Pemikiran jangka pendek, budaya reaktif dan minimnya riset

21 Jun, 2008

pre-post: kemarin aku bersih-bersih laptop, ga karuan nih laptop, datanya berantakan banget, folder musik, foto, dokumen word, excel, ppt, rencana bisnis, tugas kuliah, file2 program bajakan, gambar2 bokep bagus, video2 bokep bagus. semuanya gue susun rapih, ada 3-4 jam aku  beres-beres file dilaptop ini. trus aku nemu satu folder yang berjudul “let’s write”, ini adalah folder yang dulu kusimpen yang isinya adalah tulisan2 artikel aku yang aku bikin waktu aku semester2 awal, kerjaan gak banyak akhirnya aku menuliskan pikiran2ku kedalam tulisan yang disimpan dalam .doc waktu itu aku bener2 pingin jadi kontributor majalah dan koran, tapi gak pernah  tembus kalo aku ngirim iya sih ngirimnya cuman 2-3 kali dah gitu nyerah. sampe sekarang sebenernya aku masih ingin bercita2 menulis buku suatu saat, well, ini adalah salah  satu tulisan aku yang aku kirim ke kompas 1 tahun lalu, sekitar awal mei 2007, tapi tulisan ini ditolak dengan alasan kurang tajam dan kurang bertopik. well ini aku post lagi tulisan yang mutu & bobotnya masih harus diperbaiki, have a nice read! :-)

Pemikiran jangka pendek, budaya reaktif dan minimnya riset

Oleh: Denny Eko Prasetyo

Mengapa bencana-bencana dan kejadian buruk kerap menimpa negara ini, parahnya kejadian yang bisa dicegah tak tercegahkan dan kejadian yang telah kita lalui kembali terjadi tanpa berbuntut solusi yang mengakhirinya. Apa yang salah dari semua ini? Apakah ligkungan? Kita selalu menyalahkan lingkungan sekitar kita, benarkah itu penyebabnya?

Sadar atau tidak negeri kita ini adalah negeri yang sangat reaktif, bukan pro-aktif. apabila negeri yang pro-aktif maka negeri tersebut akan bertindak, mengantisipasi jauh-jauh hari dan mencegah sesuatu yang buruk terjadi dengan riset, survey atau pengkajian dalam hal-hal yang dianggap krusial, dari sini penemuan (invention) biasa terjadi dari proses antisipasi ini, namun sayang sekali kita justru sebaliknya bertindak setelah terjadi sesuatu yang buruk. dan lucunya hanya beberapa saat setelah isu yang buruk tersebut terjadi dan berlalu kita biasa melupakannya, dan tidak lagi memperdulikannya, akibatnya bisa ditebak, negeri ini menjadi (apa yang kata pepatah bilang) lebih bodoh dari kedelai yang tidak masuk ke lobang yang sama dua kali, kita masuk ke beberapa lobang yang sama berkali-kali, bahkan kepada kejadian yang siklusnya bisa ditebak, yang rutin sekalipun.

Kesalahan yang rutin

Banyak sekali yang bisa dijadikan contoh dari ke-reaktifan kita ini, seperti kasus ketika bom bali meledak di pulau dewata dan menewaskan touris lokal dan internasional, kasus ini menggemparkan Indonesia bahkan dunia internasional, hingga pasukan anti teroris dari negara lain juga turun tangan dan pemerintah kita dibikin pusing akan kasus ini, namun setelah itu masih juga terjadi Bom bali 2 dengan modus yang hampir serupa dengan bom bali 1. kemudian kasus tsunami di aceh yang setelah itu pemerintah kita berkerjasama dengan negeri jepang untuk membangun pencegahan dan peringatan dini mengenai ancaman tsunami atau early warning system, dan lagi lagi terjadi tsunami-tsunami lain di berbagai kota. Sama halnya dengan kasus air bah tahunan di ibukota yang bersifat tahunan dan rutin, demikian, kerap saja terjadi Atau kasus IPDN yang beberapa tahun lalu mencuat kasusnya, dan kemudian hilang beberapa saat untuk kembali mencuat dalam kasus cliff mutu dan diakhiri dengan pemecatan rektornya, meski kita masih ragu apakah hal tersebut akan menghilangkann budaya kekerasan dalam lembaga pencetak para penegak dan abdi Negara itu. Dan bulan ini, bulan mei, kembali kita mengenang kasus mei 1998 lalu dimana reformasi terjadi di negeri ini yang menumbangkan rezim Soeharto. Dimana kasus pelanggaran berat terjadi 9 tahun lalu dan menewaskan beberapa mahasiswa yang dianggap pahlawan reformasi. Dan seperti biasanya, seperti tahun-tahun sebelumnya kita hanya mengenang, tanpa memikirkan solusi dan tindak lanjut dari kasus yang berumur 9 tahun ini, yang setiap bulan mei selalu kita kenang dan kita kenang, dan lucunya lagi, hanya ketika bulan mei saja kita kenang, tunggu saja beberapa bulan lagi dan kasus ini akan adem ayem lagi untuk (mungkin) kembali mencuat lagi pada mei 2008 dan seterusnya sampai kita bosan sendiri dan melupakannya.

