jadi direparasi, tukangnya hanya bilang “ya udah ga usah dibayar” betapa kontras antara si kaya yang tidak ikhlas dan si miskin yang berhati ikhlas…

beberapa hari yang lalu aku menemui orang yang mempunyai rezeki melimpah, if i can say dia beruntung, karena dia tidak kerja keras tapi sangat menghasilkan, perangainya kurang baik, dan cenderung menyia-nyiakan hidup… dan kemarin malam aku beli tella kress dan beli 2 porsi tela goreng franchise itu, karena aku orang yang  suka ngobrol maka aku ajak ngobrol bapak itu, sekilas aku lihat laci uangnya yang terlihat belum mencapai 100rb, padahal sudah jam 9 malam, aku tau banget lah pendapatan segitu cukup menyedihkan, apalagi untuk usaha seperti bapak itu, tapi aku bisa merasakan betapa sabar dan kuatnya niat bapak itu, sungguh kontras dengan cerita sebelumnya…

 

pernah aku diskusi sama seorang teman mengenai dunia, mengenai kita, mengenai semuanya, memang kalau ditelaah lagi, dunia itu sungguh adil, sungguh sempurna dan sungguh luar biasa, keadilan dunia ini justru karena ke-tidak adilannya, kesempurnaan dunia ini malahan ada di tidak sempurnanya, ke-luar biasaan dunia ini terdapat pada ke-kacauannnya… seperti lukisan abstrak yang indah karena ketidak indahannya seperti musik jazz yang teratur karena ketidak teraturannya.

semakin semangat aku mencari Tuhan, semakin semangat aku mempelajari tujuanNya, karena keberadaanNya seperti ketiadaanNya… 

 

tolong jangan ditelan mentah-mentah tentang tulisanku ini…


Seorang Dosen & Kelasnya, Seorang Teman, ibu & anaknya

22 Sep, 2008

pada sebuah kuliah di Kampus saya, seorang dosen mengatakan hal yang mungkin kerap diucapkan dosen-dosen berkapasitas standart lainnya, kira-kira seperti ini:

kelas ini payah! bagaimana sih? masa teori ini tidak ada yang mengerti?, bukankah saya sudah sering menjelaskan ke kalian semua? -seraya menyalahkan mahasiswa yang diajarkannya-

 

ada perkataan bijak begini:

“sebenarnya ketika kita menunjuk ke sesuatu, mungkin jari telunjuk mengarah kedepan, tapi lebih banyak jari yang menunjuk ke anda sendiri”

kira-kira tafsirannya adalah sebelum menunjuk ke sesuatu (blame & execuse) coba koreksi diri sendiri dulu, untuk kasus seorang dosen & kelasnya itu kira-kira siapa yang salah? mungkin bisa dibandingkan dengan cerita ini:

suatu hari ada teman mengeluh, dia merasa sering dijauhi sama orang dan menanyakan kepadaku, apa & siapa yang salah? lantas dijawab: “yang  tau cuman kamu, coba perhatikan, jika hanya 1-2 orang menjauhimu, biarkan saja dia, mungkin dia iri sama kamu, tapi jika banyak orang yang menjauhimu, kira-kira siapa yang salah? kamu apa mereka?” sebuah pertanyaan yang bisa dimengerti tanpa dijawab…

lantas siapa yang salah dalam cerita dosen dan kelasnya tersebut? kalau tidak ada satupun mahasiswanya yang mengerti, -semoga bukan excuse saya sebagai mahasiswa- mungkin cara mengajarnya yang kurang baik, atau komunikasi beliau kurang dapat diterima sama mahasiswa kebanyakan, atau frekuensi beliau terlalu tinggi untuk dicerna pemikiran mahasiswa, kalau begini siapa yang sebaiknya beradaptasi? seluruh kelas pada satu dosen? atau seorang dosen yang mengadaptasi kepada suatu kelas? seorang dosen bijak tentu bisa mengerti jalan terbaik.

 

jadi ingat iklan tentang percakapan seorang ibu dan anaknya yang baru pulang sekolah: 

si anak: mah, tau gak ma, di kelas ade ada anak yang nakal mah, masa dia tuh cerewet, udah gitu comel lagi mah, udah gitu dia sering nakalin temen cewe lagi mah, kan nakal ya mah, udah gitu dia tuh curang mah, trus dia kalo ngomong suka dilebih-lebihin, suka menceritakan kejelekan orang lagi mah, padahal kan ngomongin kejelekan orang lain itu dosa kan mah ya? kok ada sih ma orang kayak dia? gak tahan ade sama dia…

ibunya hanya tersenyum kecil dan menjawab: ada orang kayak gitu, ini dia orangnya “seraya memberikan cermin ke si anak”


otak atau hati?

11 Sep, 2008

suatu pagi habis bangun tidur saya langsung chek mail, yup! bukan mandi, bukan cuci muka bukan olah raga, tapi chek mail, saya membaca artikel dari sebuah institusi pengembangan SDM di Semarang, yang berjudul “hidup itu pilihan” kalau boleh jujur sih, isinya tidak cukup untuk me-motivasi saya, karena standart banget kata-katanya, oleh karena itu untuk kebaikan si institusi tersebut, namanya tidak akan saya sebutkan :-)

 

dalam artikel tersebut ada kata-kata seperi ini “dan TUHAN telah menyediakan alat yang paling dahsyat di dunia ini untuk mengubah dan membuat dunia lebih maju yaitu OTAK kita.” 

apakah anda setuju? tidak untuk saya, memang otak kita cukup dahsyat, dan otak memang bisa merubah dunia, tapi apakah membuat dunia ini lebih maju? tidak selalu…. otak itu belum tentu baik, semakin hebat otak belum tentu semakin bermanfaat, otak itu ibarat pisau, semakin di-asah semakin tajam, dan seperti pisau yang memiliki 2 sisi, pisau bisa dilakukan untuk kejahatan, melukai orang, membunuh orang, mengancam dan merampok, namun otak juga bisa dilakukan untuk kebaikan, memotong daging membuatkan masakan untuk orang berpuasa, memotong rerumputan liar yang mengganggu pemandanga, dan banyak kegiatan positif lain yang bisa dilakukan oleh sebuah pisau tajam. dan yang menentukan pisau itu akan dibawa ke arah positif dan negatif tergantung di pemilik pisau itu, karena pisau  itu adalah alat, tergantung siapa yang memegang pisau tersebut. 

otak memang cukup dahsyat, tapi tidak lebih dahsyat dari hati… semakin baik hati, maka  semakin dia bisa merubah sesuatu ke-arah yang positif. berbeda dengan otak, semakin baik hati, maka semakin bermanfaat segalanya..

jadi apakah benar otak adalah sesuatu yang mengubah dunia? benar! kataku…

tapi apakah perubahan itu kearah positif? belum tentu, kita lihat contoh orang dengan otak tajam luar biasa, yang mengubah dunia…. tapi kearah yang buruk, yaitu hitler, seorang pemipin jenius yang cerdas dalam berperang, dia berhasil meneror bumi ini beberapa saat, atau seorang yang tidak memiliki apa-apa yang luar biasa, melainkan kesederhanaan-nya yang luar biasa, namun juga merubah dunia… kali ini kearah yang positif… sebut saja, Muhhamad S.A.W, Mahatma Gandhi, Sidharta, hatinya melebihi otaknya…

 

kemudian saya kutip lagi satu statement dari artikel tersebut yang saya kurang setuju:

Memang sudah jelas setiap manusia yang dilahirkan dalam kondisi normal
(tidak mengalami gangguan/cacat otak) SEHARUSNYA hidupnya berpotensi
menjadi SUKSES, PANDAI, CERDAS, KAYA dan BERLIMPAH. Namun mengapa, masih
banyak yang GAGAL, MISKIN, BODOH dsb.

pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dengan jawaban: karena mereka hanya mengandalkan otak, bukan dengan hati yang baik, coba baca lagi statemen itu, yang dibahas hanya sukses, pandai, cerdas, kaya dan berlimpah, tidak dijelaskan bahagia, bijaksana, nyaman, dan tentram… 
hati itu luar biasa dahsyat teman… suatu hal pembeda antara kita binatang, jin dan malaikat, binatang juga punya otak kan? tapi kita punya hati, yang bisa membuat otak dangkal ini menjadi bermanfaat.
sekarang pilih, orang berhati baik ber-otak biasa, atau orang berhati biadab berotak jenius? yap! kalau ditangan orang berotak jenius dunia kita akan berubah, tapi menjadi suram dengan kebiadabannya
jadi pilih hati atau otak? kalau di masakan padang sih, kayaknya masih enak otak :-p
nb: pak Yance, mohon maaf kalau kebetulan membaca dan kurang setuju, apalagi saya kutip tanpa persetujuan anda, saya hanya berpendapat dari sudut pandang saya saja :-)

kisah cinta terhebat…

29 Agu, 2008

pada awalnya dia tak cintainya, faktor ke-kolotan budaya ini mungkin menyatukan…

tapi toh manusia adalah makhluk dengan cinta kasih, tidak pandang bulu, semua orang sejatinya saling mencintai, tidak seperti mereka yang terlalu menyempitkan arti cinta yang sejati, seakan cinta itu selalu berdua, selalu kata-kata manis, dan selalu manis…

ya… mungkin tidak semua orang menerima cinta dengan jalan ini. Cinta yang tidak berbunga… Tapi cinta itu tidak bisa egois kita menjalaninya, tidak bisa, “yak… aku cinta kamu!” dan dapatkan cinta. Ikhlas adalah caranya menerimanya… toh Tuhan mencintainya dengan memberikannya… karena mungkin jalan inilah yang diberikanNya terbaik untuknya..