Pemikiran jangka pendek

Disini kelihatan pola berpikir Negara ini yang cenderung pendek, tidak berorientasi jangka panjang dan cenderung reaktif pada masalah yang lagi tren untuk dilupakan ketika tren lain muncul dan praktis tren lama dilupakan baik itu menghasilkan sesuatu atau tidak, baik itu selesai atau tidak. Demikian ini adalah kesalahan mentalitas negara ini yang selalu berpikir jangka pendek tanpa memikirkan solusi jangka panjang,dan mengantisipasi masalah yang akan mencuat. jangankan mengantisipasi masalah yang tidak diketahui, menghadapi masalah yang nyata akan kita hadapi bahkan itu bersifat rutinitas saja kita tidak mampu!

Minimnya tingkat penemuan & riset

Dengan ketidak mampuan negara kita untuk mengahdapi masalah maka amat sangat wajar apabila tingkat penemuan di negara kita nyaris tidak ada. Untuk menjadi penemu sesuatu kita harus memulai berpikir pro-aktif, berpikir sebelum sesuatu terjadi, berpikir apa tren yang akan marak dan berpikir untuk menghadapi dan mencegahnya sebelum tren itu menghasilkan sesuatu yang buruk karena ketidaksiapan kita dalam mengahadapinya. Dan yang paling penting lagi adalah survey dan riset. Negara ini jarang sekali melakukan riset dan praktis kita tidak memiliki data-data yang mendukung untuk mengantisipasi hal buruk yang akan terjadi. Bahkan konon katanya, badan statistik negara amerika memiliki data Indonesia yang lebih lengkap dan spesifik daripada data pada badan statistik negara indonesia sendiri, wajar apabila amerika tahu apa yang kita mau dalam setiap produk yang mereka export ke negara kita. Padahal kegiatan riset adalah investasi yang berdampak jangka panjang dan sangat membantu kemajuan bangsa ini.

Pola pikir yang harus berubah

Selayaknya kita sadar akan kelemahan kita yang satu ini dan mulai bertindak setidaknya sedikit lebih pintar dari se-ekor keledai yang tidak masuk ke lobang yang sama untuk kedua kalinya. Mari kita mengkalkulasi berapa banyak dana yang bisa kita amankan dari kejadian buruk yang kerap menimpa kita apabila kita mampu mencegahnya. Dan menghitung berapa banyak kerugian materil dan imateril yang harus kita bayar dari semua kesalahan yang bisa dihindari dan diantisipasi. Dengan mengantisipasi masalah kita bisa berhemat banyak dan menghindari kerugian.

Yang paling utama dari kesemuanya adalah bagaimana kita membentuk pola masyarakat kita agar tidak berpikir dengan pola pikir jangka pendek serta reaktif dan mulai berorientasi jangka panjang dan proaktif. Semoga negara ini bisa lebih baik dan menghemat waktu, tenaga, pikiran, serta uang dengan tidak melakukan kesalahan yang sama dan bisa menyelesaikan masala sebelum masalah itu terjadi dengan mengantisipasinya.