dia terima dan di-jalani cinta ini dengan belajar, cinta adalah belajar, percuma mencari yang cocok, percuma mencari kesamaan, maupun perbedaan, “bumbu cinta” tetap akan ada, dan pelajaran cinta akan mengajarimu mencintai, jika kamu mau membuka mata dan belajar. Cinta adalah menghargai, menerima, mengerti, dan memahami… terkadang pengorbanan menjadi muaranya, letihkah dengan pengorbanan? Tidak berkorban berarti tidak bercinta, terserah orang lain mendefinisikan seperti apa, tapi baginya inilah cinta. Egoisme menjadi hambatan untuk belajar, menjadi tantangan, menjadi ancaman, mungkin menjadi akhir.

adakah batasan bagi cinta? cinta itu luas, terbentang luas bak samudra, mungkin lebih luas, bagaikan angkasa, tapi apalah kita selain segumpal daging, begitu rapuh tak berdaya, lebih rentan dari cawan tembikar, terkadang egoisme meraja, membutakan mata, menggoyahkan, hendak meruntuhkan… tapi ternyata dia lebih kuat dari yang aku bayangkan, setegar karang meski sejatinya selembut sutera, sabar menjadi pegangannya, mungkin benar ada yang berkata sabar itu tiada batasnya, tapi dia bukanlah dewa bukan pula malaikat, alasan manusiawi bisa dia gunakan tapi rupanya dia lebih dari manusia. Manusia dengan pengertian, pemahaman, kebijakan, ketulusan yang luar biasa yang pernah aku tatap mukanya, mungkin sampai aku menutup mata.

Jangan ditanya soal pengorbanan, dengan apapun mungkin tiada tertebus, meski akan mendapat ganjarannya, kesabaran pasti berbuah manis, mungkin nanti tidak sekarang, mungkin prosesnya itu akan terasa manis jika kita menikmatinya dengan cara lain. Dan pasti kelak “disana” mendapatkan ganjaran tak terbayangkan yang diluar bayangan manusia yang bisa diimpikan, hanya terima kasih bisa ku-ungkapkan.

Adakah alasan untuk mengakhiri cinta? Mungkin secara individu banyak alasan mengakhiri dan sedikit alasan mempertahankan, tapi mengapa kita tidak lebih fokus ke alasan yang sedikit? Seperti yang dijabarkan sebelumnya cinta itu luas dan umum, tolong jangan sempitkan artinya, terkadang cinta tidak selalu manis, bahkan tidak manis, mungkin kenikmatannya justeru ada di rasa pahitnya, selayaknya pencinta kopi menikmati kopi karena ia pahit. Dan ingat, cinta itu tidak melulu soal aku, soal kamu, tapi mereka, mungkin dia mencintainya karena mereka? Berkorban untuk mereka, terkadang kenikmatan cinta adalah aku sakit namun senang melihat mereka bahagia…

karena cinta itu tidak boleh egois mengenai perasaanku, tapi… perasaannya…. perasaan mereka … PerasaanNya, maka demikian karena berkorbanlah cinta itu ada. jika pengorbanan terasa pahit, disitulah terasa nikmat,

jika terluka?..  ikhlas menjadi elixir yang paling ampuh buatnya bertahan. Mungkin ini masih terasa sakit, namun akan seperti orgasme diakhir, terasa nikmat tak terbayangkan…

aku tau kau mencintainya dengan cara yang hebat,

itulah mengapa aku mencintamu..

sungguh aku menginginkan pendamping seperti dirimu

aku mencintai pengorbananmu

aku mencintai ketulusanmu,

berbuah manis padaku,

dan kemudiana aku mengerti mengapa Keyakinanku menyuruh menyebut sayangmu 3 kali baru dia

aku sayang ibu

aku sayang ibu

aku sayang ibu

aku sayang ayah

aku sayang adik-adikku

aku sayang kalian dan merindukan kalian..

doakan aku mendapaktan pendamping se luar biasa kamu hai ibunda…

aku menyayangimu….


84% perokok adalah warga miskin

21 Apr, 2008

menurut koran jawapos 21 April ini, dan menurut PDPERSI Indonesia disini 84% perokok adalah warga miskin.

kalau dalam artikel link diatas, mereka menjelaskan bahwa rakyat miskin adalah korban utama dari dunia perindustrian rokok, karena ternyata konsumen rokok itu di seluruh negara itu adalah warga miskin, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Amerika, Eropa dan yang paling parah di India, proporsi terbanyak perokok adalah orang miskin di Negara mereka.

oke sekarang coba kita lihat konsumsi rokok dan pengeluarannya. konsumsi saya merokok bulan lalu rata-ratanya mencapai 3/4 bungkus tiap harinya, atau setiap bulannya bisa mencapai 23 bungkus! bulan kemarin saya stress banget, lagi banyak pikiran dan pelariannya adalah rokok. rokok saya ganti-ganti, kebanyakan saya menghisap ClassMild, kadang A mild, harga satu bungkus ClassMild berkisar 8000-8500. berarti saya dalam satu bulan bisa menghabiskan sekitar Rp 185.000. menurut saya, saya bukanlah perokok yang berat-berat amat, masih banyak perokok yang bisa menghabiskan lebih banyak dari saya.

sekarang kita lihat, kebanyakan warga miskin menghisap rokok kretek yang bukan mild, dan itu harganya lebih mahal, contohnya aja Sampoerna Ji Sam Su bisa berharga 11.500 satu bungkusnya. jika disamakan dengan pola konsumsi rokok saya, maka dalam satu bulan bisa menghabisakan uang Rp 284.500!! bisa beli henpon seken, poliponik dan berwarna :-p. dengan begitu kita tau kan apa yang membuat mereka miskin, bukan karena pasar Industri Rokok adalah warga miskin, tapi mungkin karena orang yang merokok bakalan miskin!! HOHOHOHO “ketawa setan” apa mau jadi orang miskin? itu baru miskin karena belinya, kalo miskin karena kedokter, misalnya kaya si anton yang kena asma klepek-klepek ga jelas di TelogoRejo sewaktu LCP Election akhir maret lalu. emang mau rumahsakitnya dibayar pake daun tembakau?

ngomong2 soal jabaran saya diatas tadi itukan saya yang dulu, bulan lalu bener2 banyak pikiran banget, so ngerokoknya kenceng, padahal sebenernya ga ada hubungannya juga sih ngerokok dengan ketenangan pikiran, itu hanya justifikasi dan execuse perokok nakal seperti saya hehehe..

alhamdulilah akhir-akhir ini saya bisa mengerem sekali konsumsi rokok saya, sehari paling cuman 2-3 batang, which is saya bisa menghabiskan hanya 6 bungkus rokok sebuah effort yang sangat luarbiasa dari saya bulan ini. tidak lain adalah karena nasehat dan doa dari teman-teman yang ga pingin saya cepet mati. dan karena si pematah rokok… dan next target bulan depan ZERO SMOKE!!! KARENA SAYA GA MAU MISKIN!!! DAN SAYA GA MAU MATI MUDA, kalau nikah muda sih mau, hehehe!

lagipula merokok juga bisa ikut membantu pelubangan Ozon kan? global warming tuh!!! trus kalo ngerokok passive smokernya lebih parah kena dampaknya, perbuatan pribadi yang dampak buruknya menyebar keorang lain dan mengganggu kepentingan orang lain.

well kalo ga mau ngerokok karena ga perduli sama kesehatan dan keuangan kita at least cobalah tidak merokok karena orang lain, perduli dengan orang lain yang juga berhak menghirup udara bersih, yang berhak dihargai bahwa dia tidak merokok dan orang yang menyayangi anda dan tidak ingin anda mati muda.

Denny Sedang menasehati diri sendiri…


seperti sebuah logam…

20 Apr, 2008

saya adalah sebuah logam, tempalah saya dan saya akan semakin keras, tapi tetesiah saya dengan air dan saya akan karatan dan bolong, mungkin lama, tapi pasti…

suatu hari di kedai temanku -Apadoeloe- ada anak2 yang lagi ngobrolin masalah organisasi, apalagi kalau bukan AIESEC. brainstorm bareng karena pada nyari ilmu organisasi yang sedang melakukan proses suksesi waktu itu. berbicara dan berdiskusi masalah sistem yang ga sederhana di AIESEC bikin kepala tambah ribet. as usual take my cigar and incenerate is to take a single poison smoke deep into my lounge. sekejap si Nha protest dengan ketus, mas Denny ah! asepnya tuh mas! jangan ngerokok ah! to be honest i’m offense. it’s my typical, aku tetep aja ngerokok, protest kedua diteriakan dan aku tetep ga mau kalah, handphone berbunyi, aku langsung keluar ruangan sambil menerima telpon sambil menghabisakan sisa racun ini. seselesainya aku kembali ke ruangan kedai dan suasana jadi asing, hening… kayak ada perang dingin antara aku sama Nha… aku cuek aja, duduk bagian sofa, duduk disebelah Reni. ga lama pas lagi ngomongin AIESEC dia tiba-tiba memulai pembicaraan

Reni: kenapa sih lo ngerokok?

Denny: ya biasa lah ren, lagi sumpek aja, en biasanya aku ngerokok

Reni: lo tau kan itu bahaya, ga baik buat kesehatan, liat tuh bungkusnya *sembari mengambil bungkus rokokku*

Denny: iya sih ren, my bad habit, mau dirubah cuman susah ren, hehehe

Reni: trus mau sampe kapan? mau nunggu sampe mati? lu harusnya sadar pas kejadian bang Anton masuk rumah sakit gara-gara Asmanya kambuh.

Denny:……

Reni: apa sih untungnya mas? duit abis iya kalo cuman duit abis, kesehatan tambah parah, tambah parah, iya kalo selamat, kalo lu mati? trus kalo lu impoten gimana? kan kasihan sama calon istri lu?

Denny:….

Reni: lagian mas, kalo mau nyari penyakit jangan bawa-bawa orang lain dong. asepnya kan bikin orang lain juga kena penyakit mas. mas mau temen-temen mas cepet mati?

Denny: ya engga sih ren, maaf yah…….

Reni: kamu masih belum sadar mas, coba deh kamu lebih bersyukur, baru kemarin kamu SMS aku soal kebahagiaan dan rasa Syukur, kamu malah ga bersyukur sama diri kamu sendiri, kalau dikaruniai badan sehat itu bersyukur mas, baca lagi deh SMS yang kamu kirim.

Denny: iya sih ren, sebenernya aku ngeSMS nasehat itu buat aku juga kok, hehehe

Reni: lagipula mas, kamu ga sadar yah, ini ga juga buat kamu mas, buat orang-orang disekitar kamu, kita ga mau kamu cepet mati mas Denny. coba nanti kalo kamu udah berkeluarga trus sakit-sakitan gara-gara ngerokok, kan keluarga mas juga yang kasihan.

Denny:….

Reni: coba deh kamu sedikit berpikir dari sudut pandang lain, kamu ga ngerokok untuk orang lain, biar orang lain ga khawatir sama kamu, biar asap rokoknya ga ganggu orang lain.

Reni: kamu ga nyoba berhenti apa mas?

Denny: susah ren, faktor lingkungan juga ren, kalo temen ngerokok aku gatel juga pingin ngerokok. apalagi aku kerja di lingkungan hiburan yang orang-orangnya pada ngerokok semua.

Reni: siapa juga yang suruh lu ikut-ikutan ngerokok? bilang aja *maaf saya ga ngerokok*

Denny: ga gampang reni…

Reni: ah, itu kamu aja yang ga niat mas.. berapa kamu ngabisin rokok sehari?

Denny: bisa sebungkus ren…

Reni: wah, cepet mati lu mas… berapa harga sebungkus rokok?

Denny: 8000

Reni: kan sayang mas Denny duitnya…

Denny:….

Reni: Ya udah, ini terakhir yah, nanti ga usah beli-lagi, kalo mau berhenti sekarang mas, ga usah nanti

Denny:mmmmmmmmmmmmm…. ya deh ren.

Reni: kalo gitu semua rokok ini gue patahin

*reni mematahkan satu persatu rokokku yang masih baru tersebut… baru aku beli kemarin, jumlahnya masih utuh*

entah kenapa aku kalah begitu saja dengan compassion. kalau saya dikerasin saya  akan menjadi-jadi, tapi kalo saya dinasehatin pelan, tanpa menyinggung saya, ugh! I cant resist that…

di keluarga juga begitu, saya selalu berdebat dengan Ayah saya, tapi selalu Ibu saya yang bisa menyadarkan saya, tanpa perkataan keras, hanya segelintir pernyataan halus dan saya bisa menerimanya.

saya seperti logam, yang ditempa akan tambah keras, namun jika ditetesi air secara perlahan akan berlobang dan berkarat. cara mengalahkan saya adalah dengan mensadarkan saya dengan perkataan halus, bukan berdebat, bukan dengan kekerasan. saya akan menjadi dan akan membantah